Tak Terciduk Receh

Film serial yang mulai kami tonton minggu ini berjudul Heroes, yang bukan produksi Amerika, melainkan bikinan rumah produksi iQIYI dan teman-temannya. Ini film wuxia bergenre sejarah dengan latar abad XIX. Sudah pada awal-awal episode disuguhkan suatu skandal: Tan Si Tong, sosok pahlawan rakyat Cina, tidak mau dibebaskan oleh murid-muridnya, meskipun kesempatan itu terbuka lebar. Ia memilih ambil bagian dalam perjuangan dengan menjalani hukuman penggal kepala demi membangkitkan kesadaran bersama untuk melawan penindasan. Pilihan itu tak bisa diterima oleh Si Pedang Besar Wang Wu. Skandal itu sulit dimengertinya. Bukankah lebih baik melepaskan diri dari hukuman mati dan menggalang kekuatan untuk melawan pemerintahan yang korup akibat siasat bangsa asing?

Deklarasi Guru dari Nazareth mengenai konsep Mesias lebih absurd lagi. Ia sudah sejak awal karyanya memperkenalkan Mesias yang akan menderita dan dibunuh (meskipun kemudian bangkit lagi). Jagoan dan pahlawan yang kalah bukanlah ide bagus. Akan tetapi, memang pola pikir murid-murid dari sang Guru ini belum beranjak dari perkara-perkara horisontal, dan jelaslah sulit menerima hidup tanpa melawan penjajah, pelaku ketidakadilan, perampok, koruptor, dan sebagainya. Bagi mereka, kekacauan dunia ini harus diatasi dengan menghabisi pribadi-pribadi yang bikin dunia kacau.

Para murid itu kiranya tak bisa membedakan antara pendosa dan dosanya sendiri sehingga sulit melihat kekuatan jahat di balik orang-orang yang melakukan korupsi, menindas, menjajah, dan seterusnya. Dengan terang teks bacaan pertama, sekali lagi muncul istilah ‘kesia-siaan’, ketidakmampuan para murid untuk menengarai perbedaan ini membuat orientasi hidup mereka sia-sia. Everything comes and goes, dan mereka keukeuh meyakini bahwa Mesias haruslah sosok pemenang yang mengusir penjajah, membebaskan rakyat dari rezim korup, melenyapkan pandemi, dan sebagainya. Mereka tak bisa mengerti skandal bahwa Mesias membebaskan, menyelamatkan orang sejak dalam pikirannya: untuk tidak memberhalakan apa pun dari dunia ini. Transendensi seperti ini benar-benar jadi skandal bagi para murid Guru dari Nazareth. Bagaimana mungkin sosok terdekat Allah atau utusan Allah kalah? Itu nonsense. Manusia di pihak Allah haruslah menang, bagaimanapun caranya!

Murid-murid seperti itu, kalau hidup di masa pandemi, akan jadi naif untuk berpikir bahwa manusia Allah, umat beriman, kebal virus. Orang beriman harus antivirus atau antiair [lha itu bukannya malah rentan terhadap virus dan air ya?🤔]. Kalau sampai mati karena Covid-19 berarti imannya tipis, tidak benar-benar orangnya Allah! Tuing tuing tuing… All is vanity.
Ini saya kutipkan cuitan Febri Diansyah yang mundur dari KPK: “Sebelum akhirnya saya memutuskan ini, seorang teman bilang: Feb, jabatan, kekuasaan, bahkan penghasilan ini semua tidak sebegitu pentingnya dibanding merawat keyakinan dan prinsipmu.”

Tan Si Tong, Guru dari Nazareth, Febri Diansyah, mungkin merepresentasikan apa yang saya maksud sebagai pribadi yang menangkap transendensi kehidupan, yang tautan hidupnya lebih luas daripada sekadar perkara memenangkan hal receh: nama baik, tunjangan beras, listrik, rumah, kesehatan, kejayaan, dan sebagainya. All is vanity. Yang tidak sia-sia adalah keterpautan hati orang pada Dia yang membuat orang mampu menghadapi kesia-siaan tanpa hanyut ke dalamnya. Murid-murid Guru dari Nazareth saat itu tidak memahami hal ini.

Tuhan, mohon rahmat keterpautan hati pada-Mu sehingga hidup kami tak dikacaukan oleh aneka seruan yang menjauhkan kami dari kenyataan hidup. Amin.


SABTU BIASA XXV A/2
26 September 2020

Pkh 11,9-10;12,1-8
Luk 9,43b-45

Sabtu Biasa XXV B/2 2018: Jangan Lupa Bahagia
Sabtu Biasa XXV A/2 2014: Makan: Sensasi atau Butuh?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s