Rezeki Anak Saleh

Bukan maksud saya narsis (meskipun narsis di blog sendiri juga gapapa sih😂) kalau saya lagi-lagi berbagi pengalaman kepada Anda. Soalnya memang ini nongol ketika saya membaca narasi teks hari ini. Jadi (seperti biasanya orang-orang memulai suatu cerita dengan kesimpulan) ceritanya gini. Kemarin sore saya pergi ke toko untuk membeli buku di TM (doa untuk ownernya yang sudah meninggal🙏🏼). Saya mengambil buku tanpa melihat harga. Berlagak orang kaya dikitlah gapapa kan? 

Nah, begitu empat buku diletakkan di meja kasir dan mbak-mbaknya mulai scan buku, saya mak tratap deg-degan. Ini bukan karena mbak-mbaknya cantik, melainkan saya tersadar bahwa saya tadi tidak menghitung berapa total harga buku yang saya beli.
“Mbak, sori, totalnya berapa ya? Jangan-jangan uang saya kurang.”
Mbak-mbaknya menghentikan scan lalu mengambil kalkulator dan menjumlahkan harga-harga buku yang saya ambil.
“Dua ratus tujuh belas ribu…” dan saya tidak mendengarkannya lagi karena saya sudah mulai mengeluarkan pundi-pundi saya dari dompet ke meja kasir.
Lima puluh ribu tiga lembar,”Seratus lima puluh.”
“Seratus tujuh puluh, seratus sembilan puluh.” Mbak-mbaknya melihat tumpukan lembaran uang yang saya letakkan.
“Mosok gada diskon sih, Mbak?”
“Iya, Pak, ini semua sudah saya diskon sepuluh persen.”
Waduh, mati aku. Saya lihat masih ada lembar lima ribuan dan dua ribuan di dompet.
“Seratus sembilan puluh lima, dua ratus.”
“Jadi gimana, Pak? Mana yang mau dibeli?”
“Sebentar, Mbak. Ini masih ada. Dua ratus, dua ratus dua, dua ratus empat.” Begitu seterusnya, sampai akhirnya saya menemukan lembar seribuan!
“Dua ratus tujuh belas ribu!” kata saya lega.

Mbak-mbaknya melihat kalkulatornya,”Dua ratus tujuh belas ribu delapan ratus, Pak.”
Waaaahahahaha…. tiwas yakin dan lega! Saya buka lagi dompet dan ternyata masih ada kepingan seribu rupiah. Dengan kemantapan saya letakkan koin seribu itu di atas tumpukan lembaran uang tadi ala menutup permainan empat satu [tapi batin saya bertanya gimana ntar bayar parkirnya ya😂).

Mas-masnya yang dari tadi mengamati polah saya itu berbisik-bisik ke mbak-mbaknya. Padahal ada pembeli lain yang sudah antri dan ikut lihat isi dompet saya.
“Diskonnya saya tambah lima persen ya, Pak.”
“Alhamdulillah, tengkyu, Mbak! (Rezeki anak soleh)”
Akhirnya saya menerima cashback sebelas ribu rupiah.

Guru dari Nazareth menanyai Petrus sampai tiga kali, “Apakah engkau mengasihi aku?” Menariknya, kata kerja yang dipakai untuk bertanya dan menjawab itu berbeda nuansanya. Pertanyaannya memakai kata ἀγαπᾷς, jawabannya memakai kata φιλῶ. Sudah saya jelaskan di buku Cara Menguji Ketulusan Cinta sih bedanya, eaaaaa.
Menariknya, Yesus memakai kata agape dua kali, dan dua kali pula dijawab dengan philia. Akhirnya pada kali ketiga, Yesus menyesuaikan diri dengan Petrus, memakai kata φιλεῖς, sehingga klop dengan jawabannya, φιλῶ.

Barangkali memang begitulah rezeki anak saleh: Allah tidak akan menuntut umat-Nya lebih dari potensi yang ia miliki. Hanya saja, kerap umat-Nya malah menentukan standar sendiri yang eksklusif dan menindas, kurang murah hati, sehingga potensi kualitas hidup yang semestinya berkembang malah meredup.

Tuhan, bantulah kami untuk semakin mengenal cinta-Mu yang menantang sekaligus mengembangkan hidup kami. Amin.


HARI MINGGU PASKA III C/1
5 Mei 2019

Kis 5,27b-32.40b-41
Why 5,11-14
Yoh 21,1-19

Posting 2016: Komitmen Nol, Cinta Zero

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s