Inkubator

Jika membaca teks naratif hari ini, Anda akan tahu beberapa hal ini (saya tambahi bumbu dari ahli Kitab Suci). Pertama, Maria dan Yusuf sudah bertunangan. Tunangan itu dalam tradisi hukum Yahudi ya artinya sudah jadi suami dan istri, bahkan meskipun masa pingitan tunangan itu bisa berlangsung setahun, sebelum mereka hidup bersama. Kenapa setahun? Ya hitung-hitung supaya pasangan ini lebih dewasa sedikitlah. Maklum, mereka ini belum boleh bikin SIM, baru 13 tahun dan 16/17 tahun. Selain itu, masa setahun itu juga baik toh untuk dua keluarga saling mengenal, siapa tahu ada problem berat sehingga sebaiknya sebelum suami-istri ini punya keturunan, lebih baik tak usah diteruskan ke tahap hidup bersama. Selama setahun itu juga, selingkuh bakal dianggap sebagai perzinahan, dan tunangan itu hanya dapat dibubarkan oleh kematian atau perceraian.

Kedua, dalam masa tunangan itu, jebulnya Maria hamil. Anda tahu dari ayat 18 bahwa itu akibat kerjaan Roh Kudus. Mengapa kok narator ini menuturkan kisah orang hamil akibat kerjaan Roh Kudus ya? Bukankah umumnya yang namanya kelahiran manusia itu terjadi karena sang suami mendatangi istrinya untuk aktivitas prokreasi?
Hmm… ya itu cara kita berpikir sekarang, karena kita punya konsep orang tua. Dalam kultur Semitik dulu, tidak dikenal istilah orang tua seperti sekarang yang merujuk pada pasutri. Anak itu ya asalnya dari laki-laki. Perempuan gak nyumbang apa-apa selain perutnya sebagai inkubator. Dalam kultur patriarkal, itu kelihatan misalnya dari ungkapan ‘ibu dari anak-anaknya pak anu’ untuk menunjukkan bahwa jagoannya si laki-laki. Di Kitab Suci juga ada (ibu dari anak-anak Zebedeus).
Selain itu, barangkali ada hal lain yang Anda lupakan dari kultur Semitik itu: bahwa kalau dibilang ‘anak dari Zebedeus’ atau ‘anak dari Zeus’, itu bukan soal bahwa Zebedeus atau Zeuslah yang membrojolkan anaknya, melainkan bahwa anak itu menyerupai bapaknya. Keserupaan ini bukan soal yang eksternal atau fisik, melainkan soal nilai, paradigma hidup yang digumuli oleh si bapak. Artinya, sang anak menjadi anak karena ia mencerminkan karakter nilai yang dihidupi bapaknya.
Nah, di situ mungkin Anda bisa menjawab mengapa penulis Kitab Suci ini menyampaikan narasi Yusuf dalam teks bacaan hari ini: karena penulisnya sudah punya keyakinan bahwa  si anak yang dikandung dalam rahim Maria itu kelak akan menyerupai Bapaknya, yang bukan lagi si Yusuf, melainkan sosok Allah yang disebutnya Bapa. Melihat anak ini berarti melihat si Bapa itu, karena sifat-sifat Bapa ‘nurun’ ke si anak. Begitulah kiranya latar belakang teologis penulis narasi ini.

Ketiga, Yusuf mengetahui kehamilan Maria, tetapi semula tak mengerti bahwa kehamilan Maria itu akibat kerjaan Roh Kudus. Akibatnya, begitu ia tahu bahwa istrinya mengandung dari Roh Kudus, Yusuf malah bingung. Ini bukan perkara curiga bahwa Maria selingkuh, melainkan perkara dia mesti gimana. Diterangkan bahwa Yusuf ini tulus hatinya; tulus hati di situ maksudnya dikaios #halah bahwa dia adalah sosok yang berupaya sinkron dengan kehendak Allah dalam hukum-Nya (bisa berarti adil dan benar juga). Padahal, menurut hukum Taurat, kasus Maria ini bisa berakibat fatal kalau dia menyatakan secara publik bahwa anak yang dikandung Maria itu bukan hasil kerjaannya. Akan tetapi, menceraikan diam-diam itu gimana maksudnya, jal? Meskipun belum zamannya medsos, bukankah itu akan ketahuan publik juga? Malah gak cocok dengan sebutan ‘tulus hati’ tadi.
Rupanya, tak segampang pelajaran sekolah Minggu, terjemahan ‘menceraikan’ itu memang menyesatkan. Saya juga tak tahu terjemahan persisnya sih tapi nuansanya kurang lebih begini: dalam keadaan tak tahu hukum Allah mana yang mesti dilakukannya, Yusuf membiarkan Maria bebas. Artinya, Yusuf tidak woro-woro bahwa yang dikandung Maria itu bukan anaknya, apalagi nambah runyam dengan menerangkan bahwa itu kerjaan Roh Kudus; akan tetapi, Yusuf juga tak tahu perannya sendiri di samping Maria selain ‘jadi pemain ketoprak’.

Dalam keadaan itulah akhirnya malaikat menyampaikan pesan kepada Yusuf. Jangan takut, Suf, tetaplah dalam track pertunangan; nanti kamulah yang memberi anak itu nama: Yesus, Sang Imanuel. Nama Yesus itu sebetulnya nama pasaran, tetapi artinya berhubungan dengan keselamatan yang didatangkan Mesias. Menilik bacaan-bacaan Minggu Adven sebelumnya, gambaran Mesias ini bermacam-macam seturut idealisasi kelompok yang menantikannya. Akan tetapi, jelaslah belakangan bahwa ternyata Yesus ini tidak klop dengan semua gambaran yang ada (baik kaum nasionalis, kaum saleh, kapitalis religius, atau penghayat fuga mundi). Yesus hendak jadi penyelamat sejauh dosa bersinggasana, entah dalam ranah politik, ekonomi, agama, atau budaya.

Di situlah Yusuf jadi seperti Maria sebagai inkubator: menanamkan sifat-sifat Allah, nilai dan paradigma ilahi tentang hidup duniawi supaya orang-orang yang dipercayakan kepadanya punya keserupaan dengan Allah sendiri. Susah gak sih?

Tuhan, mohon rahmat ketaatan supaya hidup kami tertambat pada kehendak-Mu. Amin.


HARI MINGGU ADVEN IV A
18 Desember 2022

Yes 7,10-14
Rm 1,1-7

Mat 1,18-24

Posting 2019: Bunga Melotot
Posting 2016
: Bunga Tidur