Teliti sebelum Beli

Saya punya pengalaman yang baik di dunia ebay, yang setelah saya lihat-lihat lagi seperti too good to be true. Saya pernah membeli kamera yang kalau di toko ya tak pernah saya impikan bakal bisa membelinya, tetapi di ebay itu ada orang yang entah bagaimana menjual kameranya sepertiga harga dari kamera di toko. Memang sih, bekas, tapi kondisinya masih kempling, dan baru terpakai di bawah sepuluh ribu jepretan. Rupanya di negeri tempat saya beli kamera itu ada mentalitas yang menguntungkan kaum ‘papa-miskin’ seperti saya: baru pakai barang sebulan, sudah ada produk baru, lalu dijuallah barangnya itu dengan harga yang gila-gilaan murahnya.

Tentu saja ada rasa khawatir dan takut tertipu dan untunglah feedback dalam profile penjualnya bisa jadi pegangan sehingga kekhawatiran dan ketakutan itu tak membesar. Selama di negeri itu, saya percaya diri membeli produk via ebay, termasuk barang bekas. Selama di negeri ini, pengalaman saya bertolak belakang, sehingga kekhawatiran dan ketakutan untuk belanja online itu membesar.

Payahnya, teks bacaan hari ini tertuju kepada orang-orang seperti saya: jangan takut! Lha gak takut gimana, kalau duit gak terbatas atau batasnya masih jauh banget sih tak masalah dengan ‘salah beli’. Akan tetapi, kalau sebelum tengah bulan rasanya sudah seperti akhir bulan, tentu gak bisa berpegangan ‘salah-beli’ ya gak apa, ntar beli lagi.
Tapi persis di sinilah Guru dari Nazareth itu memberi nasihatnya: gak usah takut. 
Jadinya nasihat itu saya tangkap begini: gak usah takut ‘salah beli’, nanti kalau memang ‘salah beli’, ya tak usah beli lagi.😂😂😂

Entah sebutannya ‘salah beli’ atau ‘kurang teliti sebelum membeli’, orang mesti move on dan melihat sejarah hidupnya sebagai bagian dari dinamika ‘sedekah’ yang sudah saya singgung pada posting Agama Keledai. Ini terhubung juga dengan pokok uraian kemarin mengenai keadilan sosial karena sedekah memang berarti keadilan atau kebenaran.
Lho, ya gak adil dong, Rom, namanya juga ‘salah beli’, kita yang rugi.
Ya persis itulah persoalannya: keadilan diukur dengan untung rugi. Andaikanlah keadilan itu secara sederhana dimengerti sebagai praktik memberikan sesuatu yang jadi hak seseorang, bukankah seorang pencuri dan penipu juga boleh mendapatkan haknya?😂😂😂

Saya kira metafora yang dipakai dalam teks bacaan hari ini membantu orang beriman untuk benar-benar ikhlas, entah kepada pengemis betulan atau penipu. Maksud saya, ikhlas itu tak mempersoalkan identitas orang lain, tetapi semata seperti kasih ibu kepada beta. Lagipula, itu metafora, meskipun kata pencuri yang dipakai, pasti maksudnya bukan pencuri dalam arti sebenarnya.

Ganti saja ‘pencuri’ itu sebagai kematian, dan seluruh teks malah jadi bermakna. Orang beriman perlu siap sedia sebagai administrator kehidupan beserta barang-barang berharganya: benar-benar administrator, bukan owner. Sebagai administrator, mungkin pepatah Latin ini lebih membantu: [semua konsonan ‘c’ dibaca sebagai ‘k’] cantabit vacuus coram latrone viator.
Traveller yang padanya gak ada apa-apa akan bernyanyi di hadapan perampok; gak ada apa-apa lagi darinya untuk dirampok. Bahkan kalau nyawanya dirampok pun, bukankah itu juga bukan miliknya? Jadi, ngapain takut? Mungkin itu cuma privilese untuk orang yang ikhlasnya hilang kemarin. Just do your bestgitu kan?

Tuhan, mohon rahmat untuk jadi administrator pilihan-Mu. Amin.


HARI MINGGU BIASA XIX C/1
11 Agustus 2019

Keb 18,6-9
Ibr 11,1-2.8-19
Luk 12,32-48

Posting 2016: Suka Miskin

3 replies

  1. Selamat pagi Rm Andre, Selamat berhari Minggu. Setuju banget dg tulisan Rm kalau kita harus posisikan diri lebih sbg administrator dlm proses kehidupan ini, termasuk (kalau buat saya) ke harta dunia paling berharga yaitu anak hehe. Dulu bisa begitu protektif & posesifnya ke anak tapi setelah mereka sudah mulai kuliah dst, mulai punya kehendak yang tentu gak selalu sejalan dg sang bunda, itulah saat dimulai proses mulai legowo melepas rasa “kepemilikan” itu. Saatnya mamanya memberi hak ke anak utk menyongsong kehidupam mereka dan melupakan segala ketakutan dan kekuatiran bhw mereka akan begini begitu. Seperti nasihat bijak Mbah Moen yg Rm kutib kemarin soal ikhlas dan perumpamaan menabur benih tsb, bukan hasil akhirnya tapi prosesnya lah yang utama. Karena mom has done her best, hasil akhir dr anak2 itu: let’s God do the rest🙏 Thks Rm selalu menulis yg menguatkan hati spt gini2, looking forward to having more like those u’ve written so far. GBU

    Like

  2. Slm malam jg Rm, udah kok Mo masuk dlm prayer list ever since bersama doa2 buat keluarga dll yg dikasihi dan para imam yg selalu sy sebut nama setiap hari🙏. Hope u are OK & stay happy with life hehe, sesuai nasihat Rm ke kami lewat tulisan2 Rm tsb😁

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s