Batu Banget

Hari ini saya terkesan pada jawaban Guru dari Nazareth yang ditanyai orang Farisi yang hendak mencobainya dengan pertanyaan apakah diperbolehkan laki-laki menceraikan istrinya dengan alasan apa saja. Mungkin seturut dugaan orang Farisi, Guru dari Nazareth menjawab sesuai Kitab Suci: yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia. Nah, di situ orang Farisi seakan menemukan celah untuk menghajar Guru dari Nazareth dengan fakta bagaimana Musa menangani soal itu: kalau begitu, kenapa Musa meminta laki-laki bikin surat cerai jika mereka menceraikan istrinya?

Sebetulnya sih itu ya pertanyaan joko sembung. Memangnya ada seorang ibu menyediakan kotak P3K dengan maksud supaya anaknya segera jatuh dari sepeda dan kepalanya bonyok? Apa ada ceritanya para peneliti menciptakan vaksin supaya orang bebas menjangkiti sesamanya dengan virus Covid-19? Obat dan vaksin dibikin belakangan, kan?
Begitu pula halnya dengan surat cerai yang diperintahkan Musa, tentu bukan surat izin untuk bercerai. Guru dari Nazareth menyebutnya sebagai simbol ketegaran hati orang yang menceraikan istrinya. Mungkin sama maksudnya dengan baget alias batu banget.

Loh, Rom, lha gimana gak mau menceraikan pasangan, wong setiap hari terjadi KDRT yang berdampak bukan hanya kepada pasangan, melainkan juga kepada pendidikan anak?
Saya bisa mengerti, tetapi itu juga seperti pertanyaan joko sembung. KDRT tidak mengubah hakikat perkawinan sakral yang tak terceraikan. Letak problemnya bukan pada KDRT-nya, melainkan pada sakralitas perkawinannya. Tidak setiap orang yang menikah memang sedang membangun perkawinan sakral. Sebagian hendak membangun kerajaan, sebagian lagi hendak menunjukkan dominasi, sebagian lain mengejar kekayaan pasangan, dan seterusnya.

Saya memang punya asumsi bahwa sebagian besar orang menikah karena keniscayaan: manusia normal ya married dong, semua orang juga begitu, itu hukum alam, itu juga perintah agama, malulah jadi perjaka dan perawan tua, dan seterusnya. Bahkan, meskipun ikut kursus perkawinan pun, belum tentu di kedalaman hatinya orang sungguh hendak membangun perkawinan sakral, perkawinan yang terhubung dengan panggilan suci Allah sendiri yang hendak membangun dunia yang semakin beradab dan berkeadilan sosial [Pancasila bo’]. KDRT hanyalah salah satu manifestasi orang yang batu banget. Lha kalau KDRT bisa jadi alasan untuk membubarkan perkawinan sakral, berbahagialah pria bermata keranjang atau wanita perkasa buaya [gak harus laki-laki kan buaya itu?]: kawin dengan yang satu, ada problem sedikit gampar, njuk cerai. Cari lagi yang lain, bosan, gaplok, njuk cerai. Begitu seterusnya….

KDRT memang sangat menghancurkan, tetapi bukan legitimasi untuk membuyarkan sakralitas perkawinan. Dalam keadaan itu, pisah ranjang atau pisah rumah bisa ditempuh. Demi pembelaan korban, bisa diwujudkan dengan cerai sipil. Akan tetapi, itu tidak menghentikan gugatan batin kepada setiap pihak untuk menjawab apa yang sebetulnya dicarinya dalam hidup ini, juga dengan perkawinannya. Semakin ia melihat sakralitas perkawinan, barangkali semakin mawas dirilah ia untuk menerima kegagalan atau kesalahannya sendiri, dan dari situ bisa belajar membangun sakralitas hidupnya (syukur-syukur sakralitas hidup pasangannya). Jika orang tidak mau melihat sakralitas perkawinan, ia kembali pada pola lama dan benar-benar jadi batu banget.

Tuhan, mohon rahmat kelembutan hati untuk menangkap belas kasih-Mu dalam kekerasan hidup yang mengintai kami. Amin.


JUMAT BIASA XIX A/2
Pw S. Maksimilianus Maria Kolbe
14 Agustus 2020

Yeh 16,59-63
Mat 19,3-12

Jumat Biasa XIX C/2 2016: Perkawinan Politis?
Jumat Biasa XIX A/2 2014: Kawin Cerai Kawin Cerai

3 replies

  1. rm, kl pernikahan sbg suatu yg sakral, mk pelakunya hrs melibatkan Divine factor (kl hewan gk bs #ngakak#), dn jd selaras krn seksualitas itu bgmnpun jg ciptaan Ilahi, shg pernikahan (mau gk mau) menjd suatu ordinance (ketentuan) Ilahi. nah pertanyaannya mengapa di poster baget semuanya berambut panjang🤔😌 apakah rm pernah ketemu wanita perkasa buaya 👹 atau buaya wanita perkasa?🐊atau fiktif nih

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s