Hari Gini Bela Negara?

Ketika berselancar mencari featured image, saya dapati foto dengan caption “Ajari bela negara sejak dini”. Masih lumayan sih karena subjek fotonya anak-anak membawa bendera merah putih. Coba Anda bayangkan kalau fotonya anak-anak membawa senjata, bahkan meskipun senjata mainan, tambah lagi “negara” diganti dengan “agama”. Mantaaaabs….

Akan tetapi, saya lebih sepakat dengan Cornel Simandjuntak yang mengajari anak-anak untuk membela yang benar ketika hak diserang pada kalimat pertama lagu Maju Tak Gentar. Di situ tak berlaku right or wrong is my country. Memang sih moto itu dipakai untuk menekankan semangat patriotisme, tetapi yang -isme-isme itu punya tendensi kuat jadi idol binti berhala. Padahal, para pejuang bangsa Indonesia mengorbankan nyawa bukan karena sebelumnya sudah ada negara yang harus dibela, bukan?

Saya sama sekali tidak hendak mendiskreditkan bela negara. Bela negara itu, sebagaimana bela agama, landasannya tak lain dan tak bukan ialah orientasi keadilan sosial. Maka, omong kosonglah doktrin bela negara tapi abai nilai keadilan sosial yang baru terwujud kalau sebagai bangsa orang mau berpartisipasi dalam persatuan karena keprihatian terhadap krisis kemanusiaan yang terjadi lantaran orang lebih sibuk dengan agama daripada relasi dengan Ketuhanan Yang Maha Esa itu.

Kemarin nongol pada dinding medsos saya penggalan nasihat dari UAS [Ujian Akhir Semester?] untuk umat yang bertanya mengapa setiap melihat salib hatinya menggigil. Video ini katanya viral, dan itu berarti jawaban ujian akhir semesternya juga viral, dan itu semakin menegaskan bahwa memang kita itu kêwowogên agama, alih-alih mohon hidayah-Nya. Dalam bahasa seorang guru besar dikatakan bahwa sekarang orang bergeser dari teologi kebangsaan menuju teologi keagamaan. Maksudnya, identitas agama nomor satu, urusan perjumpaan autentik dengan Allah, apalagi urusan kebangsaan, itu nantilah.

Sebetulnya lucu loh yang disampaikan UAS itu. Saya bisa saja berkhotbah dengan uraian seperti itu dan jemaat saya pun bisa menangkapnya sebagai candaan (lha Yesus itu sok-sok ya capek tengok kanan, sekali dua kali tengok kirilah). Jadi, no problemlah jika pergeseran dari teologi kebangsaan jadi teologi keagamaan tadi tidak dianggap sebagai masalah. Maka, menurut saya, ini bukan soal penistaan agama, melainkan penistaan kebangsaan, bahkan bisa jadi penistaan negara. Kalau persoalan semacam UAS ini diabaikan, itu berarti negara bodoh atau sengaja membiarkan teologi keagamaan ini dilangsungkan. Nah, siapa yang mau membela negara macam begini? Ya yang punya kepentingan besar dengan teologi keagamaan tadi.

Siapa sih pembela teologi keagamaan? Dalam kasus ujian akhir semester tadi: baik pemrasaran maupun penanggap yang baper. Kategori kuantitas memang tak bisa dicabut dari kepala orang waras. Maka, tak heranlah kalau orang yang kêwowogên agama tadi berteologi pun untuk mengabdi jumlah: jangan sampai umatku pindah agama, sebisa mungkin bikin tetangga pindah ke agamaku, dan semacamnya.
Saya kira, untuk bela negara sekarang ini, dibutuhkan pemuka yang orientasinya bukan lagi politik identitas agama, melainkan politik identitas kebangsaan.
Kalau pemuka agamanya picik karena tak belajar dari agama lain sehingga tahunya cuma agama sendiri, pengikutnya tentu ikut picik toh?

Tuhan, ajarilah kami untuk belajar dari cinta-Mu juga lewat agama-agama lain. Amin.


HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
(Sabtu Biasa XIX C/1)
17 Agustus 2019

Sir 10,1-8
1Ptr 2,13-17
Mat 22,15-21

Posting 2018: Berapa Koinmu?
Posting 2017: Semoga Cepat Gemuk
Posting 2016: Warga Negara Ganda

Posting 2015: Rombongan Tujuh Belasan

Posting 2014: Merdeka Brow!

3 replies

  1. Halo Romo

    Menggenai hasil UAS
    Sya punya pemahaman yg sya peroleh dari seorang yg baik dalam hidup rohaninya tapi sya lupa siapa dia dan kapan sya mendapatkannya (mungkinkah dari versodio.. sya juga ngga ingat benar.. maaf hehehe..)

    Seorang yg ahli dalam agama / pemuka agama (1), hendaklah dia MENAMBAH KESADARAN pengikutnya ttg beragama untuk mengambil nilai luhur nan mulia dlm beragama utk di refleksikan dalam kehidupannya, hasilnya maka pengikutnya akan merasa damai, bebas, bersukacita dan penuh cinta, dan bukannya pemuka agama (2) yg MENAMBAH KEYAKINAN (=semakin memaksakan keyakinan/literalisme berlebihan) yg menakut nakuti ttg akibat dosa ,neraka, janji masuk surga dan ada keselamatan kalo ini dan itu di lakukan, yg hasilnya akan mnjadikan pengikutnya masuk dalam fanatisme, merasa paling benar, ujung2nya ada permusuhan dan kebencian.

    Yg ke (2) ini nampaknya beragama tanpa logika, ada refleksi dari seorang atheis di medsos sya #halah.. ada orang bertanya pada pemuka agama mengapa ada bencana maka pemuka agama itu menjawab karena di tempat itu banyak orang berbuat maksiat.. trs jadinya kena azab deh.. lantas orang itu bertanya lagi mengapa ada bencana di tempat lain padahal orang 2 di tempat itu rajin beribadah lantas pemuka agama menjawab.. itu ujian., (jawaban yg sudah ada tersedia dari dulu ..hehehe)

    Salam dan MERDEKA..

    Like

    • Iya Bu, merdeka! Memang Indonesia ini jadi lahan subur untuk aneka aliran mengingat status mayoritas agama; maka memang baik didoakan supaya para pemuka agamanya menyadarkan orang beragama daripada memperkeras ideologi tertentu. Amin3… ini sekarang masih awal semester ya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s