Pilih Penyakit

Dalam buku pegangan pelajaran agama ada entry mengenai tujuh dosa pokok. Sekali lagi, tak perlulah Anda berpikir bahwa Tuhanlah yang menentukan tujuh hal itu sebagai dosa pokok. Tidak, ini hanya refleksi manusia yang mau mengerti misteri hidupnya di hadapan Allah. Kalau Anda merasa stagnan atau tak beranjak dari situasi buruk hidup lahir batin, coba saja periksa siapa tahu Anda mengidap salah satu dari tujuh dosa pokok tadi: kesombongan, ketamakan, iri hati, kemarahan, hawa nafsu, kerakusan, dan kemalasan. Kalau Anda menemukan hal lain, silakan tambah saja, feel free! Gibel, misalnya, gila belanja. Lah, itu kan termasuk ketamakan, Rom? Oh iya ya, tapi bergantung belanja apa dulu sih.😁
Kenapa disebut pokok?
Karena dari situ bisa muncul aneka macam cover-up atau defence-mechanism yang menimbulkan problem lain.
Apakah sama dengan dosa asal?
Beda, karena dosa asal dihubungkan dengan tendensi rapuh kodrat kemanusiaan, yang memungkinkan orang jatuh pada dosa-dosa pokok tadi. Barangkali kesombongan bisa dimasukkan ke sini, tetapi ilmu mutakhir kemanusiaan bisa menjelaskan bagaimana lingkup genetis dan sosial bisa memengaruhi kelanggengan kerapuhan kodrat manusia itu. Akibatnya seperti yang dikatakan Paulus: maunya sih melakukan yang baik, tapi kenyataannya bukan apa yang kumaui itu yang kuperbuat, melainkan yang kubenci (yaitu yang jahat), itulah yang kuperbuat. (Rm 7,15). Tiap orang punya inkonsistensinya sendiri-sendiri, tetapi jelaslah inkonsistensi itu ada selepas ‘manusia pertama’ memisahkan diri dari rengkuhan cinta Allah.

Salah satu karakter dalam narasi teks bacaan pertama mengidap kemarahan yang barangkali disebabkan oleh iri hatinya karena tokoh lain menarik hati jauh lebih banyak orang daripada dia, padahal dia itu gubernur #eh…. raja loh. Dari situ, ia berikhtiar membunuh Daud (bukan cuma menelantarkan hasil kerja Daud #eh). Syukurlah, Yonatan, anak raja ini waras, dan dia mengingatkan ayahnya supaya tak bertindak sembrono terhadap orang tak berdosa. Saul menarik ikhtiarnya untuk membunuh Daud.

Kembali ke pokok bagaimana Saul menjadi marah karena tak tahan dengan pujian orang banyak kepada Daud. Pujian kepada orang lain yang bertubi-tubi jebulnya bisa bikin gerah. Tak mengherankan, juga dalam teks bacaan kedua, Guru dari Nazareth melarang keras orang menyampaikan identitasnya sebagai Mesias.
Kenapa? Karena identitas itu bisa ditangkap secara keliru (sebagaimana Saul merasa terancam karena pujian orang kepada Daud). Persisnya, Mesias bisa dipahami orang banyak sebagai raja alternatif yang bakal sanggup mengelola bangsa Israel sebagai kerajaan yang mampu bersaing dengan negara-negara maju.

Dinarasikan bahkan Guru dari Nazareth ini tak membiarkan dirinya dihimpit oleh orang banyak yang mengelu-elukannya. Bukan karena pujian itu jelek, melainkan karena pujian orang banyak itu bisa menyesatkan. Orang dari dulu sampai sekarang ya sama saja, tak bosan-bosannya dengan yang sensasional atau spektakular, bahkan kecelakaan pun bisa jadi objek tontonan untuk berhimpit-himpitan berkerumun.
Guru dari Nazareth mengerti betul kerja roh jahat: membongkar identitasnya supaya orang banyak terpukaw dan tersesat oleh persepsi mereka sendiri. Guru dari Nazareth meminta kedalaman iman yang tidak berasal dari sensasi, gerak-gerik emosi, bahkan meskipun labelnya adalah pujian kepada Allah. A deep faith goes beyond easy popularity.

Tuhan, mohon rahmat supaya iman pada cinta-Mu semakin mendalam. Amin.


KAMIS BIASA II A/2
23 Januari 2020

1Sam 18,6-9;19,1-7
Mrk 3,7-12

Posting Tahun B/2 2018: Allah yang Woles
Posting Tahun C/2 2016: #KamiTidakTakutNaksir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s