Beragama Tanpa Ujian

Baru kemarin disinggung soal orang beragama yang arogan sedemikian rupa sehingga tak berkemampuan untuk bertobat, bacaan hari ini malah memberi contoh murid-murid Guru dari Nazareth yang tak kalah arogan. Ini persis seperti yang dibahas dalam bacaan sebelum kemarin: mereka ini benar-benar tak mengerti apa yang dimaksudkan dengan Mesias, dengan jalan kerendahan yang mesti ditempuhnya. Mereka malah berdebat siapa yang terbesar di antara mereka itu. All is vanity! Rasanya seperti mendengar berita terduga pelaku pelanggaran HAM diminta jadi pelindung pelaksanaan HAM. Wis sak karěpmu, Cah! Tak ada di dunia ini yang bisa melindungi pelaksanaan HAM seperti kalian…
Romo nih baper dibawa-bawa.
Gapapa, daripada ditinggal-tinggal nangis #halah.

Dalam bingkai cerita bacaan pertama, murid-murid Guru dari Nazareth ini terjerembab dalam ujian kehidupan. Mentang-mentang sang Guru begitu mumpuni, mereka mengira bahwa itu berarti orang-orang lain di luar mereka tidak boleh melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan Guru mereka atau tak boleh ikut-ikut seperti mereka. Apa gak sontoloyo tuh?😂 Padahal, itu baru ujian yang receh, belum soal konsekuensi penderitaan yang mesti ditanggung, yang belum juga mereka pahami.
Lha emangnya jadi murid itu ada ujiannya ya, Rom?
Nah, itulah. Saya sih maunya ya sekolah saja terus tanpa ujian. Wuenak, kan? 🤣

Problemnya, menjadi murid, menjadi umat beriman itu memang ada ujiannya, tetapi ujiannya tak terjadwal seperti di sekolah atau kampus. Seluruh medan kehidupan bisa jadi ujian, tetapi orang tak bisa main klaim bahwa ia sedang dicobai oleh Allah yang diimaninya. Perlu telaah lebih seksama karena tidak semua kesengsaraan atau penderitaan adalah cobaan dari Allah. Saya bahkan tak punya konsep bahwa Allah mencobai seseorang, kecuali jika kualitas hidupnya sekaliber nabi-nabi besar. Tapi bagaimana bisa mengatakan seseorang itu berkaliber nabi kalau dia belum mati ya?🤔 

Teks bacaan pertama menyajikan kisah Ayub yang memang bisa ditafsirkan sebagai contoh cobaan ilahi. Maka, terlepas dari apakah Anda percaya pada adanya cobaan ilahi, baiklah ditilik bagaimana karakter Ayub ini menghadapi penderitaan atau kesengsaraan hidupnya. Ayub meyakini bahwa Allah itu adil, tetapi kesengsaraan hidupnya menjadi skandal bagi teman-temannya. Kenapa? Karena dulu ada konsep bahwa penderitaan manusia adalah hukuman atas dosa-dosanya sendiri. Maka, susahlah diskusi Ayub dengan teman-temannya, wong mereka melihat hidup suci Ayub yang penuh keutamaan. Kalau hidup Ayub terlunta-lunta, berarti dia punya dosa, yang mungkin disembunyikannya sehingga tak tampak oleh orang lain.

Cobaan ilahi memang bisa jadi jalan keluar dilema itu. Akan tetapi, ya itu tadi, orang suci mana yang berani mengklaim dirinya layak dicobai oleh Allah yang mahabesar? Alih-alih ribet dengan cobaan ilahi, lihat saja sebagai ujian iman. Ayub tetap teguh dengan keyakinannya akan keadilan Allah dan sabar menanggung deritanya. Saya kira ini dua hal yang bisa dipetik sebagai bekal menghadapi absurditas hidup manusia. Anak kecil yang dijadikan Guru dari Nazareth sebagai pusat perhatian murid-muridnya merepresentasikan mereka yang menaruh kepercayaan mutlak kepada Allah, dan dengan demikian, tak ada tempat untuk memegahkan diri di hadapan yang lain.

Ya Allah, mohon rahmat kesabaran untuk perlahan-lahan membuka tabir misteri cinta-Mu dalam hidup kami. Amin.


SENIN BIASA XXVI A/2
28 September 2020

Ayb 1,6-22
Luk 9,46-50

Senin Biasa XXVI B/2 2018: Sakti Tenan
Senin Biasa XXVI C/2 2016: Kenapa Agama Arogan?
 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s