Kalem Tenan

When our soul is touched by the sweetness of the Holy Spirit with pleasure, it becomes calm….
Akan tetapi, itu tidak berarti orang yang kalem jiwanya senantiasa disentuh oleh manisnya Roh Kudus, karena kekaleman itu bisa juga merupakan hasil dari ketakutan; dan persis itu yang berkebalikan dengan insight teks bacaan hari ini.

Ini sharing saja ya dari kegagalan saya mengadakan pembedaan roh ketika beberapa waktu lalu saya mengikuti seminar untuk membantu kawan senior yang hendak menyelesaikan disertasinya. Setelah presentasinya, sebetulnya batin saya memberontak karena presentasi itu tidak meyakinkan saya mengenai problem yang hendak digarapnya. Akan tetapi, pemberontakan batin itu saya tenangkan dengan argumentasi semu bahwa saya tidak punya kompetensi studi antropologi dan saya mengerti pergumulan senior saya yang sudah ganti topik sekian kali.

Alhasil, saya jadi kalem dan melontarkan pertanyaan yang kalem juga. Dengan begitu, batin saya jadi kalem, tetapi kalemnya karena takut, dalam arti rikuh, tak enak karena bisa saja membuat down. Mungkin ini bawaan darah Jawa saya😭. Syukurlah, ada dosen yang akhirnya menyampaikannya ‘secara sadis’ (tetapi juga mungkin sadis itu cuma perspektif darah Jawa saya). Akan tetapi, fakta itu tidak menebus kegagalan saya melakukan pembedaan roh untuk memberi kontribusi terhadap kemajuan sesama. Saya gagal mengikuti dorongan untuk menyuarakan benih-benih kebenaran yang lebih fundamental.

Jadi, pesan akhir pekan ini begitu saja ya. Ada baiknya orang beriman, jika ia mesti kalem, tenang, damai, hendaknya itu semua bukan muara dari ketakutan, melainkan benar-benar karena mendengarkan sentuhan Roh Kudus yang senantiasa memperkembangkan kualitas kehidupan, kualitas kemanusiaan. Ini bukan cuma soal individual seperti yang saya bagikan tadi, melainkan juga soal hidup bersama yang bisa jadi menunjukkan harmoni tetapi tak lain hanyalah kamuflase api dalam sekam.

Lha memangnya kenapa sih Rom, yang penting kan harmonis? Haiya justru itu, jika harmoni atau kerukunan dijadikan nilai tertinggi, bisa jadi malah menindas nilai-nilai lain yang sesungguhnya jauh lebih mengembangkan hidup bersama. Gimana sih rasanya hidup seperti api dalam sekam?😝

Tuhan, mohon rahmat kepekaan batin untuk menangkap bisikan Roh-Mu dan merealisasikannya ke dalam hidup yang mengembangkan kemanusiaan kami. Amin.


SABTU PASKA II
Peringatan Fakultatif Beato Yosef Maria Rubio (SJ)
4 Mei 2019

Kis 6,1-7
Yoh 6,16-21

Posting 2018: Kompor Ilahi
Posting 2017: Jangan Atut

Posting 2016: Tenang, Ada Gue
Posting 2015:  Kadang Niat Baik Cukup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s