Belajar dari Jin Salib

Entah bagaimana, saya girang setelah belajar dari Ujian Akhir Semester kemarin, dan ini cocok dengan teks bacaan hari ini: sudah selayaknya orang bergirang hati jika berjumpa dengan mereka yang memungkinkannya membuka rasa, pikiran, dan kehendak untuk mengerti misteri keilahian. Memori saya sudah keropos sejak lama dan kemarin saya terpukaw pada respon seseorang terhadap soal Ujian Akhir Semester yang mengingatkan saya pada kata-kata Paulus: salib itu memang kebodohan (bagi orang Yunani yang akrab dengan filsafatnya) dan kehinaan (bagi orang Yahudi yang dijajah bangsa Romawi), tetapi baginya itu jadi (simbol) penderitaan hidup dan kebangkitan.

Biar tidak lupa, saya cuma mau numpang menaruh kata di sini: incommensurability. Yang menggumuli matematika tentu pernah mendengar istilah itu. Memang ini bukan konsumsi pembaca pada umumnya, tetapi itu penting: mengabaikan persoalan incommensurability bisa bikin komunikasi terganggu. Problem terbaru UAS jadi contoh yang baik, tapi sekali lagi, itu tak akan saya bahas di sini, biar saya tulis di paper saja ya.
Kembali ke tanggapan terhadap jin salib tadi, memang saya merasa diingatkan pada insight Paulus, dan untuk itu saya terpukaw. Akan tetapi, yang dibahas Ujian Akhir Semester itu jelas berbeda dari tanggapan yang membuat saya terpukaw.

Bedanya? Mari kembali ke matematika. Kalau Anda mesti mengurangi fraksi bin pecahan setengah dari seperlima, tentu Anda mesti menyamakan dulu penyebutnya, bukan? Penyebutnya bukan lagi dua atau lima, sehingga pembilangnya juga berubah. Betul, numeratornya berubah mengikuti denominatornya: sepuluh. Nah, dalam kasus UAS itu, pembilangnya memang sama (salib), tetapi penyebutnya berbeda. Alhasil, di luar ilmu matematika, orang jadi bapernikus atau mungkin warga baperian. Itu adalah akibat ketiadaan denominator alias common measure tadi. Yang dibahas UAS palang salib berpatung, penanggapnya membahas simbol salib. Beda dong, dan persis itulah yang disebut dengan incommensurability. Loh kok jebulnya dibahas ya.😂😂😂

Iya, tetapi yang saya mau bahas bukan incommensurabilitynya, melainkan follow-up dari insight tadi. Mungkinkah orang memaknai salib bukan sebagai orang Kristen, bukan sebagai orang Yahudi, bukan sebagai orang Romawi, bukan sebagai orang beragama anu? Rasa-rasanya tidak mungkin ya karena pemaknaan itu mesti menggunakan bahasa yang serba terbatas.
Akan tetapi, justru di situlah poinnya. Memang sebagai orang Katolik, saya tetap punya kategori Katolik untuk memahami hidup, tetapi bukan berarti saya hanya bisa memaknai salib berdasarkan conditionings yang sudah saya terima sejak kecil.

Untuk itulah, saya pun perlu belajar dari jin salib tadi. Artinya, saya perlu ngerti dong “jin” itu apa, dan karena itulah saya sampai ke laman situs kawan saya di tautan ini. Apakah dengan begitu saya mengingkari kekatolikan saya? Tidak perlu. Dari tautan itu malah saya kembali lagi ke apa yang disebut sebagai spiritual discernment alias pembedaan roh, dan tak perlu baper juga dengan atribut jin kafir, sebagaimana roh pun ada yang sifatnya baik dan ada juga yang jahat.

Hal yang sama sebetulnya bisa dilakukan oleh Anda yang non-Katolik: bahkan meskipun Anda benci patung setengah mati, Anda masih bisa memetik poin dari maksud visualisasi iman via patung, tanpa repot-repot jadi Katolik. Dengan begitu, semua orang beriman bisa melonjak kegirangan karena Allah, bukan karena tempurung agamanya sendiri dengan keyakinan naif cuma ada satu agama benar di muka bumi ini.
Masih ingat pelajaran matematika tadi, bukan? Pembilangnya bukan lagi agama A dan agama B, melainkan kebangsaan, yang bahkan bukan cuma kebangsaan Indonesia, melainkan juga kebangsaan manusia.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami mampu belajar tiada henti. Amin.


HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA
(Hari Minggu Biasa XX C/1)
18 Agustus 2019

Why 11,19;12,1.3-6.10
1Kor 15,20-26
Luk 1,39-56

Posting 2018: Ditinggal Malah Senang?
Posting 2017: Maria adalah Kita

Posting 2016: Ngimpi Doa

Posting 2015: Kavling Badan di Surga

Posting 2014: Tolong Doa’in Prabowo Dong

3 replies

  1. Ternyata lebih komprehensif ya, kl baca disini dibanding tulisan Romo di FB. Additional links really provide more platforms to comprehend better. The term of common measure has also been smartly applied. Gak guna ngamuk ama org yg, secara metafora, bahkan gak ngerti cara menghitung pembagian (secara manual) terkait pembilang penyebut tsb. Hasil akhir nya pasti gak nyambung dg nilai (kebenaran) universal. Dan dua paragraf closingnya ttg discernment roh & visualisasi iman itu jg pas sekaligus menohok bhw perbedaan gak bisa hny dinilai dr kacamata bersudut pandang sempit sesukanya. Kl baca2 bahasan2 ini di Twitter sih bisa bikin makin kesel Mo, ternyata pengikutnya bnyk yg secara buta membela mati2an. Ya begitulah kl pikiran jernih sudah ditempurungi🤭🙏

    Like

  2. Gak aah Mo, cuman suka baca aja sampai gak kuat mata, do or die gitu🤣 Apalagi hal2 supranatural or dark heh. Mo, di Katolik selain betzebul atau lucifer, macam2 jin kayak tautan di tulisan Rm itu ada dikenal jg kah di agama kita? Referensi link Mo kl ada ya. Thk u & have a blessed remaining Sunday.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s