Terserah Indonesia

Tenaga kesehatan jengkel pada masyarakat yang seenaknya sendiri berkongko-kongko di tempat publik tanpa mengindahkan social distancing sementara mereka berjibaku merawat pasien korona. Pemilik perusahaan yang harus tutup dan menanggung beban gaji karyawan geram karena kebijakan pemerintah terkesan tak konsisten. Perjuangan mati-matian dan pantang keluar rumah berpuluh-puluh hari terasa tak dihargai, terasa dilecehkan, terasa sia-sia. Itu sangat bisa dimengerti.

Saya sendiri terkejut ketika melihat warung grosir di sebelah utara kota tinggal saya ini begitu padat. Saya tidak masuk, hanya melihat dari tepi jalan. Parkiran mobil penuh, sampai ada yang parkir di pinggir jalan besar. Jebulnya memang beberapa waktu kemudian warung itu jadi klaster penyebaran virus. Semoga followers klaster itu tak merambah tempat tinggal saya, ya Allah, tapi kalau iya pun, mau gimana lagi dong?😁

Doa adalah komitmen, begitu kata seorang teolog. Ini bukan perkara ketekunan pada ritualisme, melainkan soal konektivitas dengan pokok persoalan konkret manusia. Anda tak bisa sungguh-sungguh mendoakan seseorang sampai Anda sendiri siap membantunya.
Ya kalo gitu mah langsung bantu aja kan, Rom? Ngapain mendoakan orang lain segala?
Karena, mendoakan orang lain itu membuat bantuan Anda lebih komplet.
Lebih komplet gimana, Rom? Wong Romo cuma komat-kamit merem di rumah tidak datang bantu orang susah, bahkan kirim uang pun ogah! Gak ada bantu-bantunya sama sekali, kok malah dibilang komplet!

Baiklah, contoh konkret. Maaf, saya ambil dari tradisi Katolik, wong memang itu yang saya hidupi. Saya ambil rosario. Ini adalah doa devosi kepada Bunda Maria. Ini bukan doa wajib, melainkan jenis doa sederhana yang bergantung pada rasa bakti pendoanya sendiri. Sudah saya terangkan dalam halaman Doa Rosario bahwa doa ini merupakan bantuan untuk semakin mengerti misteri iman. Misteri bukan semata perkara “di luar sana” (bahwa misalnya Maria menerima kabar sukacita), melainkan juga perkara “di dalam sini” (bahwa diriku pun punya konsep, sikap tertentu mengenai apa yang disebut sukacita, bagaimana mendengarkan, dan seterusnya).

Kalau begitu, logika doa rosario bukanlah “Hai Bunda Maria, tolong ya itu Covid-19 jangan sampai merambah tempat tinggalku!” atau “Bunda, bilangin pemerintah supaya gak bikin kebijakan yang méncla-ménclé!”, dan sejenisnya, yang intinya memanipulasi kekuatan ilahi demi kepentingan pribadi. Logika doa rosario ialah seperti “Bunda, sebagaimana engkau menjawab ‘ya’ terhadap kabar sukacita itu, bantulah aku supaya mampu mengenali kabar sukacita dan mengambil tanggung jawab supaya sukacita itu semakin luas.”

Kepentingan diri di sini hanya sejauh bersangkutan dengan komitmen untuk meluaskan sukacita itu sendiri. Dengan logika doa seperti itu, pendoa diantar untuk melihat kepentungan eh kepentingan universal dulu dan meneguhkan komitmen pada kepentingan itu. Selanjutnya, terserah Indonesia yang hendak dibangun Indonesia macam mana. Kalau tidak begitu, seperti diinsinuasikan teks bacaan hari ini: bahkan orang mengira sedang berbakti kepada Allah ketika ia malah mencederai ciptaan-Nya. Ha njuk bantuan pendoa ke orang lain tadi mana, Rom?🤣

Gini aja deh. Saya kasih lagu pelajaran anak-anak ya. Ini bikinan Sergio Endrigo (bacanya serjo endrigo, pastinya bukan dari generasi rebahan). Liriknya begini:
Hal-hal keseharian menyingkap rahasia kepada mereka yang paham cara melihat dan mendengarkan. Untuk membuat meja, dibutuhkan kayu. Untuk membuat kayu itu, diperlukan pohon. Untuk membuat pohon, dibutuhkan benih. Untuk membuat benih, dibutuhkan buah. Untuk membuat buah, dibutuhkan bunga. Jadi, untuk membuat meja, dibutuhkan bunga.🤣

Masih ada bait kedua. Isinya kira-kira: supaya ada bunga, dibutuhkan ranting. Ada ranting, kalau ada batang. Ada batang, kalau ada pohon. Pohon itu ada di hutan, yang butuh gunung, yang memerlukan tanah. Untuk bikin tanah, rupanya dibutuhkan bunga. Jadi, untuk membuat semuanya dibutuhkan doa #eh… bunga.
Ya Allah, mohon rahmat supaya komitmen hidup kami terpatri pada kehendak-Mu bagi kesejahteraan hidup bersama
. Amin.


SENIN PASKA VI
18 Mei 2020

Kis 16,11-15
Yoh 15,26-16,4a

Posting 2019: Kenalan Allah
Posting 2018: Kala(h n)jengking

Posting 2017: Bullying Bullying Kekasihku

Posting 2016: Terpaksa Sekolah?
 
Posting 2015: “Maling” Tuhan

Posting 2014: Beriman tapi Gembira

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s