Klopp of the World

Meskipun saya mengagumi Jürgen Klopp, saya tak akan mengidolakannya. Belum tentu juga Klopp senang saya jadikan idola. Maklum, idola tak jauh-jauh dari berhala, dan bacaan hari ini memuat kebijaksanaan supaya pikiran orang beriman tertujuk kepada Allah dengan tulus ikhlas dan mencari-Nya dengan tulus hati. Mengenai memikirkan ‘hal-hal di atas’ saya sudah tulis di posting Takut Kehilangan. Hanjuk saya mesti komentar apa dong terhadap teks bacaan hari ini?

Pindah ke teks bacaan kedua saja: tidak mungkin tidak akan ada penyesatan. Bahkan meskipun orang merasa mencari Tuhan dengan tulus hati, memikirkan perkara-perkara di atas secara tulus ikhlas, penyesatan tetaplah tidak absen. Saya ambil contoh dalam perkara konkret agama karena memang itu yang paling rawan penyesatan. Kok isa? Karena agama punya klaim kebenaran universal. Kalau klaim kebenaran universal itu memang dilandasi nalar yang berterima bagi semua manusia waras [lha yang menentukan waras siapa?] mungkin tidak jadi soal besar. Repotnya, penyesatan itu ada pada yang namanya power relation.
Lah katanya konkret, kok malah konsep, Rom?😂😂😂

Misalnya, seorang koster melatih misdinar, atau seorang ketua tim liturgi mengadakan penyuluhan. Konten pelatihan itu tentu diberikan seturut standar yang dipegang koster atau ketua tim liturgi itu. Akan tetapi, sadarkah koster dan ketua tim liturgi itu bahwa konten yang mereka berikan itu adalah pedoman untuk mengatur perkara-perkara duniawi? Hambok mau dirasionalisasi bagaimana pun, itu adalah perkara-perkara duniawi: jalan melambai atau tergesa-gesa, lagu versi Kota Baru atau Kota Lama, liturgi ritus Timur atau Barat, umat duduk atau berdiri, dan sebagainya.
Loh, jangan gitu, Rom. Sudah ada dokumen resminya yang disepakati Gereja Katolik sedunia.
Ya, dokumen resmi tahun berapa, sifat dokumennya sendiri merujuk prinsip hidup beriman atau pedoman praktis? Selain itu, tetap tak terbantahkan: itu hanyalah pedoman untuk menata perkara-perkara duniawi. Kalau ada persoalan, mbok ya dibicarakan dengan hati surgawi dan nalar manusiawi atau sebaliknya, nalar surgawi dan hati manusiawi.

Yang menyesatkan justru adalah sikap arogan oknum yang memakai power relation: kamu harus terima begini karena saya pastor, uskup, kardinal, paus. Tak sedikit umat bingung dan tersesat bukan karena persoalannya rumit, melainkan karena sikap pastorsentrisnya malah membuat hati dan budinya tersumbat untuk mencari Allah secara tulus ikhlas.
Hal sebaliknya juga bisa terjadi sebagai penyesatan: antipastor, antipedoman, antikeseragaman, dan seterusnya. Ini sama-sama manifestasi power relation: sikap orang yang merasa dirinya adalah pemegang kunci kebenaran seturut posisi dan jabatan yang dimilikinya, bukan seturut hati dan nalar yang berterima tadi.

Jadi, maksud Romo apa nih?
Orang yang mencari Allah secara tulus ikhlas tak akan mengidolakan power relation; betul orang butuh power, tetapi tidak dengan cara sok kuasa. Power yang tak menyesatkan berasal dari disposisi bahwa semua orang yang mencari Allah secara tulus ikhlas itu perlu saling belajar, diskusi baik-baik, supaya sungguh menemukan perkara duniawi yang membawa orang pada konsolasi sejati. Seperti kata Klopp, it’s all about relationship, tapi kalau di dalamnya Anda susupkan power, untuk menguasai orang lain, untuk memaksa, memanipulasi, Anda terkena penyesatan. 

Ya Tuhan, mohon rahmat kerendahhatian supaya kami tak tergoda menggantikan posisi-Mu. Amin.


SENIN BIASA XXXII C/1
PW S. Martinus dari Tours
11 November 2019

Keb 1,1-7
Luk 17,1-6

Senin Biasa XXXII B/2 2018: We are the Champions
Senin Biasa XXXII A/1 2017: Walk Out Lagi
Senin Biasa XXXII C/2 2016: Show of Force

Senin Biasa XXXII A/2 2014: The Real Hero

4 replies

  1. Ya janganlah Mo, jangan sampai tergoda utk ambil posisi hakiki milik Tuhan itu hehe tp gimana ya utk kalangan tertentu (baca: yg ada di struktur, apalagi di level atas), kekuasaan itu melekat, dan yang dilekati power itu juga masih manusia biasa yg bisa kesandung. Apalagi menyitir “it’s all about relationship” justru krn ada ‘relationship’ yg lebih dr sekedar formalitas, powernya jd cenderung di korupsi “dipermudah proses nya krn kenal ama si anu” misalnya. Ini cocok ya dg berita ttg si penyanyi D yg kurang setahun cerai (pdhal kawin resmi di gereja Katolik) udah bisa dapat dispensasi lagi. Gak mau berprasangka, apakah memang gereja Katolik semurah hati begitu dg proses seperti yg ditampakkan dg kasus Delon ini (sampai2 terkesan jadi agak murahan). Berkah dalem Mo🙏

    Like

    • Yahaha jangan tergoda ya Bu. Mengenai kasus (pulau?) D itu, saya tak tahu menahu; tetapi saya bisa mengerti yang namanya aturan itu bisa dicari celahnya kok. Saya dapati beberapa kasus org yg married di gereja katolik utk kedua kalinya padahal tidak ada anulasi utk perkawinan pertamanya. Begitulah Gereja yg hendak kita bangun, memprihatinkan memang. (Fungsi pengumuman pernikahan di gereja, misalnya, tak banyak digubris, harusnya umat menyampaikan laporan kalau ada ketidakberesan, tapi umumnya tutup mata, kan? Pastornya tentu sulit mendapat informasi kalau tak ada bantuan aktif dari umat. Tapi begitulah dunia kita, Bu). Berkah Dalem.

      Like

  2. Ternyata istilah aturan dibuat utk dilanggar jg bisa berlaku di gereja haha, miris. Utk public figure kayak D ini, tanpa laporan umat pun gereja sudah pny akses informasi, dan semoga saat mengeluarkan dispensasi mantan nya si D jg diberi tahu oleh pihak yg mengeluarkan dispensasi kalau dia jg sekarang bebas utk melangkah sama spt si D (just been informed by another priest through a DM about this reciprocal reservation to the 2nd party, because it takes two to tango, right). Yg ngenes kl gereja kasih dispensasi pd satu pihak secara diam2, tp gak merasa ada kewajiban utk info ke pihak satunya kl dg ada dispensasi itu, keterikatan pd sakramen yg seumur hidup sekali itu jg jadi gugur pd pihak satunya, padahal menyangkut masa depan phk kedua tsb jg! Yalah, kalau gak ingat cinta yg tulus pada Tuhan (bukan sekedar pd institusi gereja itu) udah males kali berhubungan dg birokrasi gereja. Thank u atas responnya 🙏

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s