Behind the scenes

Gemas juga membaca pernyataan “taat kepada Islam pun taat kepada Pancasila“, bukan karena pernyataan itu keliru, melainkan karena rupanya pernyataan itu diterapkan pada kenyataan yang bertentangan dengan pernyataan itu sendiri. Mari berpikir sejenak. Pernyataan menggemaskan tadi bisa dirumuskan sebagai premis umum: semua yang taat kepada Islam, menaati Pancasila. Tak usah diperdebatkan Pancasila yang mana karena jelas bahwa Pancasila yang dimaksud adalah Pancasila yang tak berseberangan dengan Islam. Dari premis umum itu bisa diturunkan silogisme: Budi taat kepada Islam, maka ia taat kepada Pancasila atau Budi tidak taat kepada Islam, maka ia tidak taat kepada Pancasila.

Lha, sekarang, jika si Budi ini menyatakan jelas-jelas bahwa ia hanya mau taat kepada Islam, dan tidak kepada Pancasila, njuk gimana mengambil kesimpulannya?
Kemungkinannya dua. Pertama, si pembuat premis umum tadi ngawur; dia cuma bikin pernyataan normatif (taat kepada Islam seharusnya taat kepada Pancasila). Kedua, ketaatan Budi kepada Islam cuma slogan, omong besar, hoaks belaka. Tapi asudahlah, bagaimanapun kesimpulannya, kemanusiaan itu memuat kerapuhan, dan kalau kemanusiaan dijadikan alasan, keputusannya memuat juga kerapuhan. Soalnya, bagaimana kerapuhan itu hendak ditangani, bergantung juga pada perhitungan yang dibuat penguasa.

Itu bukan kompetensi saya, maka saya tak akan bertele-tele dengan itu [lha gak bertele-tele kok dah dua paragraf, Rooom Rom]. Wacana itu mengingatkan saya akan omongan budayawan yang menganalogikan agama sebagai dapur. Tidak terlalu penting bagi orang lain untuk tahu sebagus apa dapur kita, sekomplet apa dapur di rumah kita. Jauh lebih penting adalah seberapa banyak tetangga sekeliling kita bisa ikut menikmati makanan yang dihasilkan dari dapur kita. Maksudnya? Ya entah, tanya saja pada budayawannya, saya juga bukan budayawan. Akan tetapi, itu mengingatkan saya pada posting Wis Kêwowogên [mohon jangan menyimpulkan bahwa saya pendukung Wowo ya, kata dasar kêwowogên bukan wowo]. Kêwowogên apa? Kêwowogên agama. Apa-apa saja pokoknya mesti agama, dan agama diposisikan di panggung, bukan di balik layar.

Apa sih yang dicari orang dengan menempatkan agama di panggung? Apakah dikiranya politik identitas itu jadi wujud pembelaan agama atau bahkan pembelaan Tuhan? Lupakah orang bahwa Allah bekerja behind the scenes

Teks bacaan hari ini menunjukkan bagaimana penulisnya mengajak orang untuk melihat behind the scenes. Film-film sekarang tentu menampilkan klip-klip menarik dan lucu yang ‘dibuang sayang’, supaya juga bisa dinikmati penonton yang tak tahu apa yang terjadi di balik film hebat yang ditontonnya. Narasi Yohanes memperlihatkan bahwa perkawinan di Kananya sendiri bukan hal terpenting, melainkan peristiwa heboh di baliknya: ketika Guru dari Nazareth bertindak, mengubah air jadi anggur, yang membuat pesta berlangsung bagi semua yang hadir. Apakah kehebatannya terletak pada kemampuan untuk mengubah air jadi anggur? Hmm… mungkin juga, tetapi yang lebih penting ditunjukkan Yohanes adalah pola ‘mukjizat’ yang dilakukan Guru dari Nazareth dan orang-orang di sekelilingnya.

Ini, sekali lagi, juga bisa dilihat sebagai epifania, penampakan Tuhan, yang kepadanya orang sebaiknya bertindak seperti Maria: lakukan saja kalau Tuhan mengatakan A, B, C, D, dan E, sementara dia sendiri hanya menyerahkan data akurat (bebas hoaks) mengenai pesta. Let God do the rest. Amin.


HARI MINGGU BIASA II C/1
20 Januari 2019

Yes 62,1-5
1Kor 12,4-11
Yoh 2,1-11

Hari Minggu Biasa II C/1 2016: Pesta Nyuuuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s