I Forgive

He can turn the tides and calm the angry sea;
He alone decides who writes a symphony;
He lights every star that makes the darkness bright;
He keeps watch all through each long and lonely night;
He still finds the time to hear a child’s first prayer;
Saint or sinner calls and always finds him there.
Though it makes him sad to see the way we live,
He’ll always say, “I forgive.”

He can grant a wish or make a dream come true;
He can paint the clouds and turn to gray the blue;
He alone is there to find a rainbow’s end;
He alone can see what lies beyond the bend;
He can touch a tree and turn the leaves to gold;
He knows every lie that you and I have told.
Though it makes him sad to see the way we live,
He’ll always say, “I forgive.”

Kalau Anda membaca teks itu dengan melodi tertentu di kepala, barangkali Anda pernah ikut paduan suara dan menyanyikan lagunya. He judulnya. Konon melodinya dibikin Jack Richards dan liriknya bikinan Richard Mullen. Ini satu-satunya lagu yang saya bisa mengiringi dengan piano dari awal sampai akhir… sekitar dua puluh lima tahun lalu.😁

Selain melodi dan aransemen musiknya yang saya suka, liriknya cool, bisa menggambarkan ziarah hidup begitu banyak orang, dan klop dengan kedua bacaan hari ini. Kalimat pertama merujuk pada narasi bacaan kedua dan kalimat penutup kedua bait mengingatkan pembaca pada kisah bacaan pertama.

Ada sebagian orang yang berprinsip untuk tidak memberikan kritik atau catatan negatif kepada orang lain dengan alasan pedagogis. Katanya, menyampaikan hal-hal positif lebih efektif mengembangkan hidup orang. Ini mulia. Akan tetapi, alasan itu bisa saja cuma kamuflase bin modus bahwa yang bersangkutan tidak mau dikritik.

Natan mendapat panggilan untuk menegur Daud, yang kemarin dikisahkan telah membuat konspirasi untuk membunuh suami Batsyeba, yang mandinya bikin Daud terjungkal. Ada dua hal yang menarik saya dari Natan. Pertama, ia menyampaikan kritik dengan menyentil rasa keadilan Daud, bukan dengan secara langsung menudingnya telah berkonspirasi membunuh Uria. Bagusnya, Daud masih punya rasa keadilan sehingga tudingan Natan terasa lebih menghunjam mak jleb. Kedua, Natan melontarkan kebenaran universal setelah Daud melihat kesalahan dan pengakuan bahwa ia telah berdosa kepada Tuhan: Tuhan telah menjauhkan dosa itu dari Daud.

Betul. He’ll always say,”I forgive.” 
Saya juga tak mengerti bagaimana dunia jadinya kalau Allah tidak selalu mengatakan “I forgive“, wong Dia maha pengampun. Masalahnya, manusia itu kerap ngelunjak, dikasih hati masih juga merogoh rempela. Sudah diberi yang terbaik, masih tamak juga meminta yang receh.
Maka, meskipun pengampunan terjadi, implikasi kesalahan kan tidak berhenti, entah secara biologis, psikis atau sosial. Baiklah orang seperti Daud ini ikut menanggung implikasinya, bukan karena Allah tidak mengampuni, melainkan karena memang manusia hidup dalam dunia sebab akibat. Pengampunan berfungsi juga supaya orang berdamai, tidak takut pada hukum sebab akibat itu, menatanya supaya Allah semakin dimuliakan.

Tuhan, semoga rasa keadilan kami senantiasa bertumbuh dalam cinta-Mu. Amin.


SABTU BIASA III A/2
1 Februari 2020

2Sam 12,1-7a.11-17
Mrk 4,35-41

Posting Tahun B/2 2018: Becak Coba Bawa Saya
Posting Tahun C/2 2016: Maunya Mbilung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s