Tauhid

Published by

on

Kalender Liturgi Gereja Katolik hari ini memestakan Andreas, salah satu pribadi yang dipilih Guru dari Nazareth sebagai ring satunya. Apakah ring satu ini perkara penting, bergantung pada dari sudut mana kita memandangnya. Kalau Anda memakai kaca mata kuda, ring satu itu Anda lihat penting tanpa melihat kaitannya dengan ringring lainnya dan bahkan Anda bisa beranggapan bahwa ring satu lebih penting dari ring lainnya. Jika Anda memakai kaca mata yang area pandangnya lebih luas, bisa jadi Anda melihat pentingnya masing-masing objek pandangan Anda tanpa membuat hirarki ring mana yang lebih penting. Pada akhirnya, jika harus membuat hirarki kepentingan, Anda perlu mengingat prinsip tauhid: semuanya terhubung pada Tuhan YME dan Dialah yang semestinya menjadi tolok ukur kepentingan aneka ring yang diciptakan manusia. Di sini, Anda bisa tersesat jika melihat gambar telunjuk ke atas sebagai tanda angka satu belaka. Itu adalah satunya semua hal dalam rengkuhan Dia yang kita asumsikan ada di atas.

Narasi teks bacaan hari ini bisa dibaca dengan kerangka tauhid tadi, tentu dengan pengandaian bahwa Guru dari Nazareth itu terhubung secara istimewa dengan Tuhan YME. Diceritakan bahwa Sang Guru ini melihat dua bersaudara yang sedang menebarkan jala, lalu ia memanggil mereka dan mereka segera pergi meninggalkan jala, perahu, keluarga mereka untuk mengikuti Sang Guru ini. Apakah jala, perahu, keluarga itu sedemikian tidak penting sehingga mereka segera meninggalkannya?

Pasti bukan begitu cara melihatnya: semua itu penting, tetapi rupanya menjadi relatif terhadap sosok yang mengajak mereka join. Tambah lagi, ini adalah kisah panggilan, bukan prosedur memilih guru. Dengan begitu, inisiatif tidak datang dari murid, melainkan dari guru; dan guru itulah yang melihat bagaimana Andreas dan saudara serta teman-temannya menjalani hidup mereka. Kata melihat dalam teks Kitab Suci ini sebaiknya tidak semata dibatasi pada kata kerja yang melibatkan biji mata dan kelopaknya. Itu mesti dimengerti lebih kompleks: biji mata dalam kelopaknya beserta seluruh sistem saraf yang terhubung dengan otak dan hati orang. Dengan kata lain, jika Sang Guru melihat, itu artinya mengenal sampai pada kedalaman makna hidup ini sendiri.

Itu berarti, sosok Andreas ini berharga di mata Sang Guru, tetapi juga sebaliknya: Andreas dan koleganya itu mengaitkan kepentingan jala dan lain-lainnya dengan sosok Guru itu. Tak ada hal lain yang mengatasi kepentingan sosok Guru itu; dan sampai di sini, setiap orang bisa berbeda pandangan karena masing-masing orang punya titik berangkat dan sudut pandangnya sendiri. Itu jugalah nasib kekristenan. Sudah sekian lama orang Kristen melihat sosok Guru ini dengan filter dari tokoh lain yang kerap dianggap sebagai pendiri agama Kristen: Paulus.

Betul sih Paulus ini membantu, tapi kan tidak berarti semua-muanya mesti bergantung pada tafsiran Paulus (yang toh juga ditafsirkan oleh orang lain lagi dan lagi dan lagi)! Barangkali cerita dalam posting Kucing Anjing Kelinci bisa membantu Anda menangkap maksud saya: Andreas tidak terima kunyahan jeruk, ia mengunyahnya sendiri. Tanpa kunyahan mandiri itu, orang cuma bisa ngotot dengan aneka pilihan dan prasangka. Celakanya, karena kenaifan, orang mengira bahwa prasangkanya itu adalah segala-galanya mengenai hidup ini, dan abai terhadap prinsip tauhid, yang bisa berujung pada semacam etika ndhasmu, yang penting aku menang dan kau pecundang.

Ini saya kutipkan doa seseorang yang menyiratkan bagaimana ia berupaya menempatkan Tuhan di atas segala-galanya:
“Tuhan, jadikanlah aku teman yang baik bagi semua orang, biarlah pribadiku memberi keyakinan kepada mereka yang menderita dan mengeluh. Bagi mereka yang mencari terang jauh dari-Mu, bagi mereka yang ingin memulai tetapi tidak tahu bagaimana caranya, bagi mereka yang ingin curhat tetapi tidak merasa mampu. Tuhan, tolonglah aku, agar aku tidak melewatinya dengan wajah acuh tak acuh, dengan hati yang tertutup, dengan langkah yang tergesa-gesa. Tuhan, tolonglah aku untuk segera memperhatikan mereka yang ada di sampingku, mereka yang khawatir dan bingung, mereka yang menderita tanpa menunjukkannya, mereka yang merasa terisolasi tanpa menginginkannya. Tuhan, berikanlah aku kepekaan yang tahu bagaimana caranya bertemu dengan hati. Tuhan, bebaskanlah aku dari sikap mementingkan diri sendiri, agar aku dapat melayani-Mu, agar aku dapat mengasihi-Mu, agar aku dapat mendengarkan-Mu, pada setiap saudara yang Engkau pertemukan denganku” (Vinsent de Paul)
Amin.


PESTA S. ANDREAS RASUL
(Sabtu Biasa XXXIV B/2)
30 November 2024

Rm 10,9-18
Mat 4,18-22

Posting 2019: False Belief
Posting 2018: Aparatur Sipil tuhaN
Posting 2017: Takut Bangkit, Takut Jatuh

Posting 2016: Rujuk Nasional, Ehm…
 

Posting 2015: Saudara Seiman

Previous Post
Next Post