Resonansi Agama

Kalau sebagai gitaris, Anda tak punya tuner untuk mengatur nada senar gitar, kiranya Anda cukup mengandalkan resonansi frekuensi senar yang satu pada senar yang lain. Kalau dua senar sudah tune dan salah satu dipetik, senar yang lain akan ikut bergetar. Itulah resonansi.
Menariknya, senar-senar pada gitar itu memang dipasang sedemikian rupa sehingga panjang dan kecepatan rambat gelombangnya berbeda-beda dan dengan demikian frekuensinya berbeda-beda. Bisa dibayangkan gak sih kalau enam dawai gitar itu berbunyi nada E semua? Betapa susahnya main gitar!

Akan tetapi, begitulah kritik yang disodorkan Guru dari Nazareth terhadap generasi yang tak bisa beresonansi selain dengan kepentingan tribalnya: baru beresonansi ketika pakaiannya disinggung, ketika mobilnya tersenggol stang, ketika teman juru parkirnya cekcok, ketika teman gerombolannya ketahuan belangnya, dan seterusnya. Generasi macam begini, tak punya empati dan hidupnya jadi mediocre karena resonansinya cuma terletak pada tampilan luar. Harga dirinya palsu, bukan martabat yang diridai Allah.

Lah, emang harga diri yang diridai Allah itu yang bagaimana toh, Rom? Ya kembali lagi deh ke posting kemarin Butuh Piala Citra: martabat yang adanya di kedalaman hati orang.
Omong-omong, beberapa hari lalu ada yang tanya kepada saya bukankah harga diri tertinggi orang itu terletak pada agama sehingga benarlah kalau agama dinista orang mesti bereaksi, kalau perlu dengan amuk massa atau sekurang-kurangnya reuni gitulah.
Jawab saya: kalau agama dimengerti secara dangkal sebagai kategori bikinan manusia (bdk. agama dunia, agama lokal, kepercayaan, adat, animisme, dll), harga diri agama macam begini ya murahan. Lha mosok iya Allah bisa ditundukkan oleh utak-atik-otak orang? Akan tetapi, kalau agama dimengerti secara mendalam sebagai jalan menuju Allah, takkan pernah ada yang namanya penistaan agama.

Dalam diri orang yang beragama secara mendalam, penistaan agama tak terletak pada pelecehan simbol-simbol keagamaan yang merupakan kategori pemikiran manusia tadi (Katolik, Kristen, Islam, Hindu, Buddha, dst), tetapi pada simbol keallahan yang sesungguhnya, yaitu kemanusiaan.
D
engan foto bungee jumping Jesus (silakan cari, saya tidak memuatnya bukan karena menganggapnya penistaan, melainkan hanya karena saya tidak merasa itu elok untuk saya muat di sini) mungkin Anda bisa menguji bagaimana orang Katolik memahami agamanya.
Kalau dia marah karena menganggapnya pelecehan agama, Anda mengerti bahwa dia sedang menghidupi agama sebagai kategori pikiran manusia (bdk. posting Agama Amburadul, atau Doa Wajib Fakultatif, atau Dicari: Liyan).

Kalau dia tertawa (dan malah menambahi kalau tali Yesus terlepas, salibnya jadi Protestan), bisa jadi dia sudah mengerti apa artinya memahami agama secara heuristik dan sungguh menghidupi kekatolikannya (atau bisa juga dia sudah tak peduli lagi dengan kekatolikannya!).
Pokoknya, bagi orang beriman, permainan simbol keagamaan tidak akan lebih menusuk hati daripada penistaan simbol keallahan sesungguhnya: kemanusiaan. Sayangnya, itu masih populer: mengaku beragama, tetapi menganggap asisten rumah tangga sebagai budak belian, memperlakukan perempuan sebagai budak seks, merendahkan manusia karena ras, genosida; mengaku beriman, tetapi menghalalkan korupsi untuk membangun rumah ibadah yang super megah.

Semoga resonansi dengan Allah lebih kuat daripada resonansi dengan sentimen agama. Amin.


HARI JUMAT ADVEN II
Peringatan S. Yohanes dari Salib
14 Desember 2018

Yes 48,17-19
Mat 11,16-19

Posting 2017: Lipstick Mana Lipstick
Posting 2016: Pelahap Neraka
Posting 2015: Kebal Kritik, Bebal mBribik

Posting 2014: Pernah Patah Hati Gak Sih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s