Ashiaaaap

Keheranan biasanya memicu orang untuk belajar sesuatu yang baru, yang mengganggu asumsi di kepalanya. Guru dari Nazareth kiranya belajar sesuatu dari seorang perwira Romawi, yang oleh orang Yahudi pada saat itu dikategorikan sebagai pagan bin kafir. Apakah Guru dari Nazareth belajar untuk jadi kafir? Tentu tidak. Sebaliknya, ia mendapat contoh yang baik bahwa keselamatan dari Allah itu mengatasi aneka kategori bikinan manusia sendiri. Betul bahwa orang-orang Romawi saat itu tak mengenal monoteisme, tetapi toh mereka tetap mengakui adanya instansi yang transenden, yang mengatasi hidup manusia.

Yang menarik saya bukan wacana mono-politeis, karena wacana itu adanya di kepala orang, melainkan cara perwira Romawi itu menunjukkan keyakinannya lewat apa yang dihidupinya sehari-hari, lewat analogi. Sebagai perwira, dia punya bawahan yang sepenuhnya taat pada mandatnya. Kalau dia bilang A pada bawahannya, sang bawahan akan bilang Ashiaaaap. Juga kalau dia bilang B, bawahannya akan melakukan Bshiaaaap [kenapa a-nya empat?]. Kata-kata perwira sudah cukup untuk membuat pasukannya bertindak seturut kata-kata itu.

Dengan menaruh hormat pada sosok Guru dari Nazareth, perwira Romawi itu menerima Guru dari Nazareth sebagai perwira jenis lain yang kurang lebih cara kerjanya juga seperti cara dia bekerja. Rasa hormat itu pula yang membuatnya tidak merasa pantas untuk mengundangnya datang alias sowan dalam bahasa Jawa, karena dia justru menempatkan Guru dari Nazareth lebih tinggi posisinya. Perwira Romawi tidak ada dalam kapasitas memerintah Guru dari Nazareth. Lebih dari itu, ia bahkan tak merasa pantas untuk sowan alias menghadap Guru dari Nazareth. Ha kalau menghadap tidak, didatangi juga tidak, njuk maunya gimana?

Ternyata ya itu tadi, jalan keluarnya justru adalah keyakinan bahwa Guru dari Nazareth yang sudah dikenal dapat menyembuhkan penyakit itu bisa juga melakukan penyembuhan dengan sabdanya. Keyakinan itu mengherankan Guru dari Nazareth karena malah dijumpainya dalam diri perwira kafir bin pagan, bukan dalam hidup bangsa Israel yang mengklaim diri monoteis. Apa arti keheranan itu? Artinya bahwa label pagan bin kafir itu tak relevan, karena pokok utamanya justru keyakinan iman yang jebulnya mengatasi kategori agama. Di sini Guru dari Nazareth mendapatkan peneguhan misinya bahwa ia datang untuk menjadi rahmat bagi semua, dan itu terbukti dengan adanya sosok kafir yang menangkap hakikat keyakinan iman yang membuatnya sedemikian rendah hati untuk terbuka pada rahmat yang dibawa pihak lain.

Saya masih terkesan pada kemampuan perwira Romawi itu untuk menangkap kerja Allah dengan analogi dari kehidupan konkretnya. Seandainya semua orang melakukannya, saya kira kategori agama itu benar-benar tak relevan (tidak sama dengan mengatakan bahwa agama benar-benar tak relevan). Entah apa pun agamanya, orang bisa menangkap secara yakin bahwa kekuatan Sabda Allah itu melampaui kalkulasi rasio-yang-terkungkung-dimensi-ruang-waktu. Akan tetapi, barangkali sebelum orang beranalogi seperti itu, terlebih dulu sudah ada kerendahan hati dan keterbukaan terhadap kekuatan yang lebih besar dari hidup orang sendiri. Saya kira begitu. Tak ada orang arogan yang bisa membuat analogi dan bertindak seturut analogi itu seperti dilakukan sang perwira Romawi.

Tuhan, mohon kerendahan hati dan keterbukaan diri terhadap kerahiman-Mu. Amin.


SENIN BIASA XXIV C/1
16 September 2019

1Tim 2,1-8
Luk 7,1-10

Senin Biasa XXIV B/2 2018: Gratisan Cinta
Senin Biasa XXIV A/1 2017: Yesus Tukang Santet?
Senin Biasa XXIV C/2 2016: Iman Yang Seksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s