Kenalan Allah

Sebutlah saya anak durhaka, tetapi memang kenyataannya rasa kangen kepada keponakan selalu jauh lebih kuat daripada rasa kangen terhadap orang tua saya sendiri. Saya curiga, jangan-jangan orang tua saya pun jauh lebih kangen terhadap keponakan saya, alias cucunya, daripada terhadap saya.😂

Foto jepretan Agung Wilis Yudha Baskoro (@masagungwilis) sempat viral dan mendatangkan simpati terhadap dua polisi itu. Tentu saja, simpati itu ada dalam konteks keseluruhan aparat keamanan yang bertugas mengantisipasi kerusuhan, yang rupa-rupanya berkelindan dengan kepentingan Prabowo-Sandi yang kalah pilpres tapi tak mau mengakui kekalahannya. [Lha cetha ta, mosok menang pilpres bikin rusuh?] Barangkali memang teks bacaan hari ini cocok disampaikan kepada seluruh barisan TNI/Polri yang bertugas menjaga keamanan pasca pemilu sekarang ini: Akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti kepada Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku.

Siapa yang dimaksud Bapa di situ? Jelas: Allah, Tuhan YME. Siapakah Aku? Guru dari Nazareth sejauh dipersepsikan sebagai perwahyuan Allah sendiri sebagaimana halnya Alquran dalam Islam atau Taurat Musa dalam agama Yahudi.
Dengan demikian, sudah diperingatkan oleh Guru dari Nazareth itu bahwa mesti datang waktunya ketika orang-orang membuat rusuh, hoaks, provokasi, kekacauan atas nama Islam, atas nama pemurnian agama, apa pun namanya, justru karena mereka itu tak mengenal Allah dan Alquran-Nya. Itu juga berlaku untuk kerusuhan yang dibuat orang Kristen: persis karena mereka tidak mengenal Allah dan Yesus Kristus.

Memang runyamlah membawa-bawa Allah dan agama dalam urusan politik kepentingan sempit. Bahaya nyata pencampuradukan politik dan agama ini selalu berupa sifat keduniawian agama yang lupa akan rohnya, yang membuatnya jadi munafik. Hukum agama pun bisa dipelintir demi melindungi gelojoh kekuasaan atau wo2 adware yang saya jabarkan dua hari lalu. Ini memang akan menyulitkan suatu spiritual discernment karena roh jahat bisa mengambil kedok kebaikan. Ambillah contoh pernyataan-pernyataan yang dilontarkan wo2 adware itu: mestilah yang diangkat soal keadilan dan demokrasi yang baik. Akan tetapi, apakah pernyataan itu dilontarkan dengan prinsip keadilan dan transparansi? Saya yakin: tidak.

Beberapa meme yang bersliweran pada dinding medsos saya mengindikasikan inkonsistensi orang-orang yang terkena wo2 adware itu. Dulunya bilang yakin pemilu 2019 ini jurdil, sekarang ikut-ikutan menyatakan ada kecurangan yang terstruktur, masif dan sistematis. Dulunya mencuit kunci demokrasi ada pada pihak yang kalah untuk menerima kekalahannya, sekarang malah omong soal pemilu yang bersih, rapi, seakan-akan kalau yang kalah tidak mau menerima kekalahan berarti pemilunya tak bersih atau rapi.😡

Loh, kok menyeringai gitu, Rom? Bukankah tadi bilang sendiri bahwa tiba saatnya orang yang membunuh kamu itu meyakininya sebagai bakti kepada Allah justru karena mereka tak mengenal Allah dan Sabda-Nya? Oh iya ya, kenapa mesti sewot?😂
Malah dari orang-orang yang terkena wo2 adware ini saya bisa mawas diri jangan-jangan saya juga terkena adware itu, hidup dalam inkonsistensi, dan doa makin getol untuk presiden dan seluruh aparat negara supaya jeli dan tahan melawan kekuatan wo2 adware ini.

Ya Allah, mohon rahmat kesetiaan pada Sabda-Mu. Amin.


SENIN PASKA VI
27 Mei 2019

Kis 16,11-15
Yoh 15,26-16,4a

Posting 2018: Kala(h n)jengking
Posting 2017: Bullying Bullying Kekasihku

Posting 2016: Terpaksa Sekolah?
 
Posting 2015: “Maling” Tuhan

Posting 2014: Beriman tapi Gembira

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s