Manusia Pasar

Ini suara orang yang sejak lahir di dunia ini belum punya rumah sendiri, tapi itu bukan alasan kemunculan suaranya. Sepertinya pernah saya sampaikan juga, tapi entah di mana. Jauh sebelum pandemi, dan beberapa saat setelah pandemi, di daerah yang saya lalui untuk lari atau bersepeda, saya jumpai banyak tanah menganggur, lahan tidur nyenyak. Sebagian sudah ada papan petunjuk pemilik dan peruntukannya, sebagian lain tetap tanpa keterangan. Tentu saya bisa bertanya pada kelurahan atau dinas pertanahan, tetapi gak cucuk kalau infonya hanya saya pakai untuk menulis ini.

Jadi, anggap saja ini protes kecil seorang tunawisma yang tersinggung oleh mereka yang punya lahan tidur dan membiarkannya tidur nyenyak lebih dari tiga tahun: tidak disewakan, tidak dipinjamkan, tidak dihibahkan. Benar-benar lahan tidur. Lalu, saya teringat ada bagian dari ajaran Islam yang merujuk angka untuk membatasi hak kepemilikan tanah: tiga tahun saja. Memang, itu konteksnya ialah zaman hidup Nabi Muhammad, tetapi nilai dasarnya tetap berlaku sepanjang segala abad: owner tanah sejagad ini adalah Allah sendiri. Manusia hanya punya hak pakai. Alhasil, semakin lama membiarkan lahan tidur demi status kepemilikan, semakin memperlihatkan owner yang menginjak-injak keadilan karena tak sedikit orang yang bahkan untuk menumpang tidur saja masih kesulitan.

Teks bacaan hari ini melanjutkan teks minggu lalu, yang mengkritik keras manajemen orang kaya yang bodoh, yang menikmati kapitalisme dan menganggapnya sebagai upah kerja kerasnya dan mengira itulah alasannya untuk hepi-hepi dalam hidup ini. [Nota bene: pantas direnungkan, yang membuat orang jadi kaya bukanlah faktor kerja kerasnya, melainkan mekanisme jual beli pasar. Gampang membuktikannya: kuli pasar itu kerja keras tetapi tidak bisa kaya karena, antara lain, kerja kerasnya dihargai lebih kecil dari ‘kerja keras’ manajer perusahaan. Siapa atau apa yang menentukan bahwa kerja keras Einstein lebih berharga daripada kerja keras sukarelawan yang mati-matian menjaga ekosistem laut, hutan, dan lain-lainnya? Siapa atau apa yang menentukan bahwa kerja keras pemain sepak bola klub anu lebih tinggi harganya daripada kerja keras pemain sepak bola lainnya?]

Teks hari ini mengusulkan cara cerdas untuk mengelola harta milik: bukan dengan mengikuti mekanisme pasar, melainkan dengan setia pada nilai dasar yang tersirat dalam ajaran Islam yang tadi saya sebutkan. Hak pakai yang dimiliki manusia seyogyanya dimanfaatkan untuk membuat pundi-pundi yang bebas dari jeratan mekanisme pasar, apalagi jika mekanismenya tak sehat. “Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua!” “Di mana hatimu, di situ hartamu.”
Teks memang menyebut eksplisit soal sedekah, bahkan menjual harta, tetapi poinnya terletak pada peruntukannya: supaya harta itu memanifestasikan cinta Allah, bukan nista manusia. Nista manusia ada di pusaran pasar, ketika pribadi manusia diperlakukan sebagai komoditi. Manusia pasar ini riskan terhadap aneka cover-up stories yang sekarang sedang jadi buah bibir, entah karena leher, panci, senpi, polisi, yang ujung-ujungnya meragukan apakah orang bisa benar-benar hepi-hepi.

Anda dan saya punya kans menjadi manusia pasar. Ya itu tadi, begitu menempatkan diri sebagai komoditi, ketika motif perilaku semata diukur atau ditentukan oleh price tag.
Semoga semua makhluk berbahagia
. Amin.


HARI MINGGU BIASA XIX C/2
7 Agustus 2022

Keb 18,6-9
Ibr 11,1-2.8-19
Luk 12,32-48

Posting 2019: Teliti sebelum Beli
Posting 2016: Suka Miskin