Daripada dituduh korupsi padahal sudah transparan dan tak ada sepeser pun uang masuk untuk kepentingan pribadi, ya mending korupsi saja sekalian.” Kata korupsi bisa diganti dengan kata kerja lain. Saya dulu pernah menggantinya dengan kata ‘pacaran’ [tapi jangan bilang siapa-siapa ya] dan dampaknya jadi dahsyat buat saya, bikin turun 10 kilogram! Bayangkan, jika saya pacaran lima kali saja saat itu, pasti saya mesti ikut ditimbang di posyandu karena underweight.
Betul, jika dasar pengambilan keputusan semata merujuk pada apa kata orang, entah demi menghindari atau memenuhinya, dampaknya bisa bikin runyam. Dalam permainan sepak bola, kadang komentator mengungkap frase ‘kesalahan yang tidak perlu’. Memang rupanya ada kesalahan yang diperlukan juga ya, yaitu kesalahan yang dipakai sebagai strategi atau taktik untuk memenangkan pertandingan: mengulur waktu, memutus serangan balik, dan seterusnya.
Akan tetapi, pedoman seperti itu tidaklah sama dengan pedoman untuk mengambil keputusan mengenai hidup seseorang. Dalam hal ini, kesalahan yang diperlukan justru bukan yang disengaja. Kesalahan yang disengaja, dalam bahasa Jawa, namanya njarak. Jika orang hobi njarak untuk hidupnya, tidak ada orang lain yang dapat membantu dalam hidupnya; tinggal pasrahkan saja pada semesta.
Teks bacaan hari ini menyebut kata ‘sesat’ dan ‘hilang’. Kalau diurutkan dengan perspektif yang tadi saya singgung, mungkin bisa dikatakan bahwa mereka yang hobi menyesatkan diri, lama-lama hilang juga, entah hilang ingatan atau hilang nyawanya. Dalam kasus seperti ini, bahkan Allah tampaknya bakal lebih bergembira kalau orang yang hobi njarak ini sadar bahwa njarak hidupnya sendiri tidak menguntungkan bahkan dirinya sendiri.
Akan tetapi, bagaimana mungkin orang yang secara sadar melakukan kesalahan itu menyadari bahwa ia sedang njarak dan njarak itu tak ada gunanya?
Entahlah, saya tidak tahu jawabannya. Ya itu tadi, tinggal pasrah saja pada semesta yang mungkin bisa bikin orang sadar bahwa di atas langit masih ada langit. Dalam tradisi Jawa ada sih ritual ruwatan, tapi ya itu tadi, kalau orang betulan njarak, mana mau dia diruwat? Tinggal kuat-kuatan aja.
Yes, selama orang menganggap hidup ini adalah pertandingan satu sama lain, ia tak akan segan-segan njarak. Selama orang tak bisa menerima bahwa hidup ini adalah anugerah, orang akan jadi kutu loncat kuasa dan mencari kekuasaan yang semakin memudahkannya untuk njarak. Biar bagaimanapun, kekuasaan itu memang nikmat. Iya ga’, Mul?
Tuhan, mohon rahmat kerendahhatian untuk mengakui kerapuhan kami dan ketekunan untuk mengandalkan kekuatan cinta-Mu. Amin.
SELASA ADVEN II
10 Desember 2024
Posting 2019: Pastor Bodoh
Posting 2018: Pertandingan Agama
Posting 2017: Banjir Kehendak Tuhan
Posting 2016: Lost Contact
Posting 2014: Tobatlah, Pak! Mau Sampai Kapan?

2 responses to “Njarak”
Rom, yang njarak-njarak ini harus dilawan apa dibiarkan sih?
Soalnya kalau dibiarkan kok takutnya menguasai dunia, kalau dilawan saya bingung bagaimana. Terima kasih Rom, berkah dalem.
LikeLike
Tentu dilawan, Kakak, tetapi target perlawanannya bukan orangnya, melainkan tindakannya. Kalau melawan orangnya ya nanti kembali ke hukum rimba. Kalau melawan tindakannya, kita memberi kesaksian dengan tindakan yang kontra, selebihnya, let God do the rest.
LikeLiked by 1 person