Jalan Bener Hidup

Ini celetukan tetangga kamar saya [btw, tetangga itu gak harus di kiri kanan, bisa juga di bawah atau atas juga toh?] ketika dia diberi penjelasan mengenai misteri Tritunggal yang nyerempet-nyerempet pribadi Guru dari Nazareth. Guru agama yang memberi penjelasan itu membuat perumpamaan bahwa Allah Tritunggal itu seperti kalau orang minum sajian three in one kopi, susu, dan gula. Ada tiga elemen tapi jadi satu sajian. Tetangga saya ini protes,”Lha, saya tidak bisa lagi minum gula karena diabetes!”
Guru agama itu jadi mak tratap, lalu mencoba cari-cari padanan lainnya,”Kopi, susu, dan air!” Lalu tetangga yang lain nyeletuk,”Tapi saya gak suka susu manis, Pak!”
Guru agama itu mak tratap lagi dan mengganti susu dengan creamer, dan masih ada lagi tetangga yang protes,”Tapi saya gak mau minum kopi!”
Entah gimana rasanya minum air creamer susu.

Akan tetapi, tentu maksud tetangga saya penggoda guru agama itu baik: mengenai misteri-misteri ilahi begitu tak usahlah ribet dengan aneka macam analogi naif; yang penting poinnya bahwa Allah yang misterius itu mau merengkuh ciptaan-Nya dalam cinta. Kalau ribet dengan analogi, lalu orang malah cenderung bikin kontroversi karena Allah ditempatkan sebagai objek pikiran manusia. Hasilnya ya seperti minuman three in one tadi. 

Begitu pula halnya dengan pernyataan dalam teks bacaan hari ini: Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Ini pernyataan yang dilekatkan pada mulut Guru dari Nazareth, tetapi saya curiga bahwa ini adalah refleksi penulis Injil Yohanes mengenai Guru dari Nazareth itu. Artinya, pernyataan itu tidak diucapkan sungguh oleh Guru dari Nazareth, sebagaimana tidak dituliskan dalam ketiga Injil selain Yohanes. Kalau itu adalah refleksi penulis Yohanes, berarti pernyataan “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup” itu relatif terhadap bagaimana orang menghidupi jalan, kebenaran, dan hidup itu. Ia bisa becermin dari pribadi Guru dari Nazareth, tetapi bisa juga becermin dari pribadi lain dan tidak perlu naif menambatkannya pada agama tertentu.

[Nota bene: banyak orang beranggapan bahwa Isa dalam Alquran dan Yesus dalam Injil itu adalah pribadi yang sama. Dulu saya beranggapan begitu, tetapi lama kelamaan saya sangat meragukannya karena baik Injil maupun Alquran bukanlah tulisan seperti sejarah kemerdekaan RI 1945. Kalau begitu, mesti ada perbedaan tekanan aspek teologis dalam kedua tulisan itu dan, dengan demikian, tidaklah fair mempertentangkan Injil dan Alquran. Keduanya, menurut intuisi saya, saling melengkapi untuk menguak misteri Allah Yang Mahabesar itu.]

Hidup Filipus dan Yakobus yang dipestakan Gereja Katolik hari ini kiranya juga merupakan hidup yang bermodelkan sepak terjang Guru dari Nazareth. Guru dari Nazareth menjadi jalan bagi mereka untuk pergi kepada Allah, yang dalam terminologi Guru dari Nazareth itu disebut Bapa. Tidak hanya jadi jalan, Guru dari Nazareth juga menjadi kebenaran karena tutur katanya sinkron dengan tindakannya. Terakhir, Guru dari Nazareth adalah hidup karena misteri kebangkitannya menginspirasi orang beriman untuk mengatasi kematian duniawi dengan kualitas hidup surgawi.

Dengan demikian, hidup orang beriman, apa pun agamanya, baru bernas jika klop dengan ‘jalan-kebenaran-hidup’ tadi.
Ya Allah, mohon rahmat supaya kami mampu merealisasikan jalan-kebenaran-hidup-Mu dalam keseharian hidup kami. Amin.


PESTA SANTO FILIPUS DAN YAKOBUS
Jumat Paska II
3 Mei 2019

1Kor 15,1-8
Yoh 14,6-14

Posting 2017: In Love with Mother Earth
Posting 2016: “Pusing” The Limit

Posting 2014: Kenalan Dong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s