Muda-Mudi Zaman Now

Muda-mudi zaman sekarang, pergaulan bebas nian. Tiada lagi orang yang melarang. Tapi sayang, banyak salah jalan.
Silakan nyanyikan sendiri ya. Hanjuk ngòpò jé baca teks Kitab Suci kok malah nongol lagu Young Boys & Girls? Entahlah, tapi saya kira karena teks hari ini omong soal pemuda yang kerjaannya jadi pemungut pajak. Ini profesi yang dibenci rakyat jajahan karena mereka berfoya-foya di atas penderitaan orang banyak. Njuk apa hubungannya dengan lagu itu? Ya kosék tòòò, sabar.

Sosok Matius dalam teks hari ini identik dengan uang dan kuasa. Orang-orang seperti ini, sayangnya, justru beranggapan bahwa di pihak seberangnya ada respek dan keseganan: mengira bahwa uang dan kuasa bisa bikin orang segan, takut, respek kepadanya. Orang begini ini, saya kira, tak akan sekali-sekali berpikir mengenai keselamatan karena baginya hidup ya soal uang dan kuasa. Artinya, keselamatan itu soal duit dan kekuasaan. Orang-orang begini ini tak berpikir mengenai keselamatan yang sesungguhnya, dan memang dia tak layak mendapatkannya. Ini bukan penghakiman bahwa pemungut pajak tak layak mendapat keselamatan sejati, melainkan bahwa kalau orang tak punya ketertarikan sedikit pun mengenai keselamatan itu, dia tak akan sampai pada keselamatan sejati.

Haiya, Mò, njuk apa hubungannya dengan lagu tadi?
Oooo, dhak idak-idak kowé!
Pasca 1998, negeri ini punya ruang kebebasan yang mengerikan sehingga hak berpendapat bisa saja dieksploitasi oleh kaum otak mampat dan pasal 33 UUD ’45 cuma jadi jargon karena orang-orang yang punya akses politik itu bermental seperti Matius tadi: duit dan kuasa (termasuk label agama pun dieksploitasi). Banyak salah jalan.

Dari mana tahunya bahwa banyak salah jalan? (Dah dibilang dari Sumedang juga gak percaya.) Sederhana sekali: tinggal lihat selesainya proyek infrastruktur dalam periode beberapa tahun ini dan membandingkannya dengan puluhan tahun sebelumnya. Belum lagi, kalau kasus korupsi yang dulu-dulu bisa dikuak, jelaslah bahwa reformasi 1998 membuka ruang bagi mereka yang salah jalan, mengeruk keuntungan di atas aneka kesulitan sistemik yang mengorbankan rakyat yang tak punya akses pada uang dan kuasa. Pada lari ke mana itu duit pembangunan?

Orang-orang yang salah jalan ini benar-benar tak pantas mendapat keselamatan sejati, bukan karena sebagai pribadi manusia tak layak, melainkan karena pilihan-pilihan yang diambilnya sendiri. Matius, meskipun tak layak, akhirnya diraih bintang. Cuma, mohon ingat, kalimat pasif ini tidak sepasif kenyataannya. Kalau omong sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan, tak perlu terjebak pada tata bahasa atau linguistik. Dipanggil Tuhan rupanya adalah soal aktif: Matius membiarkan diri dipanggil Tuhan. Dalam beberapa kasus memang begitu. Orang yang dipanggil Tuhan itu sungguh meninggal setelah ia pasrah, dan tidak terus ngotot dengan proyek idealisme hidupnya.

Siapakah Matius? Anda dan saya. Dalam diri kita masih ada kompromi karena kuasa dan uang, dan cara kita mendekati Allah itu laksana orang bermain kucing-kucingan dengan pajak: semakin kecil omzet yang dilaporkan, semakin kecil pula pajak yang mesti dibayarkan.
Semakin orang beriman, semakin ia sangggup declare apa adanya dan menaruh segala risiko pada Pribadi yang diimaninya: Allah Yang Mahakuasa.

Tuhan, mohon kekuatan untuk senantiasa jujur pada-Mu. Amin.


PESTA S. MATIUS (PENGINJIL)
(Jumat Biasa XXIV B/2)
21 September 2018

Ef 4,1-7.11-13
Mat 9,9-13

Posting 2017: dr. Gusti Allah, Sp.AS
Posting 2016: Teologi Angkat Pantat

Posting 2015: Pendosa tapi Dipanggil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s