Paman Datang?

Published by

on

Setiap kehidupan akan berakhir. Itu jelas, dan akhir kehidupan bisa memberi makna kepada setiap hari baru. Akan tetapi, bagi yang tidak mengenal Tuhan (bagaimanapun istilah atau sebutannya), kematian merupakan penyangkalan final terhadap hidup. Semua usaha atau tindakan orang akhirnya tersapu waktu. Kutipan mengenai pokok ini sudah saya sodorkan dalam posting kemarin: sejarah akan menggilas mereka yang tidak punya nama besar dalam hukum rimba. Nama besar itu merujuk pada siapa saja yang upayanya merebut kemenangan kental dengan pola kekuasaan atau kekerasan.

Bagi mereka yang beragama tetapi memelihara kenaifan, ungkapan di awal tadi dipahami dalam kerangka “Kerajaan Allah akan segera datang” seperti menanti seorang paman yang akan datang dari kota (atau desa?) untuk pilkadal. Omongannya cenderung suci-suci, baik-baik, muluk-muluk, dan royal juga untuk bagi-bagi sembako atau duit seperlunya untuk menyokong status quo.

Bagi orang beriman, akhir zaman bin kiamat lebih dimengerti sebagai pengakhiran zaman hukum rimba; rumusnya bukan “Paman akan datang”, melainkan “Paman sudah dekat”. Artinya, yang sudah dekat itu bisa kita gapai, kita raih, kita jangkau, dan seterusnya. Alhasil, juga dalam masa sulit, situasi berat, keadaan hancur, “Sabda Allah” itu dapat dipetik, dihidupi, diperjuangkan; ya itu: moral dan etika. Itu mengapa “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanku tak akan berlalu.” Kalau begitu, yang dekat-dekat dengan Sabda Allah, tidak akan kehilangan jiwanya bahkan jika megathrust terjadi detik ini juga.

Tuhan, mohon rahmat keberanian untuk berkanjang dalam Sabda Cinta-Mu dan memberikan makna bagi hidup receh kami. Amin. 


JUMAT BIASA XXXIV B/2
29 November 2024

Why 20,1-4.11;21,2
Luk 21,29-33

Posting 2020: What to do?
Posting 2019: Pay it backward
Posting 2017: Tirani Agama
Posting 2016: Guru Terbungkam

Posting 2015: Agama Skizofrenik
Posting 2014: Passa Questo Mondo

Previous Post
Next Post