Motif Khilaf

Sekarang saya semakin yakin lagi mengapa saya sangat malas berkhotbah dan lebih malas lagi dikhotbahi🤭. Tahukah Anda mengapa? Ini termasuk materi penyidikan yang tidak bisa saya bocorkan, wakakakakak…..
Tapi karena saya sudah menerima amplop coklat tebal [berisi berkas-berkas yang mesti saya isi], ya sudah deh saya kasih tau aja: karena khotbah biasanya ditempelkan pada nasihat moral, dan kalau sudah masuk situ, biasanya orang berhadapan dengan apa yang disebut sebagai kemunafikan. Kenapa? Karena yang dikhotbahkannya persis adalah hal yang tidak dihidupinya! Semacam gajah diblangkoni gitu…

Alhasil, khotbah senantiasa tak menarik minat, apalagi kalau tak disertai dengan tindakan yang sinkron. Dalam hal ini, agama adalah agen paling rentan jadi korban tameng kemunafikan, persis karena agama cenderung dikaitkan dengan moralitas. Saya pernah singgung ini dalam posting Agama Tak Menjamin Moral. Sejak dulu sampai sekarang pun, kelihatan jelas bahwa agama memang tak menjamin moral meskipun bisa jadi sumber moralitas.

Anda tidak membutuhkan drama politik kontemporer untuk menengarai hal itu. Di sana-sini dalam sejarah dunia, pasti ada saja orang yang dibunuh lantaran dianggap ‘tahu terlalu banyak’ dan pengetahuan itu merongrong status quo. Anda juga tahu bagaimana kecemburuan Kain terhadap Habel berujung pada kematian Habel, jauh hari sebelum Yesus dari Nazareth dibantai. Akan tetapi, mengenai motif sesungguhnya mengapa Kain membunuh Habel dan orang Yahudi menyingkirkan Yesus, God knows! Anda dan saya cuma bisa berasumsi, bahkan pelakunya sendiri bisa menyodorkan tameng: khilaf! Maaf ya, gak sengaja aku membunuhmu!

Tentu saja, Anda dan saya khilaf karena perilaku kita, yang kalau ditelusuri secara teliti jebulnya terhubung dengan kematian orang lain atau kerusakan alam, dan lain sebagainya. Ini benar-benar absurd: maksud baik jebulnya bisa mencederai orang lain. Dalam banyak kasus, mungkin Anda dan saya hanya bisa tutup mata, sekali lagi karena jika mata dibuka dan pengetahuan dibongkar, status quo terancam. Pada kenyataannya, jauh lebih banyak orang yang tidak ingin berubah, tidak ingin mengalami transformasi, tidak ingin meninggalkan zona nyamannya.

Maka, desakan Jokowi akan transparansi itu tidak lain adalah tuntutan untuk membuka mata dan membongkar status quo. Jika desakan itu dipenuhi, akan terlihatlah bahwa yang menjadi penjamin moralitas bukanlah agama, melainkan integritas hidup orang-orangnya (entah beragama atau tidak). Mungkin Anda masih ingat bagaimana setelah ’98 muncul desakan penghapusan peran dwifungsi TNI. Secara teoretis, doktrin itu bisa dihapus, tetapi di lapangan, tidak semudah itu, Marimar….

Perayaan Gereja Katolik hari ini menyodorkan pribadi yang integritasnya tidak perlu dipertanyakan dan malah secara dogmatis dinyatakan sebagai pribadi teladan karena jiwa dan raganya tak mengalami kontradiksi. Jiwanya memuliakan Tuhan dan badannya juga bersama jiwanya. Tidak ada kekhilafan: yang dilakukan raganya berasal dari jiwanya yang mulia; kata dan perbuatannya sinkron. Pribadi seperti ini tidak akan mengalami kesulitan memenuhi desakan Jokowi karena tak ada yang perlu ditutupi sehingga kemuliaan Allah itu terpancar dari totalitas hidupnya. Ini bukan perkara agama, melainkan perkara seberapa dalam orang terpaut pada concern terluhur yang ditunjuk oleh agama, seberapa jauh orang berkomitmen membela kemanusiaan.

Kembali ke awal, sudah sejak zaman jebot dikhotbahkan: harta, tahta, [dan mohon maaf saya tak membongkar stereotip ini] ‘wanita’ menjadi godaan kekal sehingga orang beragama pun bisa jadi tak lagi membela kemanusiaan. Yang dibutuhkan bukan lagi khotbah moral tentang tiga ‘ta’ itu, melainkan bagaimana transparansi yang didesakkan Jokowi itu dihidupi orang beriman.

Tuhan, mohon rahmat ketekunan untuk membangun integritas hidup kami di hadapan-Mu dan terutama di hadapan sesama. Amin.


HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA
(Minggu Biasa XX C/2)
14 Agustus 2022

Why 11,19a;12,1.3-6a.10ab
1Kor 15,20-26
Luk 1,39-56

Posting 2021: Takdir Orang Beriman
Posting 2020: Ndèrèk Langkung
Posting 2019: Belajar dari Jin Salib
Posting 2018: Ditinggal Malah Senang
Posting 2017: Maria adalah Kita
Posting 2016: Ngimpi Doa
Posting 2015
: Kavling Badan di Surga
Posting 2014: Tolong Doa’in Prabowo, Dong!