Gampangan Salin Tempel

Manakah yang lebih mudah, mengatakan “Engkau dicintai Tuhan” atau membebaskan orang dari stres berat? Mana yang lebih gampang dibuat, mengatakan “Dosamu diampuni Tuhan” atau menyembuhkan orang sakit lumpuh? Bukankah yang pertama itu yang lebih mudah dilakukan, yang juga dilakukan oleh orang-orang beragama?

Saya, misalnya, sebagai imam Katolik, lebih mudah di bilik pengakuan dosa mengatakan “melepaskan engkau dari dosa” [meskipun untuk bisa mengatakannya saya butuh pendidikan lebih dari sepuluh tahun] daripada melepaskan orang dari jerat perselingkuhan. Kenapa? Karena, asal secara formal syarat niat tobat sudah terpenuhi, pengampunan memang bisa diberikan. Selain itu, siapa sih yang bisa melakukan verifikasi apakah dosa orang sudah diampuni atau belum? Tinggal believe it or not saja, bukan? Akan tetapi, itulah yang dibuat Guru dari Nazareth. Sesuatu yang gampang, mengatakan bahwa dosa orang lumpuh sudah diampuni.

Jebulnya, ungkapan itu menyinggung pemuka agama. Kenapa? Karena itu adalah ranah kuasa pemuka agama untuk mengatakannya, dan Guru dari Nazareth bukanlah pemuka agama! Bisa dibayangkan, mereka merasa terusik, semacam wilayah kekuasaan mereka itu direbut oleh Guru dari Nazareth. Merekalah yang punya otoritas untuk menyatakan seseorang sudah tahir atau belum, sudah terlepas dari kutukan Allah akibat dosa atau belum. Tolok ukurnya apa? Ya kalau mereka sudah sembuh. Kalau belum, mereka tak bisa mengatakan bahwa orang lumpuh sudah dilepaskan dari hukuman Allah. Pemuka agama itu tak punya kemampuan untuk menyembuhkan orang lumpuh, dan karenanya tak bisa mengatakan bahwa orang yang najis diampuni dosanya.

Beberapa orang memang dikaruniai kemampuan khusus untuk penyembuhan. Saya ingat ada anak SMA (ya’é) yang datang ke seorang tabib dengan wajah mringis kesakitan dan dua tangannya memakai kruk untuk membantunya berjalan secara tertatih-tatih. Saya lihat dari jarak beberapa meter di dalam ruang praktik anak ini cuma diomel-omelin tabib dan kakinya dipegang sebentar lalu disuruh jalan mondar-mandir. Tak ada dua menit dia keluar dari ruang praktik itu dan di luar saya tanya kok kruknya tidak dipakai dan dia cuma mringis tetapi mringisnya ini mringis kegirangan. Dia sembuh total.
Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa sang tabib tidak membisikkan atau berteriak kepada anak SMA itu bahwa dosanya sudah diampuni! Dia melakukan hal yang tidak semua orang mampu melakukannya, tetapi ia tidak mendeklarasikan soal pengampunan dosa.

Guru dari Nazareth melakukan keduanya, yang gampang (yang tak terverifikasi dengan ilmu manusia) dan yang susah (yang terverifikasi oleh indra manusia). Tindakan ini menjadi kritik keras atas paham saat itu yang menempatkan bencana, sakit, petaka sebagai bentuk hukuman atau azab Allah karena dosa manusia. Ngeri kan, orang sakit divonis najis, dan orang beragama mesti menjauhi orang najis, ha njuk piyé orang najis itu bisa sembuh?
Tindakan Guru dari Nazareth itu juga mengatakan bahwa setiap orang dipanggil untuk pertobatan karena imannya.
Dosa adalah soal salah target dan pengampunannya berarti soal mengembalikan orang kepada targetnya; dan persis itulah susahnya. Tak mudah orang jadi dirinya sendiri karena tarik ulur kepentingan politik agama. Lebih mudah bermain hoaks. Tak mudah bikin artikel dari pemikiran sendiri. Lebih gampang salin tempel, eaaaaa….

Tuhan, mohon rahmat keberanian untuk menjadi anak-anak-Mu. Amin.


SENIN ADVEN II
10 Desember 2018

Yes 35,1-10
Luk 5,17-26

Posting 2017: Dimakan Sendiri
Posting 2016: Mengampuni Konsep
 
Posting 2015: Pernah Lumpuh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s