What to do?

Kalau segenap pikiran dan perasaan Anda disibukkan, didominasi, apalagi dibuat guncang oleh perkara hari kiamat, ada apa setelah kematian, adakah hidup setelah kematian, dan sejenisnya, barangkali itu malah pertanda bahwa Anda tidak melihat kehidupan sebelum kematian. Itu juga mungkin karena Anda tidak mengerti mau ngapain dengan hidup Anda. Pokoknya bernafas, makan, tidur, kerja, makan lagi, tidur lagi, gajian, liburan, hangout, minum-minum, terus saja begitu sampai nafas berhenti, sampai hidup biologis ini fade away, kehilangan signifikansinya. Sebodo‘ amat dengan apa yang terjadi setelah nafas berhenti. 

Nah, jadi malah mirip ya yang mikirin kiamat banget-banget dan gak mikirin kiamat sama sekali? Sama-sama rabun terhadap keindahan hidup yang sekarang ini dan di sini karena mementingkan salah satu (dunia sebelum kiamat atau dunia setelah kiamat) dan mengabaikan yang lain. Celakanya, yang lain itu justru adalah yang menyambungkan dua dunia tadi. Apakah itu? Dunia makna. Nah, kalau Anda punya waktu senggang dan mau pelan-pelan membaca aplikasi analisis struktural terhadap cerpen Robohnya Surau Kami, Anda mendapat contoh bagaimana membangun dunia makna dari sebuah karya sastra.

Saya kira begitulah pesan penutup wacana apokaliptik yang disodorkan teks bacaan hari ini. Orang perlu melihat tanda-tanda zaman dalam perspektif harapan yang dasarnya ialah keteguhan pada Sabda Allah, yang menggusah ketakutan dan keputusasaan. Tiada harapan dan ketekunan pada Sabda Allah (yang takkan berlalu, apa pun manifestasinya, dengan label mana pun) tanpa dunia makna yang dipetik orang beriman.

Tantangan untuk menangkap tanda-tanda zaman ialah tendensi untuk menuntut penjelasan lebih daripada pemahaman, kejelasan lebih daripada kesepahaman. Contoh, maukah Anda bersusah payah memahami seluk beluk ilmu ekonomi, ilmu sejarah, ilmu teologi, ilmu politik dan sebagainya? Saya meragukan kemauan Anda, karena saya meragukan kemauan saya sendiri: sudahlah ilmu ekonomi bilang gimana kalau kasusnya begini, wis lah intiné apa kowé omong bab depresi, depresiasi, apresiasi, kompresi, lan mbuh apa manèh, what do you want me to do, kita harus apa? Sampai pada batas tertentu, orang cenderung ogah memahami persoalan dan terima jadi hasil pembahasannya. Akibatnya, dalam ranah religius, para pemberi nasihat moral mendapat lahannya: kamu harus gini, gak boleh gitu, jadi orang tuh kayak si anu, dan semacamnya.

Saya termasuk yang tidak mencari lahan seperti itu. Saya pernah dititipi pesan sponsor untuk mengingatkan jemaat untuk tertib lalu lintas.😂 Lha apa ya tugas saya ini jadi polisi gitu?🤭 Bisnis saya ialah menyerukan ulang apa yang disodorkan teks bacaan hari ini, yang ujung-ujungnya kalau mesti diletakkan dalam kalimat perintah: love and do whatever you want! Persoalannya bukan pada kalimat perintah kedua, melainkan kalimat perintah pertama. Untuk menguji apakah orang sedang berurusan dengan love atau yang lain, dia mesti jujur pada dirinya sendiri: sedang memaknai yang fana demi kekekalan jiwa, atau sedang menambatkan diri pada yang comes and goes.

Tuhan, mohon rahmat keteguhan untuk menambatkan hidup kami pada Sabda-Mu dan menemukan maknanya dalam hidup receh kami. Amin. 


JUMAT BIASA XXXIV A/2
27 November 2020

Why 20,1-4.11;21,2
Luk 21,29-33

Jumat Biasa XXXIV C/2 2016: Guru Terbungkam
Jumat Biasa XXXIV A/2 2014: Passa Questo Mondo

1 reply

  1. Mns sekalipun sdh banyak kerjaan, kdg msh sering jg bertanya pd dirinya, apkh Tuhan mengendalikn peristiwa, lalu ikut2 menyusun teka teki potongan apokaliptik. Dn kdg kl lagi kurang kerjaan, bertanya pd yg lain di luar dirinya, apkh kepercayaan kepdNya membawa kebenaran atau pembenaran. Dlm film Divergent, mns membatasi mns dlm kategori. The selfless. The peaceful. The honest. The brave. The intelligent. Di luar itu mns tdk masuk kategori. Lalu muncul Divergent, yg mampu melampaui dg memiliki lebih sampai semua kategori, yg mampu mendobrak dinding keterpisahan dn menjaga kelangsungan hdp mns, wl dicoba dihambat mns kategori. Lalu sy teringat penjelasan Rm ttg “Janda Miskin”, dn mencobai memaknai ulang sang janda yg memberi (sy anggap) dg pengorbanan. Tp lalu sang janda itu menjelaskan, bhw dia memberi dg ceria🤣 sy jd terkesima, lalu ingat penjelasan Rm ttg perspektif/sudut pandang. Bs jd sang janda ternyata memberi dengan hati ceria, dg penuh kemerdekaan. Dia berhasil ‘keluar dari kemiskinannya’, dlm Divergent berhasil keluar dr kemiskinan kategori, dari kungkungan kategori, yg suka memberi label dn mematahkan semangat. Wah..
    Sdkt intermezo, di Roma 8:22, sb kt tau, bhw sampai sekarang segala makhluk sama2 mengeluh dn sama2 merasakan sakit bersalin. Jd ternyata 1 dunia, krn keanekaragaman ditarik dr 1 mns adam lama (dn dlm iman kristiani menjd 1 Adam baru) asiiik

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s