Kabar Gembira Hikmat

Adakah kabar gembira yang diwartakan lewat pernyataan seperti “Kalau kamu baik, kepadamu Tuhan akan baik-baik tetapi kalau kamu jahat, Tuhan akan memberimu azab”? To tell the truth, gak ada. Ini cinta tebang pilih, cinta bersyarat, namanya. Celakanya, warta semacam itulah yang lebih populer diwartakan melalui aneka media dan ini jadi makanan lezat untuk orang beragama yang imannya sedalam kolam renang untuk anak-anak gitulah (yang kiranya jauh lebih luas daripada kolam renang dewasa atau kolam untuk loncat indah).

Bayangkanlah Anda diminta membuat hoaks dengan uang muka dua ratus ribu atau dua jutalah biar keren dikit. Kalau berhasil mulus, Anda mendapat lagi dua juta atau dua puluh lima jutalah biar lebih keren banyak. Kalau akhirnya hoaks itu membuat banyak orang percaya dan memilih sekongkolannya teman daripada temannya teman pemberi order jadi presiden, Anda akan dapat 80 juta! Bayangkan, 80 juta! Bisa Anda asosiasikan dengan (si)apa 80 juta itu, ihik ihik ihik.
Akan tetapi, itu kalau mulus loh ya. Kalau Anda ceroboh membuang simcard atau kurang canggih dari kepolisian dan Anda tertangkap sebagai pembuat hoaks itu, Anda akan dikibaskan. Bahkan, foto Anda bersama sekongkolannya teman daripada temannya teman pemberi order itu tak akan diakui. “Sori, dia bukan anggota relawan, bukan mitra tim, kami tidak kenal, jangan sangkut pautkan dengan capres-cawapres yang kami usung.”
Adakah kabar gembira yang diwartakan lewat hoaks? To tell the truth, gak ada.

Tidak ada kabar gembira yang diwartakan dengan cinta bersyarat atau hoaks. Lebih runyam lagi kalau cinta bersyarat atau hoaks itu dikait-kaitkan dengan Tuhannya agama! Betul, kalau orang memelihara paham negatif mengenai Allah, bagaimana ia bisa memberi harapan kepada orang lain?
Loh, orang kan gak butuh harapan, Mo, yang penting ada taipan yang kasih rezeki gratisan.
Betul, dan bukankah itu juga harapan dari orang beragama yang imannya sedalam kolam renang anak-anak tadi? Bersyarat, penuh modus atau hoaks, dan berlaku untuk kelompok orang tertentu. Kabar gembira senantiasa berlaku bagi orang baik maupun orang jahat, bukan hanya untuk orang baik.

Teks bacaan hari ini menegaskan bagaimana Guru dari Nazareth datang sebagai warta gembira bagi semua orang. Plis deh jangan letakkan itu dalam kotak agama Kristen/Katolik ya! Percayalah, warta gembira itu berlaku bagi semua: baik-jahat, kawan-lawan, laki-perempuan, tua-muda, teis-ateis, progresif-konservatif, dan seterusnya. Teks menyebutkan kabar gembira sebagai pembebasan kepada orang-orang tawanan. Apakah orang-orang tawanan itu semuanya jahat? Belum tentu. Apakah mereka semua dikeluarkan dari sel tahanan? Belum tentu juga, mungkin dua minggu lagi. Akan tetapi, entah di dalam atau di luar penjara, mereka semua diundang untuk melihat hikmat yang lebih agung, tak terbatas oleh persoalan hukum cambuk, jeruji tahanan, atau masa penjara.

Lha gimana hikmat yang lebih agung itu? Lha ya apa lagi kalau bukan cinta yang mengenyahkan ketakutan? Saya tidak bicara mengenai pencitraan, betapapun mungkin sekali dua kali perlu dilakukan; tetapi cinta sejati, cinta tak bersyarat, tak mungkin dipraktikkan sebagai pencitraan. Hanya penggemar hoakslah yang mampu mereduksi cinta sejati sebagai pencitraan.

Tuhan, tambahkanlah cinta-Mu kepada kami supaya kami sungguh jadi kabar gembira bagi sesama. Amin.


HARI BIASA SETELAH PENAMPAKAN TUHAN C/1
Kamis, 10 Januari 2019

1Yoh 4,19-5,4
Luk 4,14-22a

Posting 2016: Iman Jelangkung
Posting 2015: Mau Alih Profesi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s