Small Pieces Big Picture

Seorang imam Katolik tidak boleh membocorkan rahasia pengakuan dosa. Itu mengapa potensi kebocoran pun ditutupi, dan imbasnya sakramen tobat lewat kamar pengakuan ini tidak bisa dilakukan secara daring.
Tentu saya punya pertanyaan nakal: bagaimana dengan teknologi semacam spy ear listening amplifier yang bisa menyadap suara dari jarak ratusan meter atau bahkan kilometer? Bukankah itu membuat pengakuan orang bocor juga?😂 Betul, tapi yang namanya roh jahat itu memang mencari segala macam cara, kan?

Saya bisa dengan tenang mengetik pada blog ini karena web hosting yang saya pakai ini punya fasilitas keamanan yang tepercaya. Saya percaya mereka melindungi blog saya dari spam. Sejauh ini ada 42 ribuan spam yang masuk dan ditangkal oleh penyedia jasa CMS (Content Management System) saya. Betapa ribetnya saya kalau setiap hari mesti menangkal spam yang masuk; malah gak fokus pada content lagi. Prinsip penangkalan kebocoran kamar pengakuan tadi kira-kira seperti itu: menutup potensi kebocoran, sedangkan perkara orang yang berniat licik jahat mau mencari cara supaya rahasia pengakuan itu bocor, ada di luar ranah wewenang imamnya, bukan?

Saya pernah menceritakan suatu kejadian di bilik pengakuan pada posting Ngaku Dosa… Apa Gunanya. Akan tetapi, itu anonim sifatnya. Saya juga bisa bilang ada anak yang masuk ke bilik pengakuan dan mengajak imamnya untuk main mobil-mobilan, apanya yang harus dirahasiakan?
Anyway, ini cuma dugaan saya: mungkin umat mengira bahwa romonya mengingat-ingat dosa yang dilakukan umat yang mengaku dosa. Padahal, mengingat-ingat pelajaran saja sulit, gimana malah mau mengingat-ingat dosa orang? Kok kayak gak punya kerjaan lain.🤭
Lha ini kok malah ngelantur. Teks bacaannya bicara soal analogi Kerajaan Allah sebagai biji sesawi dan ragi.

Nah, ingat sekarang, tadi saya mau ‘membocorkan’ nasihat di kamar pengakuan. Ini sebetulnya cuma curcol soal sedih-geli-prihatin saya kalau didatangi orang untuk pengakuan dengan membawa kertas ‘contekan’ mengenai dosa-dosanya.
Ya kan saking banyaknya, Rom, nanti kalau lupa gimana?
Loh, kalau Anda lupa dosa Anda ya malahané toh, ngirit.🤣 Tapi ini ciyus: kalau Anda sampai lupa dosa Anda, itu artinya Anda melakukannya dalam ketidaksadaran dan perkaranya tidaklah heboh-heboh amat serta dampaknya tak begitu besar pada hidup Anda. Sebutlah itu dosa receh. Cukup diakukan sebagai kesalahan yang (mungkin) tak disengaja dan tak perlu orang terbebani untuk mengingat-ingatnya sehingga waktu habis hanya untuk merem mengingat-ingatnya.

Sedih-geli-prihatin saya lainnya muncul kalau orang (dewasa) membuat litani kegagalan devosinya: lupa doa pagi, bolong misa hari Minggu, tidak mendaraskan doa Malaikat Tuhan, dan sejenis itulah. Nasihat saya sederhana: semakin dewasa hidup beriman, semakin kualitatif sifat doanya. Ini yang mau saya kaitkan dengan teks bacaan hari ini. Juga dalam hidup doa, berlaku analogi ragi dan biji sesawi. Anda boleh berkomitmen untuk berdoa meditasi per hari satu jam. Siapa yang mau melarang? Akan tetapi, kalau yang satu jam itu tak menjiwai hidup Anda 23 jam lainnya, devosi Anda seperti tong kosong yang berbunyi nyaring.

Itu bukanlah sikap negatif terhadap doa devosional atau ritual. Saya hanya mengatakan seperti ini, sebagai contoh: sapaan “Salam Maria” bahkan bisa lebih sedemikian kualitatif bagi hidup konkret Anda daripada satu putaran rosario, karena poinnya bukan berapa putaran rosario yang Anda daraskan, melainkan seberapa bermakna relasi dengan Bunda Maria itu terhubung dengan hidup konkret Anda. Seberapa dalam relasi personal Anda dengan Allah ‘bocor’ dalam cara melihat, merasa, memilih, memutuskan perkara, sejauh itulah Anda hidup sebagai orang beriman.

Tuhan, mohon rahmat kerinduan untuk senantiasa hidup bersama-Mu. Amin.


SENIN BIASA XVII A/2
27 Juli 2020

Yer 13,1-11
Mat 13,31-35

Senin Biasa XVII B/2 2018: Jahatnya Copy-Paste

6 replies

  1. Rm, yang dimaksud bac 2, ay 35, “hal tersembunyi sejak dunia dijadikan”, itu apa ya, Rm. lalu bgm cara beriman yang tepat ya, rm, mksh rm.

    Like

    • Kak Sean, karena itu “hal tersembunyi”, saya tak tahu.😅 Sinkron dengan itu, cara beriman yang tepat ya “tersembunyi”. Artinya, setiap orang perlu menemukannya dalam konteks hidupnya masing-masing. Dalam bingkai bacaan2 hari ini, itu berarti penghayatan kerendahhatian, yang menghindarkan riya’ (dlm terminologi Arab): iman sebagai dapur moralitas, tak usah dipamer2kan, yang penting hidupnya sinkron dengan iman yg tersembunyi tadi.

      Liked by 1 person

      • Jd maksudnya, hal tersembunyi menjd pengalaman otentik pd msg2 individu ya. Tdk ada yg lebih tau dr diri sendiri perihal relasi dg Allah. Bs diterima.
        Perbedaan paham/jalan yg tdk hrs membuat beriman bersifat mengancam atau menjd ancaman bg yg lain. Ok sip rm.

        Like

      • Kesimpulan “tdk ada yg lebih tau dr diri sendiri perilah relasi dg Allah” terlalu jauh, Kak. Saya hanya bilang bhw yg tersembunyi itu terkuak dlm konteks hidup masing2 orang. Alegori “dapur” tak perlu dimaknai melulu “dapur” pribadi; soalnya ada juga dapur umum.👌

        Like

  2. Aneh, tb2 sy menemukan pemahaman ttg spiritualitas dn agama. Rupanya Rm sudh keluar dr cangkang, merambah spiritualitas. Sdg sy ternyata msh terkurung, berkutat pd forma, atau bahkan proforma. Sy paham skg #wl gak ngerti apa yg sy pahami🤣# tp itu membuat ‘ngeh’ mesti lbh banyak belajar dn membaca. Terimaksh rm u pengertiannya dn kesabarannya sbg tuan rmh🤭
    Sy akn lebih banyak diam dn merenung saja mulai sekarang hahaha… trims sdh mendpt pemahaman baru di blog pribadi yg bagus ini😁🙏
    Btw proficiat 31Juli#spiritualitasignatian# salam hormat

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s