Robek KTP Bendera Tercecer

Kalau natalan itu soal lampu gemerlap dan hiasan warna-warni dan lagu gembira-gembiri serta kemeriahan dansa-dansi, mungkin manajer diskotik atau staf pusat perbelanjaan lebih piawai menghayatinya. Akan tetapi, kalau natalan itu soal kelahiran manusia baru, bahkan orang Katolik/Kristen pun belum tentu bisa menghidupinya. Boro-boro menghidupi, mengetahuinya pun tidak.

Konon Abraham Maslow (bukan masbrow atau mashigh) punya tesis bahwa kebutuhan berhirarki tinggi (harga diri dan aktualisasi diri, misalnya) tidak dapat terwujud sebelum kebutuhan berhirarki rendah (fisik, keamanan, sense of belonging) terpuaskan. Jadi, misalnya ada orang yang belum merasa aman dengan propertinya dan merasa belum yakin diterima dalam semesta hidupnya, ia juga tak akan merasa punya harga diri dan aktualisasi dirinya hanyalah sandiwara. Anda tahu kan kasus KTP yang tercecer dan bendera yang dirobek?
Saya bukan pengamat politik, tetapi jelek-jelek gini saya juga punya perasaan. Aneh aja ribuan KTP tercecer di keramaian. Kalau itu KTP bekas, bukankah seharusnya dihancurkan, dan kalau tercecernya dalam perjalanan ke tempat penghancuran, bukankah oknum pelakunya bisa dilacak? Juga bendera partai yang dirobek, mengapa juga dikomentari bahwa pembesar partainya bukan kompetitor Jokowi dan pemimpin yang baik harusnya menghargai pemimpin lainnya? Memangnya sudah jelas bahwa pelaku perobekan benderanya itu orangnya Jokowi? Kalau iya pun, masih perlu digali akar persoalannya, bukan malah menginsinuasikan dekadensi kepemimpinan atau masyarakat.
Sungguh aneh, tapi nalarnya sudah dijelaskan tesis Abraham Maslow tadi: selama belum terpuaskan kebutuhan berhirarki rendah itu, harga diri dan aktualisasi diri orang takkan terwujud (berlaku untuk Jokowi maupun bukan Jokowi).

Pada posting minggu lalu (Tobat Jadi Presiden) sudah diwartakan dorongan pertobatan sebagai upaya untuk membalik prioritas nilai utama, dari yang tribal menjadi universal. Pertobatan di situ merujuk pada sikap mental yang disetir nalar. Pada teks hari ini Yohanes Pembaptis menjelaskan bagaimana buah-buah pembalikan prioritas nilai itu dalam hidup autentik seseorang. Ada tiga kelompok orang yang datang kepadanya menanyakan apa yang harus mereka lakukan untuk bertobat (orang biasa, pemungut cukai, tentara). Wujudnya beda, tetapi prinsipnya sama: tatalah hidupmu supaya tidak jadi gelojoh dominasi kekuasaan. Jangan mentang-mentang mampu, lantas kemampuan itu disalahgunakan untuk unjuk dominasi dan mempermainkan keadilan: main intimidasi, mengancam, playing victim, dan sebagainya.

Pertobatan macam begini sudah dengan sendirinya membalik plot KTP tercecer dan robeknya bendera partai. Bahkan, lebih dari itu, pertobatan merobek tesis Abraham Maslow dan membuat hati orang bisa tercecer-cecer karena orang tak bisa lagi merasa ayêm dengan apa yang sudah biasa dijalankannya. Pertobatan justru mewaspadai bahwa apa yang selama ini dianggap baik-baik saja, jangan-jangan merupakan bagian dari konspirasi roh ja’at supaya yang tidak baik itu lama-lama dianggap baik sehingga orang tak lagi mampu melihat kebaikan sesungguhnya. Pertobatan mengundang orang untuk melihat kalau-kalau ada gaya hidup yang jebulnya abai terhadap hal yang sesungguhnya bisa dibuat demi perwujudan keadilan sosial. Orang tahu mana yang baik, tetapi memilih tidak melakukannya: sin of omission.

Tanpa pertobatan macam itu, natalan bagi orang Kristiani adalah hoaks dan dengan pertobatan begitu, natalan tidak eksklusif perayaan Kristiani. Semua orang bisa saja menyambut kelahiran Allah dalam batinnya.
Tuhan, mohon rahmat pertobatan.
Amin.


HARI MINGGU ADVEN III C/1
16 Desember 2018

Zef 3,14-18a
Flp 4,4-7
Luk 3,10-18

Posting 2015: Jadi Aku Mesti Gimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s