Pidato Remember

Kemarin saya melihat klip wawancara mahasiswa dan berita lucu eksmahasiswa yang terhubung dengan kata remember. Saya coba cek lagi pada kamus dan kata remember itu memang kata kerja, tetapi mahasiswa itu memakainya sebagai kata benda. Tak sampai hati saya untuk mengunggah klip itu di sini meskipun benar-benar lucu. Ia menjelaskan bahwa aksi demo mahasiswa sekarang dilakukan untuk memberikan remember kepada pemerintah bahwa yang dibuat pemerintah itu banyak yang tidak fundamental sifatnya. Aih aih, ya kalau remember kamu samakan dengan warning, itu namanya secara fundamental kamu belum becus berbahasa, Nak. Itu malah jadi warning bahwa kamu perlu belajar lebih baik lagi supaya kelak bisa memberikan remember kepada pemerintah #eh….

Belajarlah sekurang-kurangnya dari eksmahasiswa yang pernah jadi presiden di negeri ini dan memakai kata remember secara tepat. Oh, saya salah, dia tidak memakai kata remember, dia pakai kata ingat atau mengingat. Begini sebuah situs menulis ungkapannya: Alhamdulillah, rakyat ingat yang saya lakukan 10 tahun. Tertawalah saya membacanya karena saya teringat pada kata-kata guru zaman old tentang menyembunyikan amalan: ibarat tangan kiri tak mengetahui apa yang dibuat tangan kanan. Eksmahasiswa ini memakai kata remember dan yang jadi objek ingatan itu adalah dirinya sendiri, aih aih. Btw, saya juga ingat loh, Pak, saya dulu dapat visa ke Eropa pada saat Bapak jadi presiden. Tengkyu ya.

Saya lebih tertarik mengingat kisah dalam teks bacaan hari ini supaya bisa jadi warning sekurang-kurangnya bagi saya sendiri. Kisahnya melibatkan dua rombongan orang yang bertemu di dekat gerbang kota. Yang satu rombongan orang berduka. Yang lainnya rombongan orang yang mengikuti guru dari Nazareth. Perjumpaan rombongan duka dengan guru dari Nazareth itu mengubah alur cerita. Yang tadinya mau ke pemakaman dan harapan hilang (karena sang janda kehilangan satu-satunya tumpuan hidupnya) lalu malah memuliakan Tuhan yang mengembalikan harapan kepada janda itu.

Lha ini pertanyaan untuk renungannya, terutama untuk para mahasiswa seperti saya ini: bagaimana kita bisa mengubah alur cerita yang lebih memberikan harapan daripada kematian? Narasi apakah yang kita bagikan dengan hidup kita: narasi kematian atau narasi harapan? Kalau Anda melihat klip video mahasiswa dan eksmahasiswa remember tadi, itu adalah contoh narasi kematian: orang tidak move on dan tidak bisa jernih melihat dunia. Orang yang tak bisa jernih melihat dunia akan menjadikan diri sendiri sebagai titik referensi sehingga apa saja di sekelilingnya mesti diukur dengan idealisme atau capaiannya sendiri (yang mungkin juga cuman gitu-gitu doang sih).

Tuhan, mohon rahmat supaya kami mampu menaruh harapan pada kemuliaan-Mu semata. Amin.


SELASA BIASA XXIV B/2
18 September 2018

1Kor 12,12-14.27-31
Luk 7,11-17

Selasa Biasa XXIV A/1 2017: Pemimpin Transformer
Selasa Biasa XXIV C/2 2016: Allah Absurd
Selasa Biasa XXIV A/2 2014: Mendua Hati Bikin Galau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s