Tumbangnya Nalar

Apa jadinya hidup manusia jika Allah tak lagi mengenali hati orang dan cuma bisa mengidentifikasi orang dari tampilannya?
Seorang wanita paruh baya [dulu saya bayangkan perempuan memakai kebaya separuh, piyé kuwi 😂] mendapatkan penampakan seorang malaikat [loh malaikat apa orang sih?] di rumah sakit saat menjalani operasi jantung. Dia bertanya pada utusan Allah itu,”Apakah aku akan mati?”
Malaikatnya menjawab,”Iya, seperti manusia lain kamu akan mati, tapi itu nanti setelah 25 tahun.”
Hmmm, umur 80 tahun, not bad-lah, pikir perempuan itu, dan ia bertekad untuk mengusahakan yang terbaik di sisa 25 tahunnya itu. Maka, selagi masih di rumah sakit, ia juga sekalian melakukan oplas untuk wajah dan bagian lainnya, menumbuhkan kembali rambut hitam, dan hasilnya adalah perempuan ini jadi jauh lebih hebat daripada sebelum ia operasi jantung.

Pada saat ia boleh meninggalkan rumah sakit, ia menyeberang jalan dengan begitu energik karena tampilan barunya dan tertabraklah ia oleh mobil ambulans dan mati seketika.
Sesampainya di pintu surga-neraka, ia protes kepada malaikat yang menampakkan diri kepadanya di rumah sakit. “Katamu aku masih akan hidup selama 25 tahun! Kenapa engkau membiarkan mobil ambulans menabrakku?”
Sang malaikat mengamat-amati perempuan itu dan berkata,”Wah, sorry, aku tak mengenalimu sekeluar dari rumah sakit itu.”

Teks hari ini masih menyinggung tokoh Yohanes Pembaptis yang rupanya tak dikenali orang Yahudi pada umumnya sebagai Nabi Elia yang datang menyiapkan zaman baru. Guru dari Nazaret mengenalinya karena yang ditangkapnya bukan tampilan Yohanes Pembaptis, melainkan roh yang menggerakkan Yohanes untuk mewartakan pertobatan. Ini adalah warta yang jauh lebih penting daripada sekadar berkoar-koar pilih capres-cawapres nomor satu atau tidak. Warta keberpihakan kepada Allah jauh lebih penting daripada keberpihakan pada capres-cawapres nomor satu. Kalau pesan Yohanes ini tak ditangkap, orang akan gontok-gontokan demi penampilan, demi nama besar, demi kekuasaan, yang sama sekali tak berhubungan dengan jeritan hati manusia yang mendambakan keadilan, kesejahteraan, kedamaian, dan seterusnya.

Loh, lha ini kan emang tahun politik, toh, Rom, wajar dong kalau kita berpihak pada capres-cawapres nomor satu atau yang lain? Betul, tetapi keberpihakan itu diambil bukan karena orang gelap mata kalang kabut. Orang macam begini adalah sosok yang tak beriman yang bisa jadi makanan empuk para aktor politik yang piawai bersandiwara. Saya tidak sedang menyinggung sandiwara Uno karena saya cuma tahu permainan Uno, tetapi kalau orang beriman tak mau sungguh-sungguh berpikir dan memandang hati, saya yakin ia cuma jadi korban propaganda, entah dari pihak nomor satu atau yang lain. Propaganda memang membutakan nalar orang, bahkan meskipun slogannya berbunyi “gunakan nalar”.

Maka dari itu, saya yakin, akar persoalannya bukan nalar yang tak beres, melainkan hati yang terbungkam oleh ideologi, duit, keputusasaan, gelojoh kekuasaan, yang semua itu bisa jadi indikator bahwa orang menipis imannya. Pada diri orang seperti ini, hambok disodori data ya tetap saja mental. Lha piye maning wong sing penting ganti presiden kok!

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan untuk dapat membedakan antara kuasa-Mu dan kuasa manusia. Amin.


HARI SABTU ADVEN II
15 Desember 2018

Sir 48,1-4.9-11
Mat 17,10-13

Posting 2017: Kau Bercanda Lucunya
Posting 2016: Merintis Neraka

Posting 2015: Antara Wife dan WiFi
Posting 2014: Masih Mau Menyombongkan Diri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s