Berapa Koinmu?

Sebelum ada kebebasan pers pasca 1998, orang mesti berhati-hati untuk mengatakan sesuatu. Maklum, konsekuensi politisnya bisa berujung jeruji atau bahkan nyawa. Akan tetapi, bahkan setelah ada undang-undang kebebasan pers, orang juga mesti berhati-hati mengatakan sesuatu karena pihak lain bisa melaporkan begini begitu dan konsekuensi politisnya juga bisa berujung jeruji, mungkin nyawa. Jadi, entah ada kebebasan pers atau tidak, orang mesti berhati-hati berkata-kata ya? Hahaha…. kok lé gampang mên bikin catatan.

Itu hanyalah konteks bacaan hari ini ketika orang-orang Farisi dan Herodian bersekongkol hendak melawan guru dari Nazareth. Mereka memaparkan dulu kualitas cool guru dari Nazareth itu: jujur, di jalan Allah, tak takut pada siapapun, tak cari muka, omong blak-blakan membongkar kemunafikan. Itu adalah gambaran yang berkebalikan dengan mereka yang tak bisa omong blak-blakan dan jadi tidak jelas apakah A memang maksudnya A atau B atau C. Tak mengherankan, mereka membuat introduksi tak jelas macam itu sebelum menyampaikan jebakan.

Jebakannya ialah supaya guru dari Nazareth itu mengatakan ‘boleh’ atau ‘tidak’ sehingga dia bisa diperkarakan entah oleh kelompok Farisi atau Herodian. Keren, bukan? Pada situasi masyarakat tertindas yang tak bisa bicara terang-terangan ‘ya’ atau ‘tidak’, mereka mendesak guru dari Nazareth itu supaya bicara lugas ‘ya’ atau ‘tidak’: membayar pajak kepada kaisar. Problemnya bukan soal mesti membayar pajak atau tidak (itu jelas sudah), melainkan soal membayar pajak kepada Kaisar dengan uang ‘najis’. 

Mari perhatikan gambar dan tulisan pada uang ‘najis’ itu. Gambar Kaisar Tiberius. Tulisannya, tahu sendiri kan, karena kekaisaran Romawi itu mengilahikan kaisar mereka, ada kata ‘div’ yang merupakan kependekan dari ‘divinus’ dan huruf ‘f’ itu singkatan dari ‘filius’ yang berarti anak. Maksudnya adalah Tiberius kaisar ilahi anak dari Kaisar Augustus (yang juga ilahi). Di belakangnya ada gelar pontif(ex) maxim(us) [imam agung yang tertinggi, begitulah] dengan gambar putri yang merepresentasikan damai, yang barangkali juga adalah representasi Livia istri Kaisar Augustus alias emak Tiberius.

Kenapa guru itu minta lawan bicaranya memperhatikan gambar dan tulisan pada koin itu? Karena mereka itu tahu betul perintah pertama dalam hukum Taurat: jangan membuat gambar atau patung yang membuatnya jadi idolatri. Israel cuma punya satu Allah dan satu Allah itulah yang disembah. Apa yang dibuat Tiberius? Dia memeteraikan gambar dirinya di atas koin dan itu berarti hendak menyatakan daulatnya di dunia pemakai koin itu, termasuk dalam ranah religius dengan gelar pontifex maximus maupun klaim ilahinya. Itulah gambaran penguasa dunia yang diingatkan guru dari Nazareth. Penguasa dunia macam begini mengondisikan orang dihargai sejauh menghasilkan uang, yang kerap kali jadi bentuk penindasan juga.

Kalau Tiberus meletakkan gambarnya pada koin, Allah meletakkan gambar-Nya pada manusia. Guru dari Nazareth tidak mengkhawatirkan dunia koin Tiberius, tetapi dunia manusia yang jadi gambaran Allah. Artinya, pun dalam dunia keras yang didominasi uang ala Tiberius ini, rasa-rasanya orang mesti mengekspresikan manusia sebagai gambaran Allah. Menghargai pribadi yang merdeka, yang tak diukur dengan seberapa banyak ‘koin Tiberius’ dimilikinya.

Tuhan, mohon rahmat untuk merealisasikan manusia merdeka di hadapan-Mu. Amin.


HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
(Jumat Biasa XIX B/2)
17 Agustus 2018

Sir 10,1-8
1Ptr 2,13-17
Mat 22,15-21

Posting 2017: Semoga Cepat Gemuk
Posting 2016: Warga Negara Ganda

Posting 2015: Rombongan Tujuh Belasan

Posting 2014: Merdeka Brow!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s