Sintesis Tak Kunjung Usai

Sebagian dari Anda masih suka bermain karena memang itu salah satu kodrat Anda sebagai manusia: homo ludens. Sebagian dari Anda mungkin pernah mengalami apa yang saya alami semasa kecil: bermain bola di hamparan lumpur sawah yang selesai dipanen, cari buah melinjo yang rontok dari pohonnya untuk dijual, bermain perang-perangan menggunakan gundu alias kelereng, bermain gembot (gamewatch) atau Nintendo, Pacman, dan lain sebagainya. Ini adalah aktivitas yang menyukakan hati, sedemikian menyenangkannya sehingga bisa membuat kegiatan lain terlupakan.

Akan tetapi, semakin tumbuh besar, saya menemukan permainan lain yang tidak hanya menyukakan hati, tetapi juga mencerahkan budi. Ini biasanya berkenaan dengan permainan berbasis matematika atau rasa kepo saat membaca kisah detektif. Pada akhir aktivitas mengerjakan soal matematika atau membaca kisah detektif itu, ada semacam aha experience yang seakan-akan membuat saya mengerti sebagian misteri dunia ini. Itu lebih dari sekadar menyenangkan. Maka, tak heran ketika dua tahun lalu, seuzur saya ini masih mesti menjalani tes potensi akademik yang salah satunya berkenaan dengan angka-angka dan saya mengerjakannya dengan gembira. Hasilnya mah sebodo’ amat. Lulus ya sukur, gak lulus ya sukurin

Sekarang ini, ketika saya mesti membaca banyak (dan dengan demikian, melupakan banyak hal dalam hitungan hari atau bahkan jam), saya menyadari bahwa pada saat saya membuat sintesis dari beberapa bacaan, ini rasanya seperti saya menyelesaikan satu bagian permainan. Menyenangkan, tetapi lebih dari itu, saya seperti mengalami keberhasilan membuka tabir misteri yang membuat pemahaman semakin meluas dan pada momen eureka ini kegembiraan melebihi rasa senang akibat objek ngidam terpenuhi.

Dinamika seperti itu saya pakai untuk memahami teks bacaan hari ini: enam ayat terakhir yang diletakkan pada mulut Yohanes Pembaptis sebagai jawabannya terhadap laporan muridnya mengenai sepak terjang Guru dari Nazareth. Yohanes menyampaikan tiga pokok yang mengafirmasi sepak terjang saudaranya itu: (1) dia memang utusan Allah, dan itu berarti ia menyampaikan kebenaran tentang Allah, (2) jaminan itu semestinya berasal dari karunia Roh Kudus yang berlimpah dalam Kristus, (3) cinta Allah itu termanifestasikan secara penuh dalam dirinya.

Yang bikin perkara atas afirmasi Yohanes ini kemudian ialah bahwa orang menerimanya sudah dalam conditioning agama tertentu (karena ada Kristus-Kristusnya itu) sehingga reduksi tak terhindarkan. Bukankah Yohanes tidak mengatakan bahwa utusan Allah itu hanya Guru dari Nazaret? Bukankah Yohanes tidak sedang berwacana soal kualitas Kristus yang dipatenkan sebagai milik eksklusif Guru dari Nazareth? Bukankah Yohanes tidak mengatakan bahwa cinta Allah tak terwujudkan dalam diri orang lain? Dengan kata lain, Yohanes hanya mengafirmasi Guru dari Nazareth sebagai pribadi yang jadi sintesis antara surga dan bumi, antara atas dan bawah, dan seterusnya.

Dengan demikian, boleh jadi kemampuan orang untuk membuat sintesis juga adalah rahmat yang pantas disyukuri. Itu mengapa mahasiswa yang menyelesaikan skripsi atau tesis atau disertasinya pantas bersyukur 😂😂😂. Ini serius beneran: iman juga adalah suatu sintesis yang ditindaklanjuti dengan perbuatan. Kalau begitu, kemampuan orang untuk membuat sintesis memang adalah rahmat juga.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami mampu menemukan sintesis mencerahkan atas surga-dunia kami. Amin.


HARI KAMIS PASKA II
Peringatan Wajib S. Atanasius
2 Mei 2019

Kis 5,27-33
Yoh 3,31-36

Posting 2018: Kitab Fiksi Suci
Posting 2017: Hati Berbunga Tabur

Posting 2016: IGD Ini Genitnya Dewan

Posting 2015: Taat kepada Allah Mah Gampang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s