Ketika jari jemari saya masih fasih memainkan violin, ada satu masalah besar dalam kelompok orkes karena tidak ada yang memainkan viola, yang kami kenal sebagai biola alto. Saya pemain violin 1, yang tingkat kesulitannya pada umumnya lebih tinggi daripada violin 2. Tidak ada rekan, baik dari grup violin 1 maupun violin 2, yang mau mengambil biola alto. Dalam kondisi itu, saya menentukan nasib saya. Saya tahu bahwa teman-teman ingin mengambil peran terbaik menurut mereka. Saya pikir, baik buruknya orkes tidak ditentukan oleh kemampuan saya memainkan violin 1, tetapi oleh harmoni seluruh anggota orkes di bawah kendali pelatih dan konduktor. Di sini, saya tak kenal argumen pelatih atau konduktor otoriter. Memang semua mesti tunduk pada sosok itu, suka atau tidak suka, tanpa perlu ribet dengan demokrasi.
Hanya saja, saya masih punya posisi tawar ketika senior meminta saya latihan bersama kelompok pemain biola alto, karena setelah saya baca partiturnya, saya sungguh tidak memerlukan waktu latihan sebanyak yang mereka minta. Saya memilih berlatih sendiri dan kemudian bergabung saat rehearsal. Mungkin terkesan arogan: saya memainkan partitur dengan baik tanpa berlama-lama berlatih bersama. Di situ, saya tidak merasa kecewa seakan-akan saya terbuang dari grup violin 1, yang dianggap lebih hebat, tetapi juga tidak merasa lebih hebat dari teman lain yang membutuhkan waktu lebih lama dari saya untuk rehearsal.
Tentu ini juga akan terkesan arogan jika saya sejajarkan dengan apa yang dibuat Guru dari Nazareth karena jelas beliau bukan pemain biola alto! Akan tetapi, pengalaman pribadi itu adalah resonansi dari teks bacaan utama hari ini. Narasi yang disampaikan dalam teks hari ini seperti miniatur Kabar Gembira: Yesus itu menanggung kenajisan orang kusta dan jawabannya ialah ia sendiri memang kemudian tersingkir, bahkan sampai titik terendah pengucilan dari masyarakat.
Apakah itu artinya pengikut Yesus mesti mengambil penderitaan supaya nasibnya seperti Yesus yang dikucilkan dan jadi bulan-bulanan kepentingan politik pragmatis?
Sekali lagi, pasti bukan begitu nalarnya. Mengikuti Yesus tidaklah asal cari mati atau susah, tetapi menangkap agenda besarnya dan menanggung konsekuensi pilihan-pilihannya, yang bisa jadi adalah penderitaan. Narasi hari ini menyiratkan bahwa Yesus tidak menginginkan sistem yang diskriminatif juga terhadap orang sakit.
Kusta pada zaman Yesus barangkali lebih cocok dimengerti sebagai penyakit semacam HIV-AIDS, yang mengandung stigma sosial atau mungkin stigma religius tertentu. Maka dari itu, ketika Yesus hendak membongkar stigma itu, ia sendiri terkena stigma, dan ujungnya ialah jadi musuh bersama dari siapa saja yang gemar status quo. Orang yang bertahan dengan perkara seperti ini biasanya juga mengikuti dinamika seperti disodorkan dalam akhir teks: di tengah-tengah sanjungan dan harapan orang banyak yang berbondong-bondong mengalir kepadanya, ia menarik diri ke tempat sunyi untuk berdoa, bukan untuk bergaya cawe-cawe.
Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan untuk melucuti diskriminasi yang bercokol dalam cara kami melihat, merasa, dan menilai. Amin.
HARI BIASA SETELAH PENAMPAKAN TUHAN
Jumat, 10 Januari 2025
Posting 2021: Takut Tenggelam
Posting 2020: Double Life
Posting 2019: Kesepian
Posting 2016: Tukang Cukur Tuhan
Posting 2015: Temuilah Dokter Cinta
