Wang Sinawang

Penggalan kisah Raja Daud yang dikhianati anaknya sendiri cukup mengharukan karena mawas dirinya. Mungkin dia sadar betul bahwa perkara wang sinawang itu bisa bikin orang gelap mata, sebagaimana dialaminya sendiri dengan istri Uria. Tak mengherankan bahwa trah Raja Saul yang digantikannya pun menyimpan semacam dendam tertentu karena perkara wang sinawang. Ini juga yang menimpa orang-orang zaman now yang ngidam jadi raja.

Daud rupanya sudah katam dengan wang sinawang yang mengandalkan indra fisik. Ia beranjak ke cara pandang hidup yang bisa merelatifkan pentingnya aneka macam wujud badaniah dari kekuasaan. Caci maki yang diterimanya dari trah Saul tidak membuatnya terancam. Bukan cuma caci maki, lemparan batu pun tidak membuatnya melawan. Takut? Bukan. Apa susahnya membungkam satu orang trah Saul? Akan tetapi, kalau ia melakukan itu, ia kembali ke perkara wang sinawang indrawinya.

Daud menerima caci maki dan lemparan batu sebagai konsekuensi mawas dirinya: kalau memang Allah menghendaki, apa hak manusia untuk melawannya?
Tentu problemnya tetap tinggal: dari mana orang bisa memastikan bahwa itu kehendak Allah? Mosok Allah menghendaki orang mencaci maki dan melempari raja dan orang-orangnya dengan batu? Nah, itu balik lagi ke perkara wang sinawang indrawi tadi: mengidentikkan kehendak Allah dengan perilaku konkret. Malah puyeng sendiri akibatnya.

Kehendak Allah itu bukan sesuatu yang statis dan bisa dikungkung dalam perilaku konkret tertentu. Lha wuénak měn membuat operasionalisasi pelayanan publik terganggu njuk bilang itu kehendak Tuhan. Arogan sekali orang mengatakan bahwa kematian tetangga karena keteledorannya memotong cabang pohon tua itu sudah suratan kehendak Allah.
Lha ya sama kan, Rom, itu Daud kok bisa-bisanya mengatakan orang mencaci maki dan melempari batu sebagai kehendak
Allah?
Lha yang bilang mencaci maki dan melempari batu sebagai kehendak Allah itu ya siapa? Daud cuma melarang anak buahnya mengambil tindakan untuk membungkam Simei kalau-kalau memang itulah yang jadi cara sehingga Daud mendapat belas kasihan dari Allah sendiri.

Nah, mungkin terlalu jauh membahas Daud. Yang lebih dekat adalah perumpamaan yang pernah disodorkan Guru dari Nazareth tentang orang kaya yang berhutang sekian trilyun dan dibebaskan, tetapi ia sendiri memenjarakan tetangganya yang belum bisa melunasi hutangnya yang cuma sekian juta! Konon, semakin dicintai atau dikasihani Allah, semakin orang bersyukur dan berbuat kasih kepada sesama; tetapi perumpamaan itu jelas mengatakan bahwa dicintai Allah tak otomatis membuat orang berbuat kasih. Yang memungkinkan cinta atau belas kasihan Allah itu diteruskan menjadi cinta terhadap sesama ialah mawas diri.

Dicintai Allah, itu kenyataan objektif, tetapi tak semua orang mawas diri sehingga dapat mengalami kenyataan objektif itu sebagai pengalaman subjektifnya. Itulah yang diharapkan Guru dari Nazareth kepada orang kerasukan setan yang disembuhkannya. Ia memintanya untuk pulang ke kampungnya. Alih-alih mengikuti Yesus dengan nginthil ke sana kemari, ia mengikuti Yesus dengan pulang kampung dan mewartakan kasih Allah yang jadi pengalaman subjektifnya. Dengan begitu, mengikuti Yesus juga bukan perkara wang sinawang dengan Yesusnya, melainkan soal mewartakan bagaimana belas kasihan Allah bekerja dalam dirinya. 

Tuhan, mohon rahmat untuk mampu mengalami cinta-Mu dan mempersaksikannya dalam tindakan kepada orang-orang di sekeliling kami. Amin.


SENIN BIASA IV A/2
3 Februari 2020

2Sam 15,13-14.30; 16,5-13a
Mrk 5,1-20

Posting Tahun B/2 2018: Agama Racun
Posting Tahun C/2 2016: Yang Haram Memang Enak

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s