Pandemi Agama

Saya tidak bermaksud menambah perasaan negatif Anda, tetapi saya jabarkan contoh tendensi kerapuhan manusia yang berkelindan dengan kerapuhan manusia lainnya. Ini sekadar untuk memahami bahwa penanganan pandemi juga bukan perkara ekonomi semata sehingga perkara-perkara lainnya mesti dipertentangkan dengan kepentingan ekonomi ini.
Ceritanya sederhana. Beberapa keluarga miskin menyampaikan kesulitan ekonomi sehingga untuk makan pun mereka mengalami kesulitan. Mereka meminta ketua RT untuk mengusahakan bantuan sosial dari pemerintah. Granted. Mereka mendapat bantuan enam ratus ribu tanpa potongan sama sekali. Apa yang mereka peroleh dengan enam ratus ribu itu? Beberapa helai pakaian baru untuk persiapan lebaran!

Di mana letak kerapuhannya? Pada putusnya sambungan antara kata dan tindakan. Saya tidak mempersoalkan kacaunya prioritas kebutuhan keluarga itu karena bisa jadi teori Maslow tak berlaku. Yang saya persoalkan ialah integritasnya. Kalau memang butuh baju baru ya katakan saja toh butuh baju baru; siapa tahu RT-nya bisa mempersuasi pemilik toko pakaian untuk memberi diskon besar-besaran atau malah menggratiskan barang jualannya? Anda tidak bisa membuat dalih bahwa orang miskin tak memikirkan soal integritas dan tidak hidup dari integritas karena kasus korupsi kelas kakap tidak dilakukan oleh orang miskin. Integritas ini bukan perkara apakah seseorang miskin atau kaya, pengusaha kecil atau besar, ketua RT atau bos proyek MRT, sinden atau presiden. 

Begitu pula, integritas menantang orang beragama: apakah hidup beragamanya masuk akal atau termasuk brutal. Kalau masuk akal, semestinyalah jadi rahmatan-lil-alamin. Kalau brutal, hidup orang beragama cuma jadi hambatan alias skandal. Salah satu teks yang bisa jadi skandal adalah yang dibacakan pada hari ini. Sudah saya bahas dalam posting dulu sih, tetapi baik juga saya tegaskan kembali karena saya diingatkan oleh mantan pastor (mantan pastor beneran, dari Amerika, bukan mantan abal-abal) yang semalam memberikan ceramah online. Beliau ini mengalami pergumulan seperti yang sejak lama saya gumuli, tetapi pergumulannya berbuah dengan tulisan Without Buddha I Could not be a Christian. Pergumulan saya belum berbuah-buah juga.😂

Pandemi ini sebetulnya menuntun agama dengan visi ke depan yang menantang: menjadi lebih mistik daripada sebelumnya, meskipun tetap aktif. Akan tetapi, orang cenderung lekat dengan kebiasaan tradisinya sendiri! Seperti sudah saya singgung beberapa waktu lalu, pandemi cuma mengonlinekan apa yang biasanya offline. Lalu muncul pandemi agama yang pemukanya tak punya integritas tadi.
Jangan bertele-tele, Rom. Teksnya?
“Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.”

Ada dua kata dalam bahasa Yunani yang dipakai untuk menerangkan tindak “membaptis”: bapto dan baptizo. Yang dipakai dalam teks bacaan hari ini ialah baptizo (βαπτίζοντες, baptizontes). Apa bedanya? Saya salinkan dari tautan belajar Kitab Suci ini. The clearest example that shows the meaning of baptizo is a text from the Greek poet and physician Nicander, who lived about 200 B.C. It is a recipe for making pickles and is helpful because it uses both words. Nicander says that in order to make a pickle, the vegetable should first be ‘dipped’ (bapto) into boiling water and then ‘baptized’ (baptizo) in the vinegar solution. Both verbs concern the immersing of vegetables in a solution. But the first is temporary. The second, the act of baptizing the vegetable, produces a permanent change.

Perubahan permanen tidak terletak pada tindakan baptis selam atau celup, tetapi pada tindakan baptis rendam: membiarkan orang yang dibaptis itu berendam dalam relasi trinitas, dan ini sama sekali bukan perkara ritual atau doktrin Tritunggal, melainkan perkara hidup konkret, aktif, yang berkelindan dengan kontemplasi relasi keilahian dan kemanusiaan yang dimungkinkan oleh Roh Kudus itu. Sayangnya, agama yang menghidupi integritas macam ini belum jadi pandemi.

Tuhan, utuslah Roh-Mu supaya jadi baru seluruh muka bumi. Amin.


HARI RAYA KENAIKAN TUHAN
(Kamis Paska VI A/2)
21 Mei 2020

Kis 1,1-11
Ef 1,17-23
Mat 28,16-20

Posting 2017: Mesti Takut, Gitu?
Posting 2014: Kenaikan Tuhan Menuntut Keterlibatan

2 replies

  1. Tuhan mengijinkan pandemi Corona untuk memperbaharui seluruh muka bumi. Tinggal manusia yang butuh terbuka untuk memahami maksud Tuhan. Semoga manusia punya waktu untuk merenungkan makna.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s