Bedanya Orang Berdoa

Tahukah Anda perbedaan antara orang yang berdoa dan tak berdoa? Jangan salah menangkap pertanyaannya: bukan beda antara orang yang menjalankan ritual dan yang tidak menjalankannya. Kalau itu kiranya mudah dijawab: yang kerap menjalankan ritual ya hafal rumusannya, melodinya, tahu kapan harus berdiri, duduk, berlutut, sujud, mencium tanah, dan seterusnya; yang jarang menjalankannya ya mungkin masih contek kiri kanan atau baca teks atau lihat gawai, dan seterusnya.

Teks bacaan hari ini menginsinuasikan perbedaan orang yang berdoa dan tidak. Guru dari Nazareth sedang berdoa seorang diri [jangan tanya saya gimana berdoanya] dan didatangi murid-muridnya, yang rupanya tidak sedang berdoa atau tidak habis berdoa seorang diri. Kepada mereka ditanyakan identitas Guru dari Nazareth yang kemarin menimbulkan ‘kekepoan’ Herodes, yang rupanya dihantui oleh pembunuhan Yohanes yang dilakukannya. Disodorkanlah rumor yang beredar di masyarakat bahwa mereka melihat Yohanes Pembaptis yang telah bangkit. Ada juga nama Elia, nabi yang populer dengan intoleransinya kepada nabi-nabi Dewa Baal.

Akan tetapi, ketika Guru dari Nazareth meminta pendapat mereka sendiri mengenai identitas dirinya, Petrus mewakili murid-murid lainnya dan menegaskan bahwa sang Guru itu adalah Mesias. Anehnya, alih-alih mendapat pujian atas jawabannya itu, Petrus malah mendapat teguran. Teks bahasa Indonesianya memang hanya memakai kata ‘melarang’, tetapi dalam bahasa sononya ada nuansa menghardik sebagaimana di teks lain disebutkan Guru dari Nazareth menghardik iblis supaya keluar dari mental Petrus. Jawabannya mantul, tetapi isinya tak betul, karena konsep Mesias yang dimiliki Petrus dan teman-temannya itu sama dengan konsep Mesias yang jadi modal gosip dalam masyarakat.

Itu mengapa Guru dari Nazareth tak ingin hal itu diberitakan kepada orang lain dan malah kemudian sang Guru menjelaskan Mesias sebagaimana diperolehnya dari pergumulan doanya. Nah, di situlah rupanya perbedaan antara orang yang berdoa dan tak berdoa. Yang tak berdoa, mendasarkan gagasan rohaninya dari apa kata orang banyak. Yang berdoa, tentu saja memetiknya dari pergumulan doa pribadi, perjumpaan autentiknya dengan Allah yang bersemayam dalam hati yang tak terkontaminasi oleh kata orang-orang yang anonim, yang memiliki takaran kesuksesan hidup pada kejayaan manusiawi. Kebaruan hiduplah yang dibawa dari doa mereka yang bertekun dalam pergumulan perjumpaan pribadi dengan Allah.

Saya jadi ingat ketika murid-murid Guru dari Nazareth ini menyodorkan alternatif kepada Guru mereka kalau perlu memohonkan doa supaya orang-orang brengsek itu disambar petir saja. Ini tak jauh dari pengalaman Nabi Elia yang pada masanya masih menggunakan kekerasan dalam menghadapi para penyembah berhala. Barangkali dalam konteks jadul, kekerasan Nabi Elia itu masih bisa berterima. Konon untuk segala sesuatu ada waktunya. Guru dari Nazareth ini, karena relasi intimnya dengan Allah yang disebutnya Bapa, menyingkirkan opsi kekerasan itu dan malah melihat kemungkinan lain yang berkebalikan: menderita karena ditolak penguasa religius, tetapi kemudian ditampakkan kemuliaan Allah, yang mengalahkan aneka macam penderitaan dan kematian, termasuk gara-gara pandemi ini.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami tetap mampu mengarahkan kiblat hidup kami pada cinta-Mu semata. Amin.


JUMAT BIASA XXV A/2
25 September 2020

Pkh 3,1-11
Luk 9,18-22

Jumat Biasa XXV B/2 2018: Waktunya Nganu
Jumat Biasa XXV C/2 2016: Cari Slamet

Jumat Biasa XXV A/2 2014: Seperti Apa Roda Hidupmu?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s