Manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang. Begitulah refleksi seorang penulis atas hidup seseorang yang berupaya mengembalikan orang-orang sebangsanya kepada penghayatan agama yang klop alias konsisten dengan kepercayaan bahwa Allah mencintai ciptaan-Nya. Bisa jadi, menurut penulis ini, Allah lebih sering bertepuk sebelah tangan daripada keplok-keplok bergembira bahwa manusia lebih menyukai terang daripada kegelapan.
Ironisnya, kata-kata reflektif tadi bisa dipakai oleh siapa pun, baik mereka yang menyukai kegelapan maupun terang. Itu tak beda jauh dari kata ‘Tuhan’ dan kawan-kawannya. Orang bisa omong apa saja tentangnya untuk membela kepentingan apa saja, yang bisa jadi saling bertentangan. Masih ingat, kan, dulu ada partai Allah dan partai setan? Siapa wasitnya? Manusia? Kok isa manusia menentukan mana Allah dan mana setan?
Lha itu kok Romo menyodorkan pedoman membedakan roh baik dan roh jahat, hayo? Bukankah Romo itu manusia, kok isa bikin pedoman membedakan yang baik dari yang jahat, dan nanti ujung-ujungnya yang berasal dari Allah dan yang bukan dari Allah?
Betul, tetapi coba simak baik-baik tautan ini: tak ada indikasi di situ bahwa roh baik diidentikkan dengan partai Allah dan roh jahat dengan partai setan. Di situ tidak disiratkan bahwa Allah itu seperti objek lain yang bisa dikotakkan dalam agama, partai, atau ideologi tertentu. Konsekuensinya, roh di situ berarti gerakan afektif atau gerakan jiwa, dan ini bukan perkara hitam putih; mengandaikan manusia mawas diri terhadap tendensi dan kerapuhannya sendiri.
Itu mengapa, begitu orang bawa-bawa nama Tuhan (dkk) di forum publik, alih-alih menyimak, saya lebih cepat mengingat “Bukan setiap orang yang berseru kepadaku ‘Tuhan, Tuhan!’ akan masuk Kerajaan Allah.” Yang penting adalah apa yang ditindakkannya, apakah sejalan dengan kehendak Allah atau tidak. Tentu, persoalannya balik lagi: tahu dari mana yang ini kehendak Allah dan yang itu bukan kehendak Allah?
Ya tahu dari Sumedanglah!
Kalau sudah sampai pada tataran tindakan, evaluasinya tidak lagi bisa diukur dengan tafsir eksklusif agama tertentu, tetapi mesti merujuk pada kemaslahatan sebanyak mungkin makhluk, supaya jadi terang dan tak bersembunyi dalam kegelapan. Nah, evaluasi tindakan itu sudah lahir jauh hari sebelum kategori agama modern muncul melalui budaya masyarakat tertentu. Itulah yang disebut moralitas: baik buruknya tindakan ditentukan oleh bagaimana masyarakat memahami nilai yang tertuang dalam adat kebiasaan dan tradisi, baik tertulis maupun tak tertulis.
Lha, bukankah moralitas itu relatif? Betul, yang di tempat anu berbuat gini dibilang gitu, di tempat lain berbuat gitu dibilang gini. Di sana makan sambil berdiri dianggap tidak sopan, di sini standing party jadi ungkapan kegembiraan bersama. Itu mengapa diperlukan kajian yang lebih komprehensif: mengapa berbeda, nilai apa yang diperjuangkan, bagaimana dilakukan, dan seterusnya, supaya kemaslahatan tercapai. Nama ilmunya adalah etika.
Etika inilah yang semestinya dihormati bahkan meskipun nilainya bisa jadi berasal dari moralitas agama. Maka, etika melandasi aneka ilmu yang berkaitan dengan tindakan manusia. Ilmu matematika, fisika, kimia, tak butuh etika. Mau dua tambah dua hasilnya tiga ya silakan saja, tinggal sesuaikan semestanya. Mau jatuh ya jatuh aja ikuti hukum gravitasi, tak usah peduli gimana jatuhnya.
Nah, di situlah runyamnya. Manusia itu jebulnya punya chemistry dalam tubuhnya. Kalau cuma patuh pada hukum gravitasi atau kinerja sel, mestinya hidup manusia itu gampang-gampang aja. Males ya rebahan, demen ya ambil terus-terusan, gak suka ya tinggal buang aja, dan seterusnya. Kalau saja semesta ini miliknya, itu semua tak jadi masalah.
Problemnya, ternyata ada manusia lain di semesta ini! Baiklah kita rumuskan suatu etika yang bisa menjamin kemaslahatan semakin banyak orang. Hasilnya? Demokrasi.
Apakah demokrasi itu menjamin kemaslahatan? Ya, hanya saja bersyarat: secara substansial semua orang atau semakin banyak orang dilibatkan atau terlibat. Kalau tidak, itu hanya akan jadi perkara, misalnya, 48% atau 58%, dan setelahnya yang kere ya tetap kere, yang usahanya menggurita bisa menancapkan tentakelnya lebih luas lagi: dan itu dengan menyerukan iman, Tuhan, agama, rakyat, dan semacamnya. Kebodohan bergerilya dalam gelap, dan segelintir kepintaran merayap-rayap menggapai tempat terhormat, melumat mereka yang melarat.
Jika demokrasi betul di jalan terang, tak ada namanya etika dikepret dan hukum diselepet. Otherwise, gelap.
Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan supaya hidup kami abadi semata karena cinta-Mu. Amin.
HARI MINGGU PRAPASKA IV B/2
Minggu Laetare
10 Maret 2024
2Taw 36,14-16.19-23
Ef 2,4-10
Yoh 3,14-21
Posting 2021: Hidup Kekal
Posting 2018: Hidup Yang Dihadiahkan
Posting 2015: Allah Yang Rentan
