Gereja Baper

Tahukah Anda bahwa baper bisa merusak tatanan agama? Ntar saya kasih tau, tapi sekarang lihat saja dulu teks hari ini yang mengindikasikan bahwa Yesus dari Nazareth itu peminum dan pemabuk. Ini kutub lain dari Yohanes Pembaptis yang diindikasikan sebagai orang kerasukan setan, vegetarian yang hidup sangat asketis. Vegetarian kok dibilang dalam Kitab Suci makanannya belalang ya? Maklum, pada teks Yunaninya disebutkan ἀκρίδες (akrides, Mat 3,4), bahasa Inggrisnya locusts, jadilah belalang, meskipun ada locusts yang tumbuhan. Konon seperti ini tumbuhannya:

Kembali ke topik: siapakah yang baper dalam teks hari ini? Yaitu generasi yang memberi label peminum-pemabuk dan kerasukan-setan tadi. Siapa generasi itu? Generasi itu adalah kita.

Mari lihat kompleksitas baper itu dengan menyelisik mekanisme internal diri sendiri. Contoh: saya tidak suka aroma amis (seafood). Kalau di depan saya tersaji seafood, apalagi bau amis, saya menghindarinya, tetapi apa yang keluar dari mulut saya? “Takut kolesterol naik.” “Trauma duri.” Ungkapan-ungkapan itu, meskipun tak sepenuhnya benar, bukanlah kebohongan, melainkan representasi penutup rasa tidak suka saya. Sebetulnya lebih gampang mengatakan,”Saya gak suka karena bau amis.” Akan tetapi, orang yang gak suka bisa saja melontarkan gagasan lain, bahkan mungkin yang tidak benar. Bisa saja diperkuat dengan catatan kaki dan bibliografi, tetapi bagaimana gagasan itu muncul sebetulnya ya cuma dari perasaan gak suka. Dengan kata lain, begitulah baper, argumentasi cuma mengikuti rasa suka atau tak suka.

Kalau pokok persoalannya cuma makanan, warna, hobi dan sejenisnya tentu tak ada problem besar. Akan tetapi, persoalan teks hari ini bukanlah sekadar makanan minuman. Ini baper kelas kakap, soal pandangan hidup dan sejak zaman baheula senantiasa ada orang-orang baperan begini: konservatif vs progresif, kiri vs kanan. Yang dibuat guru dari Nazareth itu sebetulnya ‘hanya’ untuk mengembalikan martabat kemanusiaan, tetapi ditentanglah ia oleh kelompok konservatif, tetapi juga disangkal oleh kelompok progresif yang punya agenda lain. Saya tidak hendak bicara mengenai agama atau Gereja lain, tetapi dalam Gereja Katolik, nuansa baperan itu sekarang mulai kelihatan lebih terang. Penglihatan saya muncul dari berita mengenai tuntutan seorang uskup kepada Paus Fransiskus untuk mengundurkan diri. Analisisnya, yang saya cenderung klop, ada pada tautan ini.

Saya percaya Paus ini punya desire untuk meneladan guru dari Nazareth mengembalikan martabat kemanusiaan, tetapi keterbukaannya terhadap mereka yang terlibat dalam isu sensitif (LGBT, aborsi, perceraian, mungkin liturgi, eaaa), tanpa ampun, mendapat sergapan dari kelompok konservatif yang tak suka orang lain berbeda dari idealisme mereka. Saya belajar dari kalimat penutup artikel tadi: The problem is a few of the people accused might think that the safest thing is to start talking about other people and that is when the whole house of cards is going to collapse. Memang, talking about itu lebih mudah daripada talking with. Barangkali itulah yang dibuat oleh generasi baperan.

Tuhan, mohon rahmat kerendahhatian untuk menjumpai-Mu juga dengan cinta kepada mereka yang berbeda dari idealisme kami. Amin.


RABU BIASA XXIV B/2
19 September 2018

1Kor 12,31;13,1-13
Luk 7,31-35

Rabu Biasa XXIV A/1 2017: Juara Komen
Rabu Biasa XXIV B/1 2015: Generasi Korup
Rabu Biasa XXIV A/2 2014: Waton Suloyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s