Butuh Piala Citra?

Seorang anak menanyai ayahnya soal asal-usul bangsa manusia.
“Dua manusia pertama Adam dan Hawa menikah, lalu punya beberapa anak. Anak-anak itu juga setelah besar menikah dan punya beberapa anak lagi, dan begitulah seterusnya,” jawab ayahnya.
Sang anak pergi kepada ibunya, melontarkan pertanyaan yang sama.
“Kita ini dulunya monyet yang sekian ribu tahun berevolusi jadi manusia seperti sekarang ini.”
Mendengar jawaban itu, sang anak kembali kepada ayahnya dan berteriak,”Ayah bohong!”
Sang ayah terkejut dengan tuduhan anaknya,”Maksudmu ayah bohong bagaimana, Nak?”
“Ibu bilang kita ini dulunya monyet yang berevolusi selama ribuan tahun jadi manusia seperti sekarang.”
Sang ayah meletakkan kacamata bacanya [loh perasaan tadi gak pake’ kacamata] dan menatap anaknya,”Itu berarti ibu sedang menjelaskan asal-usul keluarganya, bukan keluarga ayah.”

Guru dari Nazareth dalam teks hari ini menyampaikan eulogi yang kesannya lebay: tak seorang pun yang lahir dari rahim perempuan yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis. Padahal, sebelum Yohanes Pembaptis jelas ada tokoh Musa, Daud dan Salomo yang begitu agung dan tersohor, dan Yohanes Pembaptis itu ya hidupnya cuma di padang gurun dan teriak-teriak dari sana (ke pemukiman penduduk tentunya). Apanya yang besar jal? Besarnya Yohanes Pembaptis oleh Guru dari Nazareth dikaitkan dengan Nabi Elia yang dipercaya oleh orang Yahudi akan datang kembali.

Meskipun demikian, eulogi mengenai Yohanes Pembaptis tadi sebetulnya juga cuma pengantar pada pokok penting yang mau disampaikan Guru dari Nazareth: bahkan kalau Yohanes Pembaptis itu adalah yang terbesar dalam sejarah manusia, itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan yang terkecil dalam Kerajaan Surga. Permainan kata ‘terkecil’ dan ‘terbesar’ ini tidak main-main dan pantaslah orang bertanya: konsep kebesaran bagaimanakah yang dipakai Guru dari Nazareth ini sehingga yang ‘terkecil’ itu malah bisa masuk ke dalamnya?

Saya sepakat dengan intuisi bahwa kebesaran itu terletak dalam kesederhanaan hati dan kesederhanaan hidup. Yang sederhana itu tak kehilangan energi untuk tampil “hebat” justru karena tidak mengincar “penampilan”. Begitu Anda menampilkan kesederhanaan, Anda melakukan pencitraan.
Loh, piyé sih Romo ini? Tadi bilangnya sederhana, sekarang dibilang menampilkan kesederhanaan itu pencitraan.😡

Anda tidak perlu menampilkan kesederhanaan. Saya kan tadi bilang poinnya kesederhanaan hati. Jadi, yang penting hatinya itu memang sederhana, nanti kesederhanaan akan tampil sendiri, mengalir dari kesederhanaan hati itu. Kalau tidak dari situ, berarti kesederhanaannya datang dari kepentingan politik, kepentingan identitas yang tidak autentik.

Saya bukannya hendak mempromosikan capres Jokowi atau eks gubernur Ahok. Ini ‘cuma’ intuisi: mereka adalah pribadi autentik, yang tampil apa adanya, dari hati terdalam mereka. Kesederhanaan Ahok bukan bahwa dia mengenakan pakaian lusuh atau tinggal di kampung kumuh, dan kehebatan Jokowi bukan bahwa dia memakai produk dalam negeri meskipun dia bisa membeli produk luar negeri. Kebesaran mereka, menurut saya, terletak dalam hidup yang mereka letakkan dalam kebersamaan dengan Allah. Saya tidak tahu kapan mereka berdoa atau menjalankan ritual doa bersama, tetapi saya tahu buah-buah orang yang hidup bersama Allah. Hidup bersama Allah adalah soal hidup autentik.

Tuhan, ajarilah kami untuk hidup dengan hati yang sederhana, hidup yang autentik bersama-Mu. Amin.


HARI KAMIS ADVEN II
Peringatan Wajib S. Lusia
13 Desember 2018

Yes 41,13-20
Mat 11,11-15

Posting 2017: Anda Sehat?
Posting 2015: Kejahatan Yang Mulia?

Posting 2014: Keras ke Dalam, Lembut ke Luar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s