Lagi2 Ampun Bang

Narasi hari ini bisa jadi contoh ungkapan Jawa menang tanpò ngasòraké (menang tanpa merendahkan) alias win-win solution. Narasi lengkapnya silakan baca sendiri, tetapi perhatian saya letakkan pada Simon, orang Farisi yang bergumam dalam hatinya bahwa kalau Guru dari Nazareth itu nabi, pasti dia tahu perempuan macam apa yang datang menjamahnya. Menurut teks, itu perempuan yang terkenal sebagai pendosa. Problemnya, kenapa kok Guru membiarkan dirinya dijamah pendosa, bukankah itu menajiskan dirinya sendiri? Tidak tahukah dia bahwa perempuan itu najis? Kalau begitu, Guru ini bukan nabi!

Sang Guru tidak berpikir sesempit Simon, orang Farisi itu, tetapi ia tidak begitu saja mengatakan bahwa Simon ini picik. Dia memanfaatkan cara berpikir Simon dengan pertanyaan,”Kalau dua orang punya hutang dan keduanya dibebaskan hutangnya, siapakah yang akan lebih mengasihi pembebas hutang itu, yang berhutang 500 atau 50?” (Kalau saya ditanyai begitu sih, saya tanya balik,”Yang hutang 500 dan 50 itu gajinya masing-masing berapa dulu?”) Tentu yang berhutang 500 atau pokoknya yang rasio hutangnya jauh lebih besar dari kemampuan membayarnya. Si Guru memakai paralel pemikiran begitu. Kalau dua pendosa sama-sama diampuni atau dibebaskan dosanya, manakah yang lebih mengasihi pembebas dosa itu? Tentu dia yang merasa dosanya begitu banyak.

Nah, karena perempuan ini menunjukkan ekspresi kasihnya lebih heboh kepada Sang Guru, itu artinya dia merasa dosanya begitu banyak dan implisit menganggap bahwa Sang Guru ini adalah pribadi yang mengampuninya. Apakah Sang Guru ini memang pribadi yang mengampuni perempuan itu? Lha memang salah apa dia terhadap Sang Guru? Teksnya tidak omong soal itu, tetapi justru menjelaskan bahwa Sang Guru menunjukkan kepada Simon bahwa perempuan itu tentu dosanya sudah diampuni karena ia begitu banyak berbuat kasih. Jadi, pengampunan datang sebelum perempuan itu membasuh kaki dan seterusnya.

Maka, sebetulnya orang-orang Farisi di sekeliling Simon itu keliru menyimpulkan ketika Sang Guru melontarkan kalimat afirmasi,”Dosamu telah diampuni.” Mereka pikir Sang Guru ini mengampuni dosa seakan-akan dia Allah. Padahal, Sang Guru tidak mengatakan,”Dosamu kuampuni.” Pernyataannya kepada perempuan itu hanyalah transfer wacana dengan Simon bahwa dosa perempuan itu sudah diampuni karena ia banyak berbuat kasih. Begitu jugalah yang diyakini saudara-saudari Muslim. Bagaimana orang tahu bahwa dosanya sudah diampuni? Kalau dia konsolasi dengan istigfar dan tobatnya (dan tentu maksudnya juga hidup sinkron dengan istigfar dan tobatnya). Itu indikasi kuat bahwa dosa orang diampuni. Tak mengherankan, Guru dari Nazareth mengafirmasi tindakan kasih perempuan itu sebagai salah satu bentuk tobat dan istigfar, dan itu berarti dosanya diampuni.

Selain itu, bukankah Anda pun bisa mengatakan “Dosamu telah diampuni” kepada orang lain? Bisa. Cuma, apakah pernyataan itu bermakna atau tidak, bergantung pada pengalaman eksistensial pendosanya sendiri: istigfar dan tobat serta berbuat kasih atau tidak. Kalau tidak, pengampunan itu juga tidak efektif (itu mengapa dalam tradisi Katolik, absolusi tidak diberikan imam jika umat tidak menyatakan tobat dan istigfarnya). Apa yang bikin efektif? Itulah yang dikatakan Sang Guru selanjutnya,”Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan Slamet #ehselamat.”

Tuhan, tambahkanlah iman dan harapan kami dan darinya cinta kami kepada-Mu semakin berkobar-kobar. Amin.


KAMIS BIASA XXIV B/2
Peringatan Wajib Para Martir S. Andreas Kim Taegòn dkk
20 September 2018

1Kor 15,1-11
Luk 7,36-50

Kamis Biasa XXIV A/2 2014: Am I Really A Sinner?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s