Pertandingan Agama

Dalam sebuah rombongan ziarah atau wisata bisa terjadi pemimpin rombongan mesti mencari satu dua anggota yang memisahkan diri dari kelompok. Andaikan pada saat pemimpin rombongan mencari satu dua anggota (A dan B) yang tersesat itu, C dan D tak sabar menanti dan cari jalan sendiri terlepas dari E-Z, apa yang kiranya dirasakan pemimpin rombongan sekembalinya ke tempat berkumpul bersama A dan B untuk mengetahui bahwa giliran C dan D raib? Bisa jadi pada lehernya terasa tumbuh eceng tanpa uji coba dulu di kali mambu, eaaaaa. Akan tetapi, entah dia gondok atau tidak, apakah yang akan dibuatnya? Meninggalkan C dan D, atau meminta anggota rombongan lainnya tetap tinggal di tempat berkumpul dan kemudian pergi mencari C dan D? Bagaimana jika pemimpin rombongan itu adalah Anda?

Jawaban bisa beragam, bahkan termasuk jika subjeknya adalah Allah sendiri: bagaimana jika Allah itu jadi pemimpin rombongan ziarah? Apakah dia akan meninggalkan rombongan dan pergi mencari C dan D, dengan risiko nanti giliran E dan F yang tersesat?

Meskipun demikian, teks bacaan hari ini sebetulnya sudah menginsinuasikan jawaban yang jelas: Allah takkan membiarkan satu orang pun hilang tersesat. Problemnya tidak terletak pada Allah yang senantiasa mencari, melainkan pada sebagian besar anggota rombongan yang ‘tidak tersesat’, good boys dan good girls. Loh, wong namanya good kok malah jadi problem toh, Rom? Bukannya yang jadi problem itu yang bad?

Itulah. Saya sangat ragu bahwa Allah itu penggemar good boys dan good girls karena kategori good itu dari sudut pandang tertentu juga bisa jadi bad. Kok isa?
Mari kembali lagi ke pemimpin rombongan tadi. Andaikanlah ia berpesan,”Anda diam di sini dulu ya, saya akan cari teman-teman Anda dulu. Jangan memisahkan diri dari rombongan sampai saya kembali ke sini.”
Siapa yang akan Anda kategorikan sebagai good boys dan good girls? Yang mematuhi pesan pemimpin rombongan tadi dan berdiam diri sabar menantikan kedatangannya kembali? Atau mereka yang diam-diam memisahkan diri dari rombongan dan menguntit pemimpin rombongan tadi? Atau, bukankah bisa saja seluruh anggota rombongan, entah bagaimana caranya, berpartisipasi mencari anggota yang tersesat dengan tetap menjaga rantai kontak dengan pemimpin rombongan?

Orang beragama bisa jadi tanpa sadar membuat konstruksi sosial semata berdasarkan kaidah moral pesan pemimpin rombongan tadi, suatu pesan yang memang baik, tetapi bukan satu-satunya yang baik. Akibatnya, alih-alih menekankan pesan pokok teks hari ini (bahwa Allah takkan membiarkan umat-Nya tersesat), orang beragama malah sibuk membangun konstruksi penyekat dengan menyibukkan diri dengan konsep kebenaran dan politik identitas atau konsekuensi lainnya (bahwa ada yang sesat, salah, terkutuk, terhukum). Orang beragama, apa pun itu, semestinya membangun kepercayaan diri atau harga diri yang tinggi bukan dengan pertandingan agama, melainkan dengan perbandingan agama yang sehat untuk menemukan jalan bersama supaya tidak hilang dari rengkuhan Allah Yang Maharahim itu.

Konon, kalau harga diri orang rendah, juga dalam hal agama, yang artinya hidup keagamaannya dangkal, ia malah paling rentan jadi suporter radikalisme agama. Semoga semakin banyak orang yang jadi suporter Allah, yang tak menghendaki umat beragama tersesat. Amin.


SELASA ADVEN II
11 Desember 2018

Yes 40,1-11
Mat 18,12-14

Posting 2017: Banjir Kehendak Tuhan
Posting 2016: Lost Contact

Posting 2014: Tobatlah, Pak! Mau Sampai Kapan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s