Sportivitas Kerohanian

Saya bukan penggemar F1 atau MotoGP, tetapi saya punya simpati terhadap Vettel (mungkin karena Jermannya) atau Rossi (mungkin karena Italianya). Kalau Vettel tercecer jauh dari persaingan, malaslah saya nonton F1; begitu juga kalau Rossi crash dalam balapan, saya memilih mengerjakan hal lain daripada menonton MotoGP sampai selesai. Apa yang dibuat Vettel dan Rossi memberi saya alasan untuk menonton balapan, sejauh tak bertabrakan dengan kebutuhan lain yang saya anggap lebih penting.

Yang membuat saya bersimpati kepada mereka ialah bagaimana mereka bertarung dalam balapan dan bagaimana mereka memelihara sportivitas. Saya tidak mengatakan bahwa Hamilton atau Vinales (atau Marc Marquez) tidak sportif, tetapi saya memang menaruh simpati pada sportivitas yang dibangun Rossi dan Vettel, sekurang-kurangnya sampai balapan terakhir lalu. Di lapangan mereka bertarung keras tetapi nuansa pertarungan itu tak mereka bawa dalam relasi pribadi dan pertemanan mereka di luar lapangan balap itu saya lihat tulus. Ketulusan itu sangat simpatik.

Saya agak kesulitan mentransfer ketulusan sportivitas itu dalam ranah politik. Bayangkanlah paslon cagub-cawagub bertarung mati-matian untuk memperebutkan jabatan gubernur dan wakil gubernur. Di mana ranah pertarungan mereka? Pasti bukan di lapangan balap atau di atas papan catur! Dalam ranah politik, apa-apa saja bisa jadi ajang pertarungan, termasuk acara debat atau, yang lebih lunak, talk show di studio dengan undangan 5 orang atau 100 orang. Di situ, ketulusan sportivitas tak menjamin oase, dan senyum atau mulut muanies bisa jadi kamuflase.

Bacaan hari ini juga menyinggung suatu sportivitas yang disodorkan Yesus kepada murid-muridnya. Baik Yudas Iskariot maupun Petrus adalah representasi karakter yang mengkhianati kepercayaan guru mereka. Kepada Yudas ia tegaskan,”Jangan tunda-tunda, lakukanlah pilihan sikapmu yang kamu niati itu, supaya juga jelas jati dirimu, tidak sluman-slumun-slamet, tidak berkamuflase untuk kepentingan egoistikmu!” Yudas, sebagaimana semua orang, ditantang untuk menentukan sikap di hadapan Tuhan: serius konsisten bersekutu dengan Tuhan atau atas nama kebebasan mengenyahkan-Nya dari hidup ini.

Kepada Petrus yang lebay hendak memberikan nyawanya, ‘Yesus menyitir’ pesan pelatih badminton kepada pasangan ganda putra Kevin/Marcus: jangan terlalu PD. Berani kamu disiram air keras? Berani kamu digantung terbalik dengan sayatan kecil di bawah telinga ala film Silence? Tegarkah kamu diracun arsenik di pesawat dan kamu tak pernah tiba di kota tujuanmu? Yesus mengundang Petrus untuk mengenali dirinya baik-baik dan sadar akan potensinya untuk bermulut muanies.

Sportivitas kerohanian hanya mungkin dibangun jika orang jujur pada dirinya sendiri [lha emangnya mau jujur kepada siapa lagi?]. Celakanya, orang yang sportif dalam pergumulan rohani tak akan menomorsatukan kemauan atau bahkan pikirannya sendiri, apalagi membawa golok-samurai-pedang membawa-bawa nama Allah. Orang yang punya sportivitas kerohanian ini tentu tidak menyangkal Tuhan, tetapi menyangkal bagian dari dirinya sendiri yang menjauhkannya dari rengkuhan Allah. Orang seperti ini, pun jika masuk dalam ranah politik, tampil apa adanya bagi kemanusiaan, entah dalam kampanye atau di luar kampanye, entah dalam studio atau di luar studio.

Ya Allah, mohon rahmat-Mu supaya kami mampu mengenali diri kami sendiri dan mengambil bagian dalam misi kemanusiaan-Mu. Amin.


HARI SELASA DALAM PEKAN SUCI
11 April 2017

Yes 49,1-6
Yoh 13,21-33.36-38

Posting 2016: Teman Tapi Menelikung 
Posting 2015: Faith: Personal, Not Private

Posting 2014: The Way Of The Wisdom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s