Citra Cinta

Dulu saya kagum pada teman, pemain teater, yang bisa menghafal dialog-dialog berat dan panjang dalam drama. Seiring dengan itu, saya kepo terhadap tata panggung: ada bagian depan, kiri dan kanan, yang berbentuk seperti kotak penutup lampu. Anehnya, dalam setiap pentas seni, saya tak pernah melihat sinar lampu dari arah kotak penutup itu. Ketika saya cek, memang rupanya tak ada lampu di situ. Selidik punya selidik, ternyata di situlah para pembisik mengambil posisi dari bawah panggung untuk membantu para pemain teater di kala mereka kelupaan dialog. Seperti pembisik itulah gambaran ‘seorang Penolong’ (παράκλητος, parakletos, Yunani) dalam teks bacaan hari ini. Tentu maksud ‘seorang Penolong’ tadi adalah Roh Kudus.

Ada tiga pengertian pokok yang dipakai untuk memahami παράκλητος. Pertama, seperti seorang advokat dalam pengadilan. Cuma, dalam hal ini bukan advokat yang mencari keringanan hukuman, melainkan advokat yang memberi kekuatan untuk menghadapi persoalan. Kalau seseorang hidup benar, παράκλητος menguatkannya untuk menghadapi tuduhan bahkan untuk mengampuni mereka yang mencederainya. Kalau orang ini bersalah, παράκλητος memberinya kekuatan untuk memohon pengampunan dan bangkit dari keterpurukannya. Maka, παράκλητος menjadi kendaraan cinta ilahi, yang tidak main tuduh orang dalam peziarahan hidupnya.

Kedua, berbeda dari nuansa pengadilan: teman sebagai penghibur. Kalau Anda punya teman yang pandai memberi penghiburan dan memikul bersama kesulitan Anda, begitulah παράκλητος. Mungkin persoalannya tetap rumit dan bebannya berat, tetapi kehadiran teman ini membuat Anda menjalani hidup dengan ringan dan persoalan rumit pun jadi tak serumit kelihatannya. Hidup Anda menjadi lebih merdeka, lepas dari beban yang bisa jadi muncul karena Anda tak punya teman παράκλητος ini.

Ketiga, ya yang saya taruh di paragraf pertama tadi. Tentu bukan perkara bisik-bisiknya, melainkan fungsi penasihatnya. Dalam gawai kita kenal misalnya fasilitas word suggestions atau bahkan koreksi kata. Fungsi ini dulu pernah disinggung dalam nasihat Guru dari Nazareth: kalau kamu difitnah orang, tak usah khawatir akan apa yang harus kamu katakan, Roh Kudus punya fasilitas word suggestions tadi, sampai bisa jadi yang omong bukan kamu sendiri, melainkan Roh Kudus itu. Kerasukan?😂 out of topic.

Pengertian παράκλητος tadi relevan untuk mengerti kalimat sebelumnya: jika kamu mencintai Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Kata kerja yang dipakai untuk ‘cinta’ di situ ialah ἀγαπάν (agapan, Yunani): seperti kasih ibu, tetapi objeknya bukan hanya anak, kerabat, kenalannya sendiri, melainkan seluruh kehidupan. Artinya, ujung akhirnya senantiasa kebaikan yang lain, tak pernah diri sendiri, entah disadari atau tidak. Itulah cinta, yang jadi karakter orang beriman, dan kalau orang mencinta, ia mestilah menaati segala perintah Tuhan.

Soalnya, mengapa cinta ditautkan pada ketaatan terhadap perintah Allah? Apakah ini seperti relasi hirarkis hamba kepada tuannya? Rupanya justru berkebalikan dengan itu. Mungkin lebih gampang dimengerti dari nuansa cinta lain: έρως (eros, Yunani). Ini seperti orang yang jatuh cinta dan maunya dekat-dekat dan berusaha bertingkah laku apa saja yang menyenangkan orang yang dijatuhi cintanya. Ini bukan perkara orang yang dijatuhi cinta menyuruh ini dan itu, melainkan bahwa orang yang jatuh cinta berusaha melakukan adjustment dalam dirinya supaya klop dengan proyek hidup sosok yang dijatuhi cinta.

Guru dari Nazareth tak pernah membahas soal kewajiban untuk menaati perintahnya, bahkan perintah Allah sekalipun! Dia memberi mandat dalam arti hirarkis seperti atasan kepada bawahan justru bukan kepada murid-murid atau orang lain, melainkan kepada ‘roh’ dunia, kekuatan gelap, dan sejenisnya. Dalam narasi Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas), dikisahkan bagaimana angin taat juga kepadanya (bkd. Mat 8, Mrk 4, Luk 8). Asal kata yang dipakai di situ ialah ὑπακούω (hupakouó, taat, Yunani), yang dalam Injil tak pernah diterapkan untuk relasi dengan manusia. Manusia tidak dipanggil untuk menaati Allah, tetapi untuk menyerupai Allah, mencitrakan diri-Nya. Apa citra diri Allah itu? Ya ἀγαπάν tadi, cinta bagaikan surya, semata menerangi dunia, mengusir kegelapan hidup yang lain.

Oleh karena itu, kalau orang sungguh beriman, juga dalam beragamanya, ia tidak menghayatinya sebagai beban karena relasi hirarkis dengan Allah. Ketaatannya kepada Allah pun bukan lagi ketaatan karena diperintah dari luar, melainkan passion dari dalam untuk melakukan sinkronisasi sehingga hidupnya sungguh mencitrakan cinta agape secara konkret. Sepuluh Perintah Allah, dengan demikian, bukan lagi sepuluh kewajiban dari Allah, melainkan rekomendasi (word suggestions tadi) supaya orang dapat membuat hidupnya sinkron dengan kehendak Allah, yang terus menerus perlu dicari. Untuk itu, dibutuhkan parakletosParantos deh.

Tuhan, mohon rahmat kekuatan-Mu supaya kami jadi citra Cinta-Mu. Amin.


HARI MINGGU PASKA VI A/2
17 Mei 2020

Kis 8,5-8.14-17
1Ptr 3,15-18
Yoh 14,15-21

Posting 2017: Ateis Oportunis
Posting 2014: Haji Heribertus

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s