Humanity Needs You

Sebagaimana suatu konser musik membutuhkan setiap notasi, sebagaimana sebuah buku memerlukan setiap kata, sebagaimana sebuah rumah membutuhkan setiap batu, sebagaimana samudera tersusun dari setiap tetes air, sebagaimana panenan memerlukan setiap bulir, demikian pula halnya kemanusiaan membutuhkan Anda; sekarang ini dan di sini, pada keunikan Anda, yang membuat Anda tak tergantikan (Michel Quoist).

Begitulah pesan yang bisa diambil dari teks bacaan hari ini, untuk tidak mengulang isi posting Komitmen Berhadiah. Teks bacaan kedua hari ini tentu bukan per se kata-kata Guru dari Nazareth kepada Nikodemus [lha wong itu pertemuan empat mata kok, penulis Injilnya gak ikutan]. Meskipun ini adalah bagian dari percakapan Guru dari Nazareth dengan Nikodemus, tulisan ini adalah refleksi penulis Injil Yohanes. Anyway, entah itu kata-kata Guru dari Nazareth atau refleksi penulis Injil, sebagai bagian dari Kitab Suci tentu yang pokok ialah bahwa keduanya dimaksudkan supaya pembaca menangkap kehendak Allah bagi hidupnya.

Mau jadi manusia dunia macam apakah pembaca teks ini? Benarkah manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang? Mungkin ada benarnya jika ditilik manusia-manusia korban propaganda atau indoktrinasi saat pilpres, pilgub, pilkada, pileg, batuk, flu #loh. Korban propaganda atau indoktrinasi senantiasa lebih suka kegelapan daripada terang. Kenapa? Karena terang akan membuyarkan propaganda atau indoktrinasi. Terang dari Allah akan membongkar agama sedemikian rupa sehingga agama dapat menerangi semua orang tanpa kecuali, sedangkan kegelapan membuat agama jadi narsis, terlalu otonom, dan memproklamasikan diri sebagai terang tetapi hanya untuk diri sendiri, bukan untuk mereka yang berbeda dari diri sendiri.

Gambaran itu berlaku juga untuk hidup orang yang termasuk dalam bilangan kedua dari tiga golongan orang menurut kerohanian Ignasius dari Loyola: mereka yang membuat skenario sedemikian rupa sehingga Tuhan tunduk pada kehendaknya, lebih daripada ia mau tunduk pada kehendak-Nya. Memang ‘kehendaknya’ dan ‘kehendak-Nya’ itu bisa beda tipis sekali, tetapi penggemar kegelapan akan membolak-baliknya. Mereka tahu perbedaan tipisnya, tetapi memilih kehendaknya sendiri daripada menggumuli hidup dinamis yang terus menerus menantang kehendaknya sendiri. Mereka tahu mana yang benar, tetapi dengan sengaja memilih yang cocok dengan ambisinya sendiri.

Loh, apa itu bukannya malah cocok dengan panggilan untuk menjadi diri sendiri tadi, Rom? Bukankah setiap orang mesti menjadi dirinya sendiri karena tiap orang itu unik? Bukankah setiap orang mesti hidup seturut passionnya?
Ya betul, tetapi pada zaman now, menjadi diri sendiri tidak pernah berarti cuma nggugu karêpé dhéwé alias menuruti kehendaknya sendiri. Ini bukan cuma gosip, ada landasan teorinya. Kalau mau baca uraiannya silakan klik posting Psikologi Campur Aduk [ya lalu baca, bukan klik doang]. Kalau gak mau baca, itu jadi contoh orang yang lebih suka kegelapan [ini promosi apa maksa sih 😂😂😂]. 

Ya Allah, mohon rahmat kekuatan untuk bertekun dalam pergumulan hidup merajut kemanusiaan sehingga kami dapat menjadi anak-anak-Mu. Amin.


HARI RABU PASKA II
Peringatan Fakultatif S. Yusuf Pekerja
Hari Buruh Internasional
1 Mei 2019

Kis 5,17-26
Yoh 3,16-21

Posting 2018: Siapa Butuh Dua Periode?
Posting 2017: Play Duit atau Play Do’i

Posting 2016: Komitmen Berhadiah

Posting 2015: Neraka Bukanlah Hukuman

Posting 2014: Habisi Gelap Terbitkan Terang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s