Jujur Ayam Berkokok

Selalu menyentuh hati: karakter yang sewajarnya menghancurkan musuh, tetapi malah menyelamatkan musuh dari kehancurannya. Itulah wajah autentik Allah, yang maha pengasih lagi penyayang, yang maharahim. Wajah itu jugalah yang ditampakkan oleh si guru dari Nazareth dalam drama perjamuan terakhir pada teks bacaan hari ini.

Sebetulnya sebagai seorang guru ia punya hak untuk mengeliminasi murid-muridnya karena mereka tak sanggup bahkan sekadar untuk memahami lifestyle sang guru. Betapa sabarnya guru ini, sampai di penghujung hidupnya pun ia tak memecat mereka. Kenapa ya? Entahlah, mungkin daripada gada yang lain alias tiada rotan akar pun jadi. Akan tetapi, kalau diperhatikan konteks luas dari bacaan hari ini, tampaknya karena si guru ini menempatkan murid-muridnya sebagai sahabatnya sendiri.

Dalam persahabatan, sikap dasarnya bukan win-loselu-win gua-lus atau gua-win lu-lus apalagi lugua-lus atau gualu-lus. Seperti kemarin, ini soal tindakan komunikatif, dan tindakan komunikatif membawa setiap pihak mengenal atau memahami dirinya lebih baik lagi. Singkatnya, sang guru ini hendak mengajak murid-muridnya untuk menyelisik atau menerawang diri masing-masing secara apa adanya. Siapa murid yang hendak diselamatkan si guru hari ini?

Yudas Iskariot dan Petrus. Lha kenapa mereka emangnya? Yudas ada dalam kondisi ‘delirium’, mboh gimana menerjemahkannya. Semacam kegalauan tingkat dewa (atau dewi) yang bikin au’ah gelap [ini zaman now, Mo, kok masih pakai idiom zaman F4?] dan orang tak bisa lagi mengambil keputusan secara cermat.
Petrus ada dalam status diri arogan, mungkin karena dia ditunjuk sebagai pemimpin, jadi besar kepala merasa lebih baik dari murid lainnya. Padahal janjané ya sama bego’nya. 

Bagaimana si guru hendak menyelamatkan mereka berdua ini? Dengan melarang ini itu atau menyuruh begitu begini? Sama sekali tidak! Loh, Mo, kan dia mengatakan kepada Yudas,”Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera!” Bukankah itu berarti perintah? Betul itu kalimat perintah, tetapi ia tidak menyuruhnya berbuat ABCDE. Ia cuma memberi keterangan ‘segera’. Artinya, kalau sesuatu itu memang pantas dikerjakan, itu berarti perlu segera dikerjakan, jangan berlambat-lambat atau menunda-nunda. Istilah kerennya: procrastination.

Kalau begitu, keputusan ada di tangan Yudas. Gurunya cuma mengajak supaya Yudas melihat betul-betul apakah planningnya itu sudah masak, sudah memperhitungkan sebanyak mungkin faktor, dan sebagainya. Kalau memang sudah mantap bahwa memang itulah hal terpenting dan terbaik, just do it now!
Sama halnya kepada Petrus, si guru mengajaknya untuk tidak overestimate terhadap diri sendiri. Ini bukan soal ramal meramal bahwa kelak Petrus akan berkhianat sebelum ayam berkokok dua kali, melainkan soal melihat diri secara rendah hati (bdk. pedoman kalau orang mengalami konsolasi). 

Jadi, guru itu mengajak kedua muridnya untuk menyelisik diri secara rendah hati, meninjau conditionings maupun positionings yang lebih mengantar mereka pada kebahagiaan sesungguhnya. Apakah tindak penyelamatan si guru ini sukses? Tampaknya tidak; makanya saya juga heran kok banyak sticker mengatakan guru ini adalah the saviour, hahaha. Selamat atau tidak akhirnya bergantung pada bagaimana murid-murid itu menentukan pilihannya, klop dengan kehendak-Nya atau enggak.

Tuhan, mohon keberanian untuk jujur pada diri kami sendiri. Amin.


HARI SELASA DALAM PEKAN SUCI
27 Maret 2018

Yes 49,1-6
Yoh 13,21-33.36-38

Posting 2017: Sportivitas Kerohanian
Posting 2016: Teman Tapi Menelikung
 

Posting 2015: Faith: Personal, Not Private

Posting 2014: The Way Of The Wisdom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s