Dèdèl-Duèl

Published by

on

Apa jadinya jika Allah itu sungguh-sungguh emmanuel? Ini pengalaman yang bisa saya bagikan untuk menjawab pertanyaan itu. Sewaktu saya belajar bahasa Italia, selama sebulan saya tinggal bersama seratusan imam dan suster. Kebanyakan dari mereka berasal dari Afrika. Kami dibagi dalam sekian kelompok untuk melakukan pekerjaan karyawan setiap hari: membersihkan ruangan, tempat makan, alat-alat makan, dapur, dan seterusnya. Satu kelompok beranggotakan sekitar 10 orang, tetapi pada kenyataannya, di kelompok saya hanya empat anggota yang melakukan pekerjaan itu. Tentu saja, saya tidak mengeluh, tetapi penasaran mengapa enam anggota kelompok itu sangat jarang muncul di tempat kami biasa melakukan pekerjaan rumah tangga itu. Saya tidak paham sampai suatu dinamika kelompok memberi saya informasi berharga.

Dalam sesi itu, fasilitator berdiri di tengah dan meminta satu sukarelawan untuk membantunya. Ada satu imam dengan pakaian rapi berbaju roman collar berdiri di samping fasilitator. Tiba-tiba fasilitator itu rebah di lantai dan bertanya pada imam itu apakah ia mau membantunya. Dijawab positif “Ya, saya mau bantu. Apa yang harus saya buat?”
Fasilitator itu memintanya untuk mendekat padanya. Betul, imam itu melangkahkan kaki mendekati fasilitator yang terbaring di lantai. Si fasilitator memintanya kembali dengan pertanyaan yang sama dan untuk kali kedua dijawab secara positif dan, kalau saya tidak salah tangkap, fasilitator itu meminta imam itu supaya telinganya lebih dekat lagi dengan dirinya. Sang imam membungkukkan badannya dan sang fasilitator meminta kembali supaya imam itu berada di sampingnya seperti posisi fasilitator saat itu.

Saya saat itu belum fasih, sekarang juga tidak fasih fasih amat sih, bahasa Italia, tetapi saya yakin saya tidak salah paham bahwa fasilitator itu menginginkan sang imam mengambil posisi seperti posisi sang fasilitator yang minta bantuan. Hanya dalam posisi yang kurang lebih sama dengan posisi fasilitator, orang lain bisa paham konteks si fasilitator sendiri.
Akan tetapi, selama setengah jam permintaan itu diulang-ulang dan imam itu tak pernah merebahkan dirinya di lantai di samping fasilitator. Paling banter, ia berlutut setengah kaki ala gaya foto tim sepak bola barisan depan.

Saya sungguh kepo dan saya tanya seorang suster dari Afrika, yang bukan orang Afrika; dan jawabannya itu membuat saya mengerti mengapa dinamika kelompok yang dipandu fasilitator itu tak mencapai tujuannya dan mengapa banyak anggota kelompok saya tak ikut bersih-bersih ruang makan dan alat-alat makan. Jawab suster itu, dalam kultur para imam anggota kelompok kami itu, laki-laki, apalagi berstatus tinggi seperti imam atau raja, tidak boleh menyentuh tanah, rebah, dan sejenisnya. Tidak boleh mengerjakan pekerjaan perempuan (nah… ada jenisnya ya pekerjaan laki-laki dan perempuan?).

Tentu, emmanuel tidak menghapus kultur, kesenian, tradisi sosial, tetapi mentransformasinya. Jika Allah itu memang emmanuel, Ia merasuk dalam kultur dan mengeluarkan suara-suara yang mengundang mereka yang hidup di dalamnya untuk semakin terintegrasi dengan ciptaan, bukannya disconnected. Tidak berhenti di situ, emmanuel itu juga menarik orang-orang yang percaya untuk bergerak kembali menuju sangkan paraning dumadi alias azas dan dasar hidupnya.

Jadi, apa yang terjadi jika Allah itu sungguh emmanuel? Tidak ada yang namanya bredel, tetapi justru yang potensial dibredel itu dijadikan cermin. Barangkali karena banyaknya ‘buruk muka cermin dibelah’, tidak banyak orang menerima bahwa Allah itu emmanuel; Allah tetaplah Allah yang tak terjangkau, yang bisa dijangkau hanya Allah yang termanifestasikan dalam kekuasaan. Tak mengherankan, banyak orang berlomba-lomba masuk dalam lingkaran kekuasaan dan mengenyahkan siapa saja yang potensial mengganggunya. Ujung-ujungnya: saling bredel. Tak beda jauh dari hukum rimba, bukan?

Tuhan, mohon rahmat kekuatan untuk menyatakan emmanuel dalam hidup kami. Amin.


HARI RAYA NATAL (SIANG)
Rabu, 25 Desember 2024

Yes 52,7-10
Ibr 1,1-6
Yoh 1,1-18

Posting 2022: Superman Lewat
Posting 2020: Too good to be true
Posting 2019: Makhluk Rugos

Posting 2017: Selamat Ngobrol
Posting 2016: Ribet Natalan

Previous Post
Next Post