Sertifikat Cinta

Anda pernah dengar atau baca soal gerakan fototropik bunga matahari, yang terjadi karena hormon tumbuhan alias hormon auksin. Hormon ini, entah bagaimana, pokoknya somehow terkonsentrasi pada bagian batang yang tak terkena langsung cahaya matahari sehingga membuat pertumbuhannya lebih cepat. Alhasil, melengkung deh sehingga mendorong bunga menghadap matahari. Ini alamiah sekali. Yang seperti ini pating tlècèk di mana-mana, dan sebagian besar kekuatan alamiah ini mungkin masih jadi rahasia bagi kebanyakan orang. 

Empedokles, filsuf sebelum Socrates, merumuskan kekuatan cinta sebagai penggerak matahari dan bintang, kekuatan yang menyatukan keberbedaan; sedangkan benci, sebaliknya, mencerai beraikannya. Ini juga alamiah sifatnya. Tak mengherankan, juga manusia menghidupi hukum alamiah ini: mendekati teman, menyingkiri atau menolak musuh. Maka, dalam teks sabda bahagia versi Lukas yang dibacakan kemarin, dikatakan kurang lebih berbahagialah Anda yang karena memilih jalan Allah dibenci, disingkiri, bahkan difitnah orang. Kenapa? Justru penyingkiran, kebencian orang lain itu bisa jadi indikator bahwa memang betul Anda memilih jalan Allah. Bukan kebencian orang lainnya yang membahagiakan Anda, melainkan menghidupi jalan Allahnya.

Oleh karena itu, kalau pada hari ini Guru dari Nazareth merekomendasikan para muridnya untuk mencintai musuh, itu juga sebetulnya masuk akal mereka yang mengerti hukum alamiah tadi. Hanya saja, wawasan bahasa lokal kita sangat miskin untuk kata kasih dan cinta itu. Kalau tidak diidentikkan dengan perkawinan serta benih-benihnya (mulai dari cinta monyet sampai monyong), ya diidentikkan dengan pertemanan atau persahabatan. Maka, cinta ya dinikahi atau teman/sahabat ya didekati; sedangkan musuh atau orang yang tak dicintai ya dijauhi. Ini alamiah, dan Guru dari Nazareth bukannya tak tahu soal begituan. Beliau bahkan tak menyangkalnya.

Meskipun demikian, beliau menunjukkan wawasan cinta yang lebih luas daripada cinta-cinta kèk gitu tadi. Kata kerja yang dipakai dalam teks adalah Ἀγαπᾶτε (agapate, Yunani), yang memang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai bentuk imperatif jamak dari kata cinta, tetapi cinta di sini bukan lagi cinta-cinta kèk gitu tadi [loh kok diulang]. Anda tetap dapat mencintai musuh Anda karena yang Anda cintai adalah orangnya, bukan perilakunya, bukan fitnahnya, dan seterusnya.
Lha iya Rom, tapi mana mungkin memisahkan orangnya, pribadinya, dari perilakunya?
Loh, lha ya mungkin saja, kan? Memangnya setiap orang itu sempurna dan gak bisa khilaf?
Lha kalau khilafnya terus-terusan gimana, Rom?
Ya cintai terus-terusan!🤣
Ya Romo omongnya enteng, yang ngejalanin ini yang susah!

IMHO, susahnya karena kita mencampuradukkan antara pribadi dan perilaku, melengketkan perilaku pada pribadi orang. Sebetulnya sudah saya bahas kemarin-kemarin sih, tapi baiklah ambil contoh Anda sebagai orang tua. Bencikah Anda pada buah hati Anda ketika perilakunya benar-benar menjengkelkan? Apakah Anda menikam anak Anda sendiri yang menyebarkan gosip, menjelek-jelekkan Anda di depan banyak orang?
Saya kira, Anda ‘prihatin’ atas perilaku anak Anda, tetapi sulit menyebutnya dengan kualifikasi benci kepada anak Anda. Anda tetap mencintai anak Anda meskipun benci pada perilakunya. Dalam khasanah bahasa Yunani, dimensi cinta orang tua kepada anak ini disebut storge.

Nah, cinta yang disebut agape, yang dipakai Guru dari Nazareth tadi, dimensinya lebih luas daripada storge. Dengan kata lain, lingkup keprihatinannya lebih luas: bukan lagi perkara relasi orang tua ke anak, suku, bangsa, agama, melainkan perkara kemanusiaan universal. Maka dari itu, orang yang mengikuti dimensi cinta agape ini (yang sama sekali tidak disertifikasi untuk agama Kristen/Katolik; dan saya tidak pernah suka bahwa agape diidentikkan dengan kekristenan) tidak semata berpikir parokial, sektarian, atau tribal. Ini tidak mudah rupanya. Mari simak kata abang saya ini,

Tuhan, mohon rahmat cinta-Mu supaya keprihatinan dan perhatian kami sungguh melampaui batas-batas kepicikan kami. Amin.


KAMIS BIASA XXIII A/2
10 September 2020

1Kor 8,1-7.11-13
Luk 6,27-38

Kamis Biasa XXIII C/2 2016: Main Data
Kamis Biasa XXIII A/2 2014: Did You Love Enough?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s