Pahlawan Never Dies

Mereka yang menyatakan eksistensi Allah itu nonsense menunjukkan bahwa yang nonsense adalah gagasan mereka sendiri tentang Allah. Misalnya, sekian anak muda berkeyakinan bahwa Allah tak peduli pada penderitaan manusia karena orang miskin dibiarkan tertindas. Pada kenyataannya, yang tak peduli pada panggilan Allah untuk menghindari perbuatan yang tak adil adalah manusia sendiri.
Kemarin siang sewaktu berpanas-panas ria di atas aspal di musim (seharusnya) penghujan ini, saya memperhatikan seorang manusia mengulurkan tangannya kepada manusia lainnya yang bolehlah diberi label sebagai pengemis. Tentu maksudnya baik, supaya ia beramal, dan punya deposit untuk hidup kelak entah kapan. Bersamaan dengan tindak mengulurkan tangan dan mencemplungkan lembaran uang ke wadah yang disorongkan pengemis itu, keluar juga kertas-kertas lain yang kumal, mungkin struk belanja, jatuh di aspal. Pengemis mengangguk berterima kasih, dan manusia beramal ini menutupi sampah kertasnya dengan kakinya sampai motornya bergerak meninggalkan sampah itu sekertas diri.

Dulu ada manusia berbaju kumal mengemis, memohon belas kasihan penumpang bus tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dari pintu depan sampai ke belakang hanya ada satu uluran tangan. Tak lama setelah dia turun, datanglah pengemis lain yang lebih segar dan membawa kotak dan dari mulutnya meluncur aneka macam kata-kata menggugah. Saya dengar ada kata ‘amal’, ‘surga’, ‘ibadah’, dan sejenisnya. Ketika mulai berjalan ke belakang, dari setiap deret tempat duduk ada satu dua tangan yang menyorongkan uang ke kotak yang disodorkan manusia itu. Padahal, tak seorang pun dari pemilik tangan-tangan itu, saya kira, kenal pengemis dan proyek yang digembar-gemborkannya itu.

Saya tak ingat siapa penafsir Alquran yang menyampaikan ini: hindarilah segala bentuk ketidakadilan dan terserah mau berbuat apa sesudahnya karena tak ada dosa di luar ketidakadilan. Semakin baca banyak, memang semakin lupa banyak saya ini, meskipun baru kemarin bacanya. Akan tetapi, saya ingat nasihat bijak itu juga dirumuskan secara positif oleh Augustinus: Love and do whatever you want. Kerap kali, yang menganggap eksistensi Allah itu nonsense ialah mereka yang cuma membaca do whatever you want dan tak mau menguji cintanya, ehm… bukan promo buku cara menguji ketulusan cinta ya.

Teks bacaan hari ini menuturkan bagaimana orang Saduki hendak mengatakan bahwa kebangkitan orang mati itu nonsense, tetapi Guru dari Nazareth justru menunjukkan bahwa konsep kebangkitan merekalah yang nonsense. Mereka pikir kebangkitan itu seperti ketika para pahlawan yang gugur sebelum tahun 1945 itu hidup lagi dengan proyek yang sama seperti ketika mereka hidup sebelum tahun 1945 itu. Kebangkitan yang dipersaksikan Guru dari Nazareth adalah transformasi atau transfigurasi badan material jadi ‘tubuh rohani’ yang jadi medium perjumpaan dengan Allah yang hidup. Ini bahasa susah, kan?

Tidak penting lagi apakah kebangkitan Guru dari Nazareth terjadi. Pemeluk agama Kristen tentu mesti mengakui, tetapi tak berarti seperti dipahami Saduki tadi. Kebangkitan adalah soal kepahlawanan: metabolisme tubuhnya bertransformasi, tidak jadi hantu, tetapi jadi konkretisasi nilai kepahlawanannya. Keadilan jadi konkret dalam tubuhnya. Cinta konkret dalam tindakannya. Allah hidup dalam dirinya. Dalam arti itulah, pahlawan never dies, karena bangkit melulu.

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan untuk memahami nilai keadilan-Mu dalam olah pikir, olah rasa, dan olah kehendak kami. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXXII C/1
10 November 2019

2Mak 7,1-2.9-14
2Tes 2,16-3,5
Luk 20,27-38

Posting Tahun 2016: Are We Immortal?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s