Tek Kotek Kotek Konteks

Salah satu alasan saya bertahan di dunia medsos ialah untuk menghibur diri di tengah kepenatan membaca dan menulis (yang gak selancar menulis di blog ini😂). Hiburan itu bisa datang dari status teman yang aktif bekerja, aktif plesir, atau aktif membagikan hal-hal lucu atau konyol. Salah satu yang kemarin dibagikan teman saya ialah cuitan @AkunTofa: DARIPADA JATUH KORBAN dari rakyat dan juga aparat. MOHON dengan segala kerendahan hati Pak @jokowi undur diri. Tirulah Pak Harto.

Terhiburkah Anda? Atau malah jengkel? Saya sarankan sih gak usah jengkel. Kalau saya, mending terima medsos untuk lucu-lucuan aja. Kalau memang ada yang penting ya dipetik, tapi kalau tidak, anggap saja itu kerjaan orang sinting salah ketik (karena pikirannya kurang mlêthik dan anunya kurang setitik). Tentu lain soalnya kalau Anda anggota badan intelijen negara.

Apa yang lucu dari cuitan @AkunTofa tadi? Untuk saya, kalimat terakhirnya: Tirulah Pak Harto!
Saya gêdabigan ikut gerakan mahasiswa ’98 untuk melengserkan diktator bernama Soeharto kok malah sekarang mesti meniru Pak Harto itu.
Lah itu kan usulan untuk Jokowi, Rom?
Iya, karena sekarang Jokowi adalah presiden atau Jokowi adalah kita, usulan itu juga berlaku untuk saya.

Ada lagi cuitan lucu dari @RizkiAljupri dengan hashtag #JokowiMundurlah: Pak @Jokowi, saya tidak memiliki niat sedikit pun untuk makar. Saya cuman minta Bapak berbesar hati untuk mengundurkan diri. Kita sama-sama mencintai Indonesia. Negara ini akan semakin terbelah jika terus dipimpin oleh Anda.
Ini juga memancing senyum prihatin saya, seperti tuntutan kepada MK untuk mendiskualifikasi Jokowi-Amin dan menetapkan Prabowo-Sandi sebagai presiden dan wakilnya. Andai saja MK menetapkan mereka sebagai presiden dan wakil presiden Kertanegara… sekurang-kurangnya saya punya kenalan warga Kertanegara, kalau dia belum pindah.😂

Nah, sekarang bagian siriêsnya [siap-siap tutup browser dan ngerjain pekerjaan lain deh, Rom🤣]. Entah cuitan lucu atau konyol, keduanya tak mampu mengenali konteks hidup baru alias tak bisa move on. Itu seperti membawa buku “Jokowi People Power” sebagai tameng gitu deh. Namanya aja Sengkuni, ia tak (mau) tahu perubahan konteks. Teksnya sama, ya udah gitu aja.

Teks hari ini bicara mengenai keterangan Guru dari Nazareth bahwa ia mesti mundur dari ubyang-ubyungnya bersama murid-muridnya. Dia memang harus mundur, karena kalau tidak, malah tak ada roh murni [yaitu roh yang tak terikat oleh kehadiran fisik Guru dari Nazareth itu] yang akan menuntun murid-muridnya itu. Jadi, Guru dari Nazareth itu justru menunjukkan konteks hidup baru kepada murid-muridnya.
Anda mungkin masih ingat makna kebangkitan seturut suatu lukisan dinding sebuah gereja di Istanbul, Turki. Poinnya, Guru dari Nazareth itu bangkit dalam arti dia hidup dalam persekutuan dengan Allah, konteks baru. Akan tetapi, “persekutuan dengan Allah” itu juga jadi teks yang artinya mesti terus dicari murid-muridnya dalam konteks yang berubah-ubah.

Kegagalan mengenali perubahan konteks itulah yang bukan hanya bikin rusuh negara, melainkan juga membuat agama amburadul: teks yang semestinya inklusif jadi eksklusif karena gelojoh kekuasaan, entah kekuasaan politik atau agama.
Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan supaya kami senantiasa mampu menangkap Roh-Mu dalam konteks hidup yang terus berubah. Amin.


SELASA PASKA VI
28 Mei 2019

Kis 16,22-34
Yoh 16,5-11

Posting 2018: Nothing Tulus
Posting 2017: Untuk Koh Ahok

Posting 2016: Perpisahan Mendewasakan

Posting 2014: Sakit Boleh, Menderita Jangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s